SAMUEL

SAMUEL
BAB 36



"Kenapa kau ada di sini?"tanya Kevin menarik tangan sang tunangan keluar dari restoran tersebut.


Agalista terus mendengus kesal karena Kevin menarik paksa diri nya keluar, saat Dia juga ingin membela Lenka agar Dia bisa mencuri perhatian Samuel dan bisa berteman dengan nya.


Bruk..


Kevin menghempaskan tangan Agalista, dan menatap tajam wanita cantik itu, Dia menubruk badan Agalista ke mobil dan menghimpit nya lalu mencengkram wajah gadis itu.


"Sebaiknya jangan buat masalah lagi, Aku di sini seperti orang tua yang mengurusi anak nya yang nakal kau tahu,"kesal Kevin melepaskan cengkraman nta pada wajah Agalista.


Cengkraman itu memang tidak kuat, Kevin hanya mengarahkan wajah wanita itu agar menatap diri nya, Agalista menendang aset Kevin dengan kuat.


Bruk..


"Akh gadis b0doh, apa yang kau lakukan,"teriak Kevin memegang bagian bawah sel*ngkang*n nya.


"Siapa suruh kau menghimpit ku, sakit apa kau tahu,"kesal Agalista bersiap kembali berlari ke dalam restoran itu.


Tapi Kevin lebih dulu menahan tangan gadis itu sambil masih merasakan sakit pada bagian bawah nya, pria itu mengeram kesal lalu menarik Agalista ke dalam mobil.


"Kita pulang, kau menghancurkan acara Bos,"kesal Kevin menghempaskan tubuh tunangan nya itu ke kursi penumpang dengan kuat.


"Tidak Kevin, Aku mau bertemu Lenka, Kevinnnn,"teriak Agalista mengebrak kaca pintu mobil dengan teriakan nya.


Pria itu tidak menghiraukan sama sekali permintaan Agalista, lalu menelpon seseorang agar datang ke restoran untuk mengurus sisa nya.


Drt.. drt..


"Ada apa wakil ketua,"ujar Sadam menerima panggilan itu.


"Sadam pergi temui Big Bos, Aku akan pulang mengurus sesuatu, sebaiknya cepat,"ucap Kevin mematikan ponsel itu dan melajukan mobil nya.


Sedangkan Agalista hanya pasrah duduk di kursi belakang penumpang dengan tatapan cemberut nya kepada Kevin, pria itu mengusap wajah nya kasar memikirkan agar wanita itu tidak mempersulit hidup nya.


'Dad, kau sudah m*ti kenapa kau meninggalkan tunangan yang mempersulit hidup ku,' batin Kevin kesal melirik Agalista yang berbaring di kursi penumpang itu.


Di sisi lain, di restoran itu Lenka dan Samuel duduk dengan santai saling berbincang, tanpa menghiraukan tanda tanya besar di otak teman-teman Lenka.


"Jangan datang seperti tadi, kau tahu teman-teman ku terkejut,"ketus Lenka kepada Samuel yang tampak santai hanya fokus kepada wajah Lenka.


"Teman-teman kenalkan ini pacarku Samuel, jangan tegang Dia orang baik,"ucap Lenka tersenyum berusaha mencairkan suasana yang menegang akibat ulah Anastasya.


Di sini hanya Anastasya dan Justine saja yang berulah, teman-teman Lenka yang lain hanya mengikuti alur seperti seekor penjilat, tapi itu tidak membuat Lenka merasa risih karena selagi teman-teman nya itu tidak menghina Gisel yang baik kepada nya.


"Ah salam kenal,"


Ucap mereka semua menyapa Samuel yang hanya memasang wajah datar kepada teman-teman Lenka itu.


"Hmm,"


Bayangkan hanya sebuah gumanan yang di jawab pria itu, Dia hanya merindukan gadis nya yang tidak Dia temui beberapa jam itu.


"Kalian belum memesan makanan? Pesan lah sepuasnya, karena Aku yang akan mentraktir kalian semua,"ujar Samuel kepada teman-teman Lenka.


Semua orang tampak riuh dengan senang, bukan mereka tidak sanggup membayar tapi harga makanan di sini memang mahal jika ingin pun mereka hanya akan makan sekali seminggu untuk menghemat uang yang di tf orang tua mereka.


"Wah Lenka apa pacar mu sangat kaya, terimakasih Sam,"ucap salah satu teman Lenka yang lain.


Samuel mengeluarkan dompet nya lalu memberikan black card itu kepada Lenka, semua orang tercengang tanda tidak percaya, sedangkan Lenka mendengus kesal melihat pacar nya itu yang hanya cari perhatian.


Ucap Samuel, tidak ada jawaban dari Lenka gadis itu hanya memutar bola nya malas.


"Apa masih kurang? Satu lagi,"ucap Samuel.


Tatapan kagum di tujukan kepada Samuel, memang benar uang adalah segala nya di sini, sedangkan Anastasya dan Justine yang ketar ketir menerima masalah tampak kesal terdiam menatap Lenka.


"Kau pria miskin, coba katakan kepada medusa mu, bagaimana cara uang berkuasa,"seringai Samuel dengan ejekan nya.


Deg...


Bagai di tusuk jarum beribu-ribu perkataan Samuel sangat mengena bagi Anastasya, Dia yang padahal bilang sendiri tadi, tapi apa ini ketos itu lebih kaya dari diri nya, dan Dia anak dari William, tunggu tidak itu saja pacar nya juga sangat kaya, siapa Dia? Ini sangat gila.


'S*alan Dia mempermalukan ku di depan semua orang,' batin Anastasya yang melirik teman-teman nya yang tampak tertawa mengejek kepada nya.


"Sayang, apa kau tahu persamaan cinta ku dengan kartu ini?"tanya Samuel menunjuk black card yang Dia pegang.


"Maksudmu?"tanya Lenka dengan tatapan bingung nya.


"Sama-sama tidak terbatas,"ucap Samuel tersenyum kecil.


Kyaa...


Semua orang tampak berteriak histeris mendengar gombalan yang menurut Lenka sangat-sangat cringe itu di telinga nya, dengan melongo Lenka hampir saja ingin mual karena Samuel yang jarang mengombal.


"Orang kaya gombalan nya beda yah,"


"Iya gombalan nya saja berkelas,"


"Benar ga Anastasya, pacar mu apa juga memiliki itu?"


"Hei jangan bertanya, Dia baru saja di pecat bukan haha,"


Begitulah ricuh nya tawa yang mengejek Anastasya, membuat gadis itu mengebrak meja dan menarik Justine pergi dari sana, semakin lama Dia di sana, semakin puas Samuel menghina diri nya, dengan tatapan tajam Anastasya meninggalkan restoran takut-takut keluarga nya akan di bantai Samuel.


'Sebenarnya siapa pacar Lenka?' batin Anastasya.


"Lah kok pergi,"ucap Gisel dengan heran.


"Jadi bagaimana tawaran ku tadi, kita karaoke?"ucap Gisel.


Semua orang setuju, dan akhirnya reuni itu tetap berjalan sampai tengah malam, mengabaikan rasa kaget dan kejadian yang baru saja terjadi, dan hampir saja acara reuni itu di bubarkan karena mereka membuat restoran rusuh.


Malam semakin larut, dengan b*doh nya Lenka yang tidak Samuel ketahui, kalau gadis nya itu tidak tahan mabuk, dan satu persatu semua orang pulang karena di jemput oleh supir mereka.


"Hehe pacar ku,"ucap Lenka yang sudah teler, membuat Samuel kesal.


"Jika kau tidak bisa minum, jangan ikut ikutan bocah,"kesal Samuel yang mengendong Lenka ke dalam pelukan nya.


Pria itu melirik Gisel yang terbaring di sofa sambil bergumam tidak jelas, dan dua orang ini jelas-jelas tidak bisa mengonsumsi alkohol, jika Samuel meninggalkan Gisel dapat di pastikan pacar nya akan marah karena meninggalkan sahabat nya itu, hingga kebingungan Samuel hilang ketika melihat Sadam datang.


"Big bos, maaf saya telat, tadi wakil ketua menyuruh saya mengurus sisa nya, dan saya baru kembali, mari saya antar,"ucap Sadam memberikan jalan.


"Kau urus saja wanita itu, Dia sahabat Lenka, Aku bisa di marahi nya, jika tahu meninggalkan sahabat nya, Aku akan pulang,"ucap Samuel mengendong Lenka yang terus menoel-noel pipi nya dengan wajah memerah.


Sadam melirik gadis yang sedang terbaring di sofa itu dan menghela nafas.


"Ayolah Aku ingin pulang dan tidur, melelahkan bekerja menjadi informan dan sekarang harus bekerja sebagai kuli angkut barang,"