SAMUEL

SAMUEL
BAB 136



Grep...


Pria itu merengkuh pinggang mungil Alisa dan memeluk nya erat, membenamkan kepala nya kepads bahu Alisa. Arbian memeluk erat Alisa seolah takut kehilangan gadis itu, kejadian lima tahun lalu berputar keras di otak nya.


"Kau yakin baik-baik saja, aku sangat takut,"gumam Arbian kepada Alisa.


Gadis itu merasa heran karena tingkah Arbian, Alisa mengengam tangan Arbian yang merekuh pinggang nya, tangan kekar itu terasa sangat dingin saat dia pegang.


'Alisa kira kak Arbian bercanda kalau dia takut? Tapi kalau dia takut kenapa dia bisa memukul pria itu sampai terjatuh,' batin Alisa dengan heran.


Dia mengeleng heran, hingga suara beberapa pria memecahkan suasana haru tersebut, siapa lagi kalau bukan teman-teman Arbian yang melihat adegan penyelamatan itu dengan aestectik nya.


"Bian udah kayak pahlawan aja lu, caper?"teriak teman Arbian kepada pria itu.


Arbian yang baru sadar seketika kaget dan mendorong tubuh Alisa karena dia tersadar memeluk gadis itu, membuat nya merasa salah tingkah karena ulah nya sendiri.


Bruk...


"Arghh kak Bian!"teriak Alisa meringis merasa bokong nya sakit menyentuh lantai akibat dorongan Arbian ya walaupun tidak terlalu kuat.


Bian melihat itu lagi-lagi kaget sudah menyakiti putri satu-satu nya keluarga Arnolda itu, dia langsung menarik tangan Alisa kembali agar berdiri.


"Ma ma maaf Al, kau sakit? Aku tidak sengaja,"ucap Arbian dengan panik bertanya dengan boodoh nya.


"Ish kak Bian mah kasar banget, Alisa gapapa kok dan nama Alisa bukan Al tapi A L I S A, Alisa!"teriak gadis itu tidak suka mengatakan nya kepada Bian.


"Iya iya, sama aja perasaan,"gumam Arbian yang heran.


"Beda, pokok nya beda. Yang boleh manggil gitu cuman mommy!"kesal gadis itu kembali memarahi Arbian.


"Kau ini kenapa? Seperti anak kecil berteriak mengatakan nama mu, iya aku salah,"keluh Arbian menghela nafas.


Ah apa mungkin sifat Alisa yang sering memanggil diri nya dengan nama sendiri itu tidak bisa hilang dari dia kecil? Mungkin saja bukan, dan Alisa yang terlalu di manja kan Clara yah mungkin saja membuat nya seperti ini.


"Bian!"teriak teman Arbian memanggil.


"Kalian minum saja kenapa terus memanggil ku sih,"keluh Bian kesal kepada teman-teman nya itu.


Alisa yang berdiri di depan Arbian melirik ke belakang di mana di sana ada teman-teman Arbian, gadis itu yang dari awal masuk ke club tadi yang paling membuat nya penasaran adalah air bewarna biru yang ada di gelas kaca itu.


Drap.. drap..


Kaki kecil nya melangkah mendekati meja teman Arbian, semua mata tertuju kepada nya definisi darah campuran yang sangat cantik, hidung mancung kecil pinggang ramping kulit putih. Dan mata biru itu membuat siapa saja terpikat.


"Kak Alisa boleh minta satu ya? Haus soal nya, kayak enak, cape ngomong sama kak Arbian,"ucap gadis itu meminta izin.


Mereka semua hanya mengangguk tanpa sadar, Alisa langsung tersenyum dan mneyembar gelas alkohol yang padahal milik Arbian tadi, dengan segali tegukan minuman yang di minuman Alisa tandas.


Gadis itu merasa kan rasa minuman itu, dia merasa tidak enak dan memicingkan mata nya. Lalu sebuah cegukan timbul.


Hik...


Alisa menutup mulut nya yang cegukan itu dengan cepat kepala nya sedikit sakit, Arbian yang baru menghampiri meja seketika heran melihat Alisa yang terus cegukan.


"Al kenapa?"tanya Bian heran.


Arbian mendudukan diri nya, seketika kepala nya mendongkak mendengar penuturan Arbian. Mata nya beralih tajam kepada teman-teman nya.


"Siaalan kalian berikan minuman itu?"tanya Arbian kesal.


'Matu aku kalau ketahuan tuan Axel,' batin Arbian membayangkan nyawa nya yang di ujung tanduk.


Arbian memilih bersiap untuk pulang membawa Alisa, tetapi sebelum niat itu sampai gadis itu sudah meracau dan bertingkah aneh. Alisa langsung duduk di pangkuan Arbian dengan posisi mengangkaang berhadapan dengan pria itu, tangan nya dia kalungan di leher Bian.


Hal itu membuat Alisa yang duduk seperti itu membuat dress tidur nya naik ke atas dan menampilkan paha mulus nya karena posisi yang tidak aman, Arbian seketika mendelik tajam kepada teman-teman nya.


"Oi lihat apa kalian! Gua congkel itu mata,"kesal Arbian kepada teman-teman nya yang menatap paha mulus Alisa yang sedang duduk di pangkuan Arbian.


Mereka semua seketika mengalihkan perhatian mereka pura-pura tidak tahu dengan tingkah mereka tadi, Arbian menempelkan tangan besar nya di paha Alisa seolah menutupi paha putih mulus gadis itu dari mata keranjang pria penuh nafsu.


"Gilaa lu Bian, bawa adik lu ke club malam,"ujar salah satu teman Arbian mengeleng kepada Arbian.


"Lu yang gilaa dia bukan adik gua, tapi anak nya teman atasan gua."ketus Arbian membela diri mengatakan itu.


Siapa juga orang yang akan mengizinkan adik nya melakukan itu, Arbian mengalihkan pandangan nya menatap Alisa yang fokus dengan wajah cemberut.


"Hik kak Bian jahat, masa minuman nya ga enak? Alisa kasih tahu daddy loh hik," ucap gadis itu tajam kesal.


"Ya yang nyuruh kamu minum si--,"


Belum selesai Arbian berbicara gadis itu memutar wajah nya menatap teman-teman Arbian yang menatap diri nya juga dengan senyum penuh sapaan.


"Dan siapa yang tadi bilang Alisa adik nya kak Bian? Ish jahat, Alisa kan udah gede bukan adik kak Bian, udah bisa mandi sendiri tahu! Hah,"teriak Alisa ketus meneriaki para pria.


Teman-teman Arbian seketika saling menatap mendengar perkataan gadis itu, mereka seketika tertawa mendengar jawaban aneh Alisa.


Hahaha...


"Ih kok ketawa, kak Bian! Alisa di ketawain,"rengek gadis itu menatap Bian seolah meminta pembelaan.


"Ayo kita kembali ke hotel saja,"ujar Arbian kepada gadis itu.


Gadis itu mengeleng kuat, satu tangan nya melepas rangkulan pada leher Bian lalu satu tangan lagi masih mengalung gadis itu menunjuk salah satu teman pria Arbian yang sedang menatap nya.


"Boleh tidak sebelum pulang, cium kakak yang itu dulu hik,"ujar gadis itu polos.


"Haha astaga, gilaa lucu banget ini cewe mabuk nya cuy,"teriak teman Arbian.


"Tidak! Untuk apa, apa kau mau Alaska memarahi menciumi sembarangan pria,"kesal Arbian mengeleng mengingat Alaska yang posesif 11 12 seperti Axel.


Tapi beda nya Alaska tidak terlalu memperlihatkan tingkah nya yang posesif itu.


"Ih! Kok kak Bian ngadu, mau cium yang itu,"rengek Alisa bersiap turun dari pangkuan Arbian.


Pria itu menahan pinggang Alisa, bisa-bisa gadis itu benar mencium teman nya.


"Cium aku saja, untuk apa mencium pria itu,"