SAMUEL

SAMUEL
BAB 101



"Menikahlah Dam,"ucap Adelian spontan.


Bruk...


Sadam mengebrak meja dengan kuat ketika mama nya mengatakan itu semua orang seketika terlonjak kaget begitu pun Gisel yang sedang makan seketika mengarahkan pandangan nya ke ruang tamu.


"Sayang lanjutkan makan mu,"ucap Adelia tersenyum kepada Gisel.


Gadis itu hanya diam lalu mengangguk dan menuruti perkataan Adelia, Gisel terlihat seperti anak kecil yang hanya bisa patuh atas apa yang di sampaikan Adelia kepada nya.


"Aku tidak mau,"jawab Sadam dengan suara penolakan yang dia tekan keras.


"Sadam dengarkan mom, Gisel itu masih muda sayang, apa kau mau menghancurkan masa depan seorang gadis polos seperti Gisel hah? Setidaknya jika kau menikahi nya tidak untuk mencintai nya, kasihani Gisel. Cinta bisa tumbuh dengan berjalan nya waktu,"ucap Mama Sadam dengan tatapan tajam nya kepada Sadam.


"Aku tidak peduli, lagi pula dia tidak mempermasalah kan nya,"ujar Sadam melirik Gisel yang makan sedangkan mereka semua tengah berdebat.


Adelia terlihat menghembuskan nafas nya panjang, Sadam adalah tipe anak yang penurut tapi dari dulu pria itu tidak akan menurut tentang pendamping hidup nya ada kala saat Adelia berusaha mengenalkan gadis pilihan nya tapi gadis itu di buat Sadam menangis dan jera tidak mau bertemu Sadam lagi.


"Dimana hati mu? Dengan gampang nya kau berkata tidak peduli, dia masih berumur 21 tahun dan kau pria tua setidaknya bersyukur Sadam, mungkin ini sudah jalan takdir, nikahi Gisel! Apa yang akan orang tua nya katakan mengetahui anak nya seperti ini,"ucap Adelia dengan suara bergetar.


Dia seorang ibu dia juga seorang wanita, anak nya masih muda yaitu Rara, Adelia tidak dapat membayangkan bagaimana jika hal itu terjadi pada putri nya, hidup nya pasti penuh dengan bayang-bayang perkataan dan penilain orang lain.


Tidak ada jawaban dari Sadam, pria itu kembali mendudukan badan nya di sofa. Sadam mengusap wajah nya kasar menatap dengan tatapan tajam, dia berpikir. Dia memang sudah tua dan patut menikah, tapi tidak dengan cara seperti ini, dia ingin mencari gadis tipe ideal dan gadis yang dia cintai, hingga lamunan Sadam pecah mendengar suara tangisan adik nya.


Hiks.. hiks..


"Rara kau kenapa?"tanya Sadam dengan panik berusaha mendekat kepada adik nya itu.


Dengan kasar Rara menghempaskan tangan Sadam, gadis itu memberikan tatapan sedih dan kecewa kepada kakak yang selalu dia banggakan di depan teman nya itu.


"Aku kira kau bisa menjadi sosok seorang pria yang baik di sini kak, kau tahu aku selalu membangakan mu di depan teman-teman ku,"


"Aku tidak pernah mengenal sosok papa sama sekali, hanya kau satu-satu nya,"


"Tapi kali ini aku tidak bisa lagi membagakan mu, dari awal aku memang tidak menyukai kak Gisel yang bertingkah lemot dan kekanakan,"


"Tapi tidak tentang hal ini kak, semua yang di katakan mama benar. Apa kau tidak memiliki hati? Apa hati mu sekeras batu,"lirih gadis itu dengan isakan tangis nya.


Sadam seketika terdiam, adik nya itu selalu kadang ribut dan akur dengan nya. Mereka sangat mirip dalam hal sifat dan kepintaraan, dan tipe seseorang yang mereka sukai juga mungkin sama, contoh nya saja saat Sadam tidak suka melihat tingkah Gisel yang lemot begitupun Rara.


Tapi kali ini konsep nya berbeda, jelas di sini Rara bisa berpikir lebih dewasa dari pada Sadam.


"Kau memiliki aku kak, aku juga seorang gadis. Bagaimana jika aku berada di posisi kak Gisel, dan pria itu malah menolak seperti mu ini,"gumam Rara.


"Aku akan menikahi nya, kita akan ke rumah nya hari ini. Tapi aku akan pergi dahulu sebentar,"jawab Sadam berlalu dari sana, sebelum itu dia mengecup kening adik nya yang masih menangis.


Sungguh Adelia tidak tega melihat Rara seperti itu, masalah nya di sini Gisel bukan wanita bebas yang bisa di pakai dan di buang. Dia juga memiliki keluarga.


"Kak,"lirih Rara menatap Sadam yang pergi menjauh.


Sadam melajukan mobil nya dia tampak kalut atas keputusan nya, pria itu melajukan mobil nya menuju markas aeros berusaha mengalihkan pikiran nya dengan mencari solusi di sana.


Tidak lama mobil Sadam menempuh jarak markas aeros yang ada di pusat ibu kota itu, pria itu keluar dia melihat jam. Padahal aeros masih di liburkan hanya beberapa yang mengurus untuk melaksanakan sistem baru dari Samuel.


Drap.. drap..


Langkah kaki Sadam berhenti di ruang informan, pria itu melihat beberapa teman nya dan juga Arbian yang sudah ada di sana.


"Sadam, kau di sini? Tunggu aku bisa jelaskan, tadi malam aku ada urusan maka nya aku baru mengurus nya hari ini,"ucap Arbian dengan panik.


"Bohong tuh Sadam, Dia main sama j@lang ke klub,"teriak wakil tim pengejar pria pendek yang selalu jadi patner Arbian itu.


"Diam kau cebol!"teriak Arbian kesal.


Sadam tidak mempedulikan sama sekali dia memilih duduk di sofa, Arbian memang tahu kalau Sadam sangat jarang berbicara seperti Kevin dan Sam tapi diam pria itu kini terlihat berbeda.


"Kau kenapa?"tanya Arbian heran.


"Apa kau pernah bermain dengan wanita yang belum pernah melakukan nya sama sekali,"tanya Sadam to the point.


Arbian menaikan alis nya pria itu seketika terkekah salah mengartikan maksud dari Sadam.


"Apa kau ingin melakukan nya juga? Wah sejak kapan kau sudah dewasa, aku tidak pernah sih. Tapi katanya gadis di segel lebih jos,"tawa Arbian menepuk bahu Sadam.


"Tapi jika ada pun, itu para gadis yang di lelang di black market kau tahu, mereka sangat butuh uang banyak. Tapi jika itu terjadi karena sebuah kesalahan mungkin gadis itu akan menjadi gil@. Kau tahu bukan? Bagi seorang gadis itu adalah mahkota terbesar mereka, sedangkan pria juga sudah pernah melakukan nya pun tidak akan di anggap atau di cap buruk di masyarakat,"


"Kadang jadi wanita memang keras bro, perbedaan gender sangat di larang keras. Jika saat di sekolah guru pria tidak di larang merokok, lalu guru wanita merokok kau bayangkan saja pasti guru itu akan di cap buruk. Karena memang inti nya wanita harus selalu terlihat sempurna, memang dunia seperti mendekriminasi wanita,"jawab Arbian panjang lebar.


"Tumben kau bijak,"jawab Sadam melirik pria itu dengan senyum mengejek.


"Si@l begini juga aku pria pintar,"kesal Arbian.


'Aku bisa menolak menikahi Gisel bukan jika orang tua nya menuntut uang besar itu,'