SAMUEL

SAMUEL
BAB 142



2 minggu kemudian


Setelah pernikahan Agalista dan Kevin di gelar, kedua orang itu mulai memilih menatap di indonesia meninggalkan sang daddy seorang diri di Italia, sebenar nya hati Aga sangat berat meninggalkan daddy nya itu, tapi dia juga memiliki kontrak dengan william.


"Hiks hiks daddy,"ucap Agalista itu dengan wajah memerah dan ingus yang keluar dari hidung nya.


Sampah tisu sudah berserakan di berbagai tempat karena ulah nya, sedangkan Kevin yang ingin berangkat kerja hanya bisa menghela nafas.


"Sampai kapan kau akan menangis, sudah satu minggu Aga."ucap Kevin menatap Agalista yang terus menangis selama seminggu.


Wanita itu hanya diam ketika dia tertidur, ketika sudah bangun dia kembali melanjutkan tangisan nya, dengan kesal Aga melempar tisu bekas ingus nya itu tepat di wajah Kevin.


"Ini salah mu, harus nya kau bujuk daddy untuk tinggal bersama kita! Daddy!!"teriak Agalista menangis memeluk boneka pemberian sang daddy.


"Aku sudah mengajak daddy, tapi daddy sendiri yang mengatakan dia sudah biasa sendiri bukan. Kau juga kenapa tidak menangis waktu itu agar daddy ikut,"kesal Kevin kepada Aga.


"Mmm yah karena malu waktu itu ramai, nanti aku dikatain anak cengeng gimana ga bisa jauh-jauh daddy? Emang kamu mau punya istri yang image gitu,"kesal Agalista yang mulai berhenti menangis.


"Tapi kenyataan nya memang begitu kan, kenapa aku harus malu? Kau saja yang gengsi,"ketus Kevin kepada Agalista.


Kedua orang itu saling berdebat tidak mau mengalah satu sama lain oleh keabstrakan mereka sendiri, Kevin menarik tangan Aga dan memberikan dasi nya.


"Pasangkan! Kau bisa bukan? Jangan bilang seorang model tidak bisa memasang dasi,"jelas Kevin kepada Aga.


"Ck kau meremehkan ku, tentu aku bisa tidak perlu mengajarkan ku."ucap Agalista mulai memasang dasi di leher Kevin.


Tidak seperti Lenka yang harus berjinjit karena tubuh mungil nya, Agalista yang memang memiliki tubuh tinggi hanya perlu mendongkak kan sedikit kepala nya untuk melihat dasi yang dia pasang benar atau tidak.


Mereka sangat dekat, Kevin dapat mencium aroma harum vanilli dari rambut merah Agalista itu. Mata nya dia tutup untuk menikmati setiap hirupan aroma vanilli pada seluruh tubuh Aga.


"Kev, apa kau mengendus ku?"tanya Agalista heran.


Seketika Kevin membuka mata nya cepat, damn dia baru sadar akan posisi nya. Dia mengengam pinggang ramping Agalista untuk mendempet ke tubuh nya lalu wajah nya yang sangat dekat dengan leher Aga, Kevin sangat kaget dan sontak mendorong Aga.


Argh..


"Kevin! Sakit!"teriak Agalista mengelus bokong nya merasa kaget.


"Siaal! Siapa yang menyuruh mu dekat-dekat dengan ku, bagaimana jika aku mengigit mu tadi,"kesal Kevin kepada Agalista.


Wanita itu masih meringis kesakitan, wajah nya mendongkak menatap Kevin yang wajah nya memerah dan panik. Agalista memasang raut wajah bingung, tapi dia masih tidak terima.


"Siapa yang mau-mau dekat dengan mu! GR banget sih, kan kamu yang minta tolong pasangin dasi nya, lagi pula kamu juga yang cium-cium leher aku, merinding tahu ga,"ucap Agalista bergedik ngeri mengelus leher nya.


"Merinding? Kau samakan aku setan hah!"kesal Kevin kembali.


"Kalau iya kenapa hah! Dasar marah-marah mulu, kamu pms yah? Ck minum kiranti sana,"ucap Agalista berdiri dengan wajah kesal.


"Sabar Kev,"gumam Kevin mendenger ejekan Agalista.


Dia mengambil kunci mobil nya, memang hari masih menunjukan pukul 7 pagi, dan Kevin yang kesal memilih tidak sarapan dulu, lagi pula Aga tidak akan masak. Mereka selama satu minggu hanya makan pesan antar karena mood Aga.


"Ck rambut ku,"ketus Agalista yang kembali merapikan rambut merah nya.


Entah kenapa Kevin sangat suka pamit dengan cara seperti itu, membuat Agalista yang memang seorang model tentu sangat memperhatikan segala sisi fashion dan style yang dia tujukan.


Brak...


Aga menutup pintu apartemen dia melirik jam dinding, seperti nya Kevin benar dia butuh healing, dengan mengajak Lenka seperti nya dia bisa menghabiskan waktu berdua.


Sedangkan Lenka yang di bicarakan terus malas-malasan di depan televisi, dia memang sudah cantik dan bersih tapi dia masih memakai dress rumahan sambil nonton film barat kesukaan nya.


"Sayang? Masih tidak ingin masuk?"tanya Samuel kepada istri nya itu.


Pria itu datang tiba-tiba dari belakang memeluk leher istri nya dengan penuh kasih sayang, Lenka mengdongkak kan kepala nya menatap Samuel.


"By seperti nya aku ingin ambil cuti lagi, entah kenapa aku sangat malas bekerja,"gumam Lenka kepada suami nya yang sudah berpindah duduk di samping nya.


Samuel terlihat mengusap pipi Lenka, dia mengengam tangan Lenka dengan senyum tulus yang tidak pernah pudar untuk wanita itu.


"Aku sih tidak masalah, tapi kembali pada mu apa kau sudah seyakin itu sayang?"


"Aku mengatakan ini hanya karena ingin meyakinkan mu, ya dari kecil kau sangat suka bekerja sebagai dokter,"


"Terlebih kau juga ketika mendapat pasien yang banyak kau sangat antusias sehingga kau memiliki banyak penghargaan,"


"Tapi tiba-tiba kau mengatakan tidak ingin bekerja, aku merasa kau harus meyakinkan nya lagi bukan,"ucap Samuel kepada sang istri.


Lenka terlihat mendengar ucapan Samuel dengan serius, bagaimana pun apa yang di katakan Samuel juga adalah kebaikan nya, dia juga merasa heran kenapa dia sangat tidak mood sama sekali.


"Tapi aku yakin,"gumam Lenka.


"Baiklah kalau begitu, aku akan membantu mengurus cuti mu bagaimana?"tanya Sam.


"Iya mau, makasih by,"ucap Lenka senang memeluk leher Samuel dengan antusias.


Samuel yang tadi menerima pelukan Lenka, seketika perut nya terasa bergejolak hebat. Pria itu berlari ke kamar mandi melepaskan Lenka yang terduduk.


Huek...


"By kau baik-baik saja,"ucap Lenka khawatir berlari mendekati Sam dan mengelus punggung nya pelan.


"Masuk angin lagi seperti nya sayang, aku baik-baik saja, aku harus kerja,"jawab Samuel berdiri dan mencuci mulut nya.


"Tapi kemarin kau pulang cepat, tidak mungkin. By jangan-jangan kau punya penyakit? Soal nya ini sudah seminggu kau muntah terus, besok cek dokter yah, aku takut,"ucap Lenka mengengam tangan Sam.


"Kalau aku pergi? Apa kau tidak memasang wajah sedih ini lagi? Kau yakin,"ucap Sam menghela nafas.


Lenka menggangguk cepat mengiyakan perkataan Samuel.


"Baiklah, selagi itu bisa membuat mu senang,"