
Langkah kaki Lenka menuruni pesawat pribadi keluarga william yang mendarat di mansion Alferoz, Italia. Gadis itu masih sama seperti terakhir wajah nya tampak pucat mungkin karena asupan nutrisi nya yang berkurang selama dia mengalami depresi.
"Sekalipun kau pergi ke akhirat, aku akan menemani mu,"gumam Lenka menatap hamparan lapangan tempat pendaratan pesawat yang luas di perkarangan Alferoz.
Gadis itu mengeluarkan sebuah kotak cincin dari tas kecil nya, Lenka mengambil satu cincin milik nya dan memasang di jari manis nya yang terlihat sangat cantik.
Drap.. drap..
Langkah kaki para pembantu Alferoz mendekati Lenka, mereka datang beberapa orang menyambut kehadiran gadis itu, dengan langkah ringan nya gadis itu akhirnya kembali lagi kesini dengan tujuan yang berbeda.
Satu hari sebelum berangkat ke Italia
"Luis apa aku bisa minta tolong urus masa cuti ku lebih lama lagi,"jelas Lenka kepada sang kakak yang sedang menyuapi nya makan.
Pria itu tampak terdiam, dentingan sendok yang tadi berbunyi karena sentuhan yang pelan akibat Luis berhenti menyuap sang adik terdengar. Pria itu memberikan gelas minuman kepada Lenka.
"Aku akan mengurusnya,"senyum Luis.
"Kau yakin akan mengambil cuti lama? Itu akan sangat berpengaruh dengan karir kedokteran mu Enka,"jawab Leon yang duduk di sisi lain kamar itu.
"Eon, kau tahu. Jika aku dulu berusaha keras untuk mengapai mimpi ku dengan semua nya yang aku korban dari keluarga, komunikasi kita yang berkurang, teman. Aku tidak memiliki teman yang banyak semenjak melakukan pendidkan ku di Italia,"
"Aku tidak peduli, selama aku bisa menjadi seorang dokter. Tapi sekarang berbeda, aku sudah mencapai apa yang aku impikan, dan mimpi itu. Aku rela menyingkirkan nya, semua nya, demi Sam."lirih Lenka menatap jendela kamar nya.
Para pria kembar hanya saling menatap, mereka tidak mengerti kenapa adik mereka melakukan semua itu, padahal dia sudah menghabiskan waktu nya untuk mengejar mimpi nya.
"Kau yakin? Kenapa kau bisa sejauh ini, padahal kau dulu sangat ambis dengan cita-cita mu,"jawab Leon kembali.
"Kalian bertiga akan tahu, jika kalian mendapatkan seorang pendamping hidup yang benar-benar mencintai kalian dengan tulus, ah tapi aku lupa kalian kan jomblo haha,"jawab Lenka kepada kakak nya.
Mereka bertiga tampak tersenyum, akhirnya gadis itu sudah bisa kembali tertawa lagi walaupun tidak sesering dahulu.
Mansion Alferoz, Italia.
"Uncle, aunty,"ucap Lenka memeluk kedua orang itu bergantian.
Meskipun keluarga Alferoz tidak memiliki ikatan darah sedikit pun dengan keluarga william hanya sebuah ikatan persahabatan antara kepala keluarga utama yaitu Varo William dan Reno Alferoz. Walaupun cuman sahabat mereka sudah sangat dekat satu sama lain.
"Kau baik-baik saja Lenka, mom mu sudah menceritakan nya kepada aunty,"ujar Anggun menarik tangan anak sahabat nya itu duduk.
Rere dan Anggun adalah sahabat lama semasa mereka SMA dahulu, kedua gadis itu masuk di SMA yang sama dan entah kenapa juga mendapatkan suami yang sama-sama kaya juga, cerita nya hanya ada di Gadis kecil itu istriku!
"Aku baik-baik saja aunty,"ucap gadis itu dengan senyum manis nya.
"Lenka, uncle tidak melarang mu, kau bisa menjadi dokter pribadi Sam selama di sini bersama dokter pilihan uncle, tapi jangan menyakitkan diri mu sendiri,"jelas Reno kepada gadis itu.
"Ayolah uncle, aunty kalian jangan cemas aku baik-baik saja, Lenka izin pergi sekarang, dadah,"ujar gadis itu berlari kecil pamit keluar mansion.
"Ada apa Little,"tanya Reno.
"Kau tahu Hubby, Lenka sangat mirip Rere. Mereka sama-sama sangat pintar dalam menyembunyikan luka,"jawab Anggun memeluk lengan suami nya sambil mengingat masa lalu.
"Karena mereka ibu dan anak Little,"jawab Reno mengecup kening sang istri.
"Hubby ayolah jangan panggil aku Little lagi, aku sudah berumur 39 tahu kau tahu,"jelas Anggun memutar bola nya malas.
"Tapi aku masih melihat mu seperti gadis berumur 18 tahun yang kabur di pernikahan saat itu,"goda Reno.
"Ah jadi kangen masa lalu, ga nyangka kita sudah tua, sekarang yang muda yang mengejar cinta,"gumam Anggun mengingat kelakuan Lenka yang sangat senekat itu kepada Samuel.
Mereka tidak dapat melarang anak Varo itu, sifat Lenka sangat sama dengan Rere saat muda yaitu sama-sama keras kepala, hanya ketika dengan pria nya gadis itu akan melunak dan bisa mendengar baik.
Mobil milik Lenka membelah jalanan kota Roma yang ramai di pagi hari itu, jalanan yang dia rindukan. Tempat dia siang dan malam menuntut ilmu demi impian nya, mobil milik Lenka tidak lama berhenti di RS Alferoz.
Drap.. drap..
Lenka melangkahkan kaki nya menuruni mobil dan masuk ke rumah sakit, sebelum itu dia menuju loker nya dan memakai jas dokter dan mengambil sebuah tag yang di gantung kan ke leher, karena itu khusus untuk dokter yang bisa memasuki ruangan Samuel.
"Sam, aku datang,"gumam Lenka menyusuri lorong rumah sakit dengan air mata mengalir karena rindu nya yang sudah memuncak selama dua minggu ini.
Cklek..
Gadis itu melihat pintu bewarna putih, ruangan paling atas dan ujung adalah milik Sam, dengan pelan Lenka membuka pintu ruangan itu, tapi pintu itu lebih dahulu di buka oleh seseorang dari dalam. Hal yang pertama dia lihat adalah seorang dokter paruh baya yang keluar ruangan itu.
"Lenka?"tanya dokter itu melihat seorang dokter muda berdiri di depan pintu.
"Uncle Michele, apa uncle dokter pribadi nya Sam?"tanya Lenka menghapus air mata nya merasa malu.
"Iya, apa kau kesini bersama Reno?"tanya Michele melihat ke belakang.
Gadis itu tampak mengeleng pelan, dia menunduk dan memainkan jari nya, Michele sudah mengetahui hubungan Lenka dan Sam. Begitu pun kejadian yang terjadi.
"Lenka, kau tahu? Mukjizat itu ada, kau tahu bukan aunty Alice dulu pernah mengalami koma selama 3 tahun, uncle yang menjaga nya sampai dia sadar dan sembuh, begitu pula dengan Sam,"gumam Michele menepuk bahu gadis itu berlalu pergi dari sana.
Michele adalah seorang dokter terkenal, seorang dokter umum yang mampu membuat Lenka kagum dan menjadi dokter seperti Michele, dan siapa Alice? Alice adalah istri dari Michele adik nya Reno yang pernah koma karena kecelakaan.
"Tapi aku tidak sanggup harus menunggu selama uncle menjaga aunty Alice, hati ku terlalu rapuh untuk bertahan,"gumam Lenka dengan perasaan kalut.
Gadis itu menyesap air mata nya dan masuk ke dalam ruangan, senyuman tersinggung manis di bibir nya melihat pria tampan yang berbaring tenang dengan monitor detak jantung yang berbunyi.
"Sam aku datang,"