SAMUEL

SAMUEL
BAB 202



Suara ketukan di sebuah kamar membuat telinga seorang Lukas William terbangun.


“Siapa sih!”jawab Lukas dengan kesal.


Cukup diri nya sudah kesal dengan kedua orang tua nya dan Lenka yang meninggal kan nya sendiri di rumah gubuk ini, tunggu Lukas yang baru tersadar itu membuka mata nya dengan lebar.


Jika itu keluarga nya mana mungkin harus mengetuk untuk masuk kamar, Lukas dengan tajam mengambil pistol di sebalik tempat tidur nya pria itu berdiri di dinding dekat pintu, dengan gerakan cepat Lukas membuka pintu dan.


Brak….


Sebuah benturan terdengar keras Lukas menarik tangan seorang pria dan melumpuhkan nya lalu menjatuh kan nya ke lantai, pistol yang Lukas pegang tepat mengarah ke kepala pria itu.


“Siapa kau! Berani masuk ke rumah keluarga ku tanpa izin!”teriak Lukas.


“Ini aku apa kau membunuh ku,”jawab Leon dengan tatapan datar nya tanpa bergetar sama sekali saat Lukas mengarah kan pistol ke kepala nya itu.


Lukas yang tersesat seketika terlonjak kaget pria itu menarik pistol nya dan kembali menyimpan nya, Lukas berdiri begitu pun Leon yang berdiri dari kukungan sang adik. Terlihat Leon membersihkan kemeja nya.


“Ayo kembali ke kota,”jawab Leon tanpa basa basi meninggalkan kamar Lukas.


“Apa maksud mu? Apa mommy mengizinkan aku takut akan di cekik mu kalau berani keluar dari sini,”jawab Lukas dengan takut mengingat segala apa yang ada di dalam benak nya tentang bagaimana mommy nya itu bersikap.


“Kau keluar atas seizin ku, apa kau tidak mau melihat mommy dan Lenka. Ada orang yang meneror mereka, Lenka mengalami luka tembak di bagian tangan,”jawab Leon dengan datar langsung keluar kamar.


Lukas yang tadi nya terlihat tidak serius mendengar kan seketika mata nya membulat dengan cepat Lukas mengambil mantel nya dan bergegas mengikuti langkah kaki Leon menuju mobil.


Di dalam mobil Lukas dengan amarah nya terus bertanya kepada Leon.


“Katakan siapa yang melakukan nya? Kenapa mereka menargetkan Lenka,”


“Apa Lenka baik baik saja?”


“Bagaimana dengan ponakan ku,”


Ucap Lukas dengan pertanyaan yang beruntun tidak berhenti. Leon hanya terdiam tanpa mau menjawab perkataan kembaran nya itu karena Leon sudah sangat malas meladani pria bawel itu.


“Hei Leon!”teriak Lukas dengan kesa karena Leon sama sekali tidak menjawab pernyataan nya.


“Ck kau tanyakan itu pada Samuel, aku malas berbicara dengan orang yang banyak omong tapi tidak banyak bertindak.”jawab Leon dengan ketus.


Ayolah walaupun mereka kembar sikap mereka sangat berbanding terbalik bukan, begitu lah ada nya jika Lukas banyak berbicara Leon tipe pria yang irit bicara seperti luis.


“Ck kau tidak berguna,”jawab Lukas dengan ketus.


Terlihat pria itu membuka ponsel nya seketika ponsel nya yang tadi nya mati langsung masuk beberapa pesan yang ternyata dari asisten dan mommy nya juga serta ada luis yang menelpon sekali di sana.


“Bahkan luis hanya menelpon sekali tidak niat memberikan informasi genting seperti ini,”ejek Lukas melihat riwayat panggilan itu.


“Itu karena ponsel mu tidak aktif, untuk apa terus menelpon jika hasil nya sudah tidak pasti bodoh,”jawab Leon membeli luis.


“Terserah kalian sama saja,”jawab Lukas.


Pria itu terlihat memencar salah satu nomor yang ada di kontak nya, dengan tatapan tajam Lukas menghubungi seseorang itu. Intonasi nya yang tadi nya panik berubah tegas ketika berbicara dengan bawahan nya itu.


“Bos,”sahut orang di seberang sana.


Seseorang di sebalik telepon itu sudah mengerti arah tujuan pembicaraan Lukas. Bagaimana pun berita itu pasti sudah tersebar di area aeros dan lingkungan black devil.


“Tapi kasus ini sudah di urus oleh tuan Samuel,”jawab pria itu lagi.


“Jika aku bilang cari tahu ya cari tahu! Jika ini ada kaitan nya dengan keaktifan ku dalam pelelengan terbesar pasar gelap terbesar cepat hubungi aku, jika tidak habis kalian,”ancam Lukas dengan intonasi nya yang keras.


Seseorang di seberang telpon sana seketika tangan nya gemetar. Pria itu terlihat tersenyum kecil menghapus keringat nya jika sang bos sudah bertitah maka harus di jalan kan.


“Baik bos!”jawab nya tanpa ada tanda penolakan atau perlawan lagi.


Tut..


Telpon di matikan raut wajah Lukas yang memang kadang suka melawak itu juga bisa serius dan garang seperti sekarang loh, Lukas melipat kedua tangan nya di dada dan menutup mata nya menunggu perjalanan menuju rumah sakit.


Tidak lama kemudian mobil mereka sampai, Leon dan Lukas masuk langsung ke dalam kamar rumah sakit di mana Lenka berada. Lukas mengedarkan pandangan nya yang di mana terlihat Lenka sedang di suapi buah oleh Samuel.


“Hei kenapa kau ke sini hukuman mu belum selesai,”jawab rere kepada Lukas.


Ya wanita paruh baya itu seketika yang tadi nya sedang berbincang dengan sang suami terlihat memutar wajah nya ketika mendengar suara decitan pintu yang terbuka. Lukas tanpa basa basi langsung memeluk mommy nya.


“Mom kau baik baik saja?”tanya Lukas dengan nada khawatir nya.


“Ish kau ini mommy bertanya malah ikut bertanya,”kesal rere.


“Persetankan dengan hukuman ku, aku siap menerima amukan mommy agar bisa menerima kabar mu saja,”jawab Lukas.


Rere yang mendengar perkataan sang putra seketika tersenyum kecil, bagaimana pun juga Lukas pasti juga mengkahwatir kan kembaran nya dan diri nya hal itu wajar Karen mereka saling terikat satu sama lain.


“Mommy dan Lenka baik baik saja sayang,”jawab rere mengusap rambut sang putra.


“Syukurlah,”jawab Lukas dengan lega.


“Kau yakin?”jawab Leon menyambung.


“Benar Leon,”


Leon memang tipe orang cuek tapi dia hanya akan bertanya sekali untuk memastikan selebih nya dia yang akan mencari tahu sendiri bagaimana keadaan sang mommy atau mungkin diri nya yang akan membantai para orang yang mencelakai mommy nya.


Saat semua orang tengah mengobrol mengkhawtir kan satu sama lain seorang wanita di sebuah hotel terkekeh menikmati permainan yang dia buat, wanita itu terlihat berendam dalam bath up nya.


Sambil menikmati segelas minuman mahal di tangan nya, harum semerbak mawar menambah kesan kejayaan nya saat ini ya mungkin saja perasaan itu akan hancur kemudian hari.


Tok tok..


“Nyonya,”ujar seseorang.


“Kau pintar menghilang kan jejak, aku suka permainan ini lanjut kan jangan buat mereka hidup tenang. Sampai mereka tahu siapa kita,”


“Tapi target nya,”jawab pria itu memotong kebahagiaan sang penikmat minuman itu.


“Tidak masalah aku suka hal yang kadang berjalan karena takdir, jadi nikmati saja,”