
Wajah Gisel tampak panik, apa yang harus dia lakukan? Haruskah dia kabur dan berlari melewati orang itu, peluh membasahi kening putih Gisel, gadis itu kembali masuk ke kamar dan mencari kacamata nya serta dress nya yang sudah tergantung rapi dan bersih.
Drap.. drap..
Gisel berjalan mengendap berusaha tidak menimbulkan suara, Rara yang melihat itu memasang wajah datar nya menatap gadis yang di bawa Sadam semalam.
"Hei kak, kenapa kau jalan mengendap seperti itu,"
"Kau sudah bangun,"tanya Rara sambil menyendok nasi goreng nya ke mulut.
Sadam yang melihat itu, dia juga sudah tahu dari tadi, tapi kakak dan adik itu seperti nya sangat kompak dan hanya memasang wajah datar, terutama Sadam yang mencuekan nya.
"Kau sudah bangun nak, sini sarapan dulu,"ucap Mama Sadam tersenyum senang memanggil Gisel dari jarak yang jauh.
Gadis itu membenarkan kacamatanya sambil tersenyum kaku, dari posisi menunduk untuk mengendap sekarang berubah menjadi posisi berdiri tegak lurus karena malu.
"Ha ha halo semuanya, perkenalkan Aku Gisel, maafkan atas sikap ku sebelumnya, seperti nya Aku mabuk sambil berjalan dan sampai masuk rumah orang,"
"Maafkan Aku tante, Aku pamit dulu,"ucap Gisel menunduk merasa malu.
Mama Sadam seketika menaikan satu alis nya heran melihat Gisel yang malah kaget dan mencari pintu keluar sambil celingak celinguk kesana kesini.
"Gisel, kau tidak tidur berjalan,"
"Sadam yang membawa mu kesini,"ujar Mama Sadam dengan tatapan heran nya menatap Gisel.
"Siapa Sadam?"tanya Gisel yang bingung sendiri.
Nah sepertinya dia tahu sekarang siapa Sadam, karena wanita paruh baya itu melirik seorang pria tampan yang sangat diam dalam suasana makan nya itu, Gisel tidak mengenal pria itu.
"Saya tidak mengenal nya, maafkan saya semuanya, dimana pintu keluar nya?"tanya Gisel dengan gugup.
"Di sana,"tunjuk Rara dengan santai.
Gisel kembali menunduk dan berlari keluar dengan secepat kilas meminta maaf dan berterima kasih, Mama Sadam mengejar gadis itu yang menjauh dari perumahan mewah.
Brak..
"Akh Ma,"kesal Sadam mengusap lengan nya.
"Bukan kah Samuel sudah menungaskan mu menjaga gadis itu, cepat antar dia pulang Sadam, kau lihat ini sepatu nya ketinggalan,"
"Mama melihat dia berlari tanpa alas kaki,"ucap Mama Sadam dengan khawatir.
Pria itu tampak cuek dan melanjutkan makanan nya tanpa menimpali perkataan Mama nya sendiri.
"Aku sudah menjaga nya, Mama lihat dia itu gadis dewasa, yakali tidak bisa pulang sendiri, ini hari libur,"balas Sadam menikmati makanan nya.
"Kak Sadam benar Ma, biarkan saja,"
"Kakak itu juga salah dia langsung pergi tanpa berterima kasih yang benar, padahal Mama sudah mencucikan baju nya,"jelas Rara menimpali ucapan sang kakak.
Duk..
"Akh Ma,"
Teriak mereka berdua serempak meringis merasakan pukulan pada kepala mereka.
"Kalian ini jangan berkata seperti itu, Sadam cepat kejar gadis itu, atau Mama akan menelpon Samuel untuk mu,"ketus Mama Sadam.
"No Mom, oke oke fine,"kesal Sadam berjalan menuju mobil nya.
"Dasar si culun merepotkan,"gumam Sadam melajukan mobil nya.
Sementara itu di apartemen Lenka tampak gadis itu berjalan membuka pintu kamar nya, Lenka melirik Samuel yang duduk di sofa dengan wajah datar nya.
Tidak ada jawaban sama sekali, kecuali lirikan mata elang nya yang tampak tajam di mata Lenka itu, Samuel mengusap wajah nya mengingat perkataan Lenka yang membuat nya kesal.
"Maafkan Aku Sam, Aku salah,"balas Lenka mengengam tangan pria itu.
"Tidak Aku yang salah,"gumam Samuel.
"Bukan Sam, kau tidak salah, Aku yang salah,"balas Lenka kembali yang merasa kesal mendengar jawaban Samuel.
"Bukan kau tapi Aku,"lirih Samuel kembali mengatakan itu.
Entah kenapa suasana yang awal nya karena salah paham, membuat Lenka mengatakan hal seperti tadi.
"Sam Aku salah maafkan Aku, Mommy dan Daddy juga tahu kalau Aku yang salah, maafkan Aku,"ucap Lenka mengengam jemari pria itu dengan lembut.
"Apa? Kau tidak bisa menjelaskan nya bukan?"lirih Samuel dengan wajah datar nya menatap manik mata Lenka.
"Kau hanya mengatakan Aku yang salah, tapi di mana letak salah nya dirimu, apa kau tahu di mana? Kau hanya mengatakan Aku yang salah tanpa ada nya kejelasan,"
"Jelaskan dulu apa salah mu, jangan hanya bisa mengucapkan kata maaf tanpa kau tahu kesalahan mu,"
Seperti nya jika masalah itu berkaitan dengan Lenka, pria itu terlihat sangat emisional dan banyak bicara seperti sekarang ini.
"Kau tahu, di sini Aku yang salah Lenka, kau tahu kenapa?"tanya Samuel dengan senyum kecil nya menatap Lenka tajam.
"Karena Aku salah cinta kepada orang yang salah,"
Deg..
Seketika Lenka memasang wajah terkejut mendengar jawaban Samuel, apa maksud pria itu, kenapa dia mengatakan hal seperti itu, apakah dia tidak mencintai nya lagi.
"Maafkan atas obsesi ku kepada mu, jika memang kau tidak menyukai ku katakan saja,"
"Jangan buat Aku melambung tinggi oleh rasa perhatian mu, lalu dengan mudah nya kau jatuh kan rasa ku itu begitu saja,"
"Kau tahu Aku tidak akan berhenti mencintai mu, kalau bukan karena kau yang menghentikan tekad ku,"
"Aku tidak akan yakin dengan perasaan ku, jika bukan karena perlakuan mu kepada ku, kau membuat ku yakin, jika kau juga mencintai ku,"
"Tapi Aku salah, di sini Aku yang berjuang sendiri, pria dewasa yang terobsesi dengan kasih sayang, tidak ada yang bisa memberikan Aku cinta selama ini selain Daddy ku, dan Aku berharap cinta itu datang padamu juga,"
"Tapi Aku salah, sangat salah,"
Lirih Samuel dengan suara bergetar, pria itu mengusap wajah nya entah kenapa tubuh nya terasa dingin, dan guncangan hebat dapat di rasakan Samuel.
Sepertinya serangan panik itu kembali kambuh memikirkan hal yang buruk barusan, Lenka yang kaget seketika memeluk Samuel.
"Sam kau kenapa? Sadarkan diri mu Sam,"tanya Lenka menguncang tubuh Samuel, gadis itu mengengam tangan Samuel yang bergetar pria itu tampak sesak nafas.
"Apa ini Anxiety?"gumam Lenka melihat ciri-ciri nya.
"Sam tenang kan dirimu, tarik nafas dalam-dalam jangan panik, pikirkan hal yang baik-baik sam!"teriak Lenka menguncang tubuh pria itu.
Samuel nampak menarik nafas nya pelan, lalu menepis tangan Lenka kuat, dia mulai berdiri dan bersiap meninggalkan apartemen itu, hingga akhirnya pelukan kecil datang dari seseorang.
Grep..
"Sam, hiks hiks maafkan Aku,"
"Aku tahu Sam,"
"Aku tahu,"
"Aku yang salah atas perkataan tadi, maafkan Aku sam, maafkan Aku,"