
Pagi hari nya
Srek....
Sebuah gorden di buka oleh seorang pria tampan yang tinggi itu, untuk membuat seseorang gadis yang tengah tidur meringuk di kasur agar membuat nya bangun. Gadis itu yang merasa mata nya silau akibat cahaya memantul mau tidak mau membuat mata nya terbuka.
"Argh.. pala ku sakit,"gumam Alisa memaksa duduk di atas.
Bruk..
Sebuah bantal melayang tepat di wajah gadis itu dengan kasar, membuat gadis itu mengumpat dan mencari sumber seseorang yang melayangkan bantal itu.
"Anjiir sakit tahu!"teriak Alisa mengeluh kesakitan mengusap wajah nya.
"Sakit? Apa itu sakit hah, mana hal yang lebih sakit dari pada daddy yang menghukum mu?"tanya pria itu membalikan tubuh nya yang tadi menghadap jendela sekarang menghadap ke arah Alisa.
Gadis itu seketika cengegesan menatap pria tampan yang tinggi itu, walaupun umur nya masih menginjak 17 tahun, sangat terbilang dewasa sebelum waktu nya.
"Aska,"rengek Alisa turun dari kasur dan memeluk adik sambung yang paling dia sayangi itu dengan manja.
Alaska hanya menghela nafas kepada sang kakak, lagi-lagi Alisa selalu saja merepotkan nya. Tidak pernah sekali pun dia tidak mengurusi Alisa, mommy nya selalu berkata Alisa adalah anak gadis nya yang paling dia sayang jadi Alaska sebagai laki-laki harus bisa menjaga nya.
"Katakan? Kau minum semalam kan,"ujar Alaska melirik tajam sang kakak yang hanya mengedipkan mata nya berkali-kali bingung dengan perkataan sang adik.
"Minum? Kakak setiap hari juga minum Aska, kalau makan doang nanti haus kan, keselek,"jawab gadis itu polos kepada Alaska.
'Sabar Aska, kakak mu ini memang boodoh, aku kasihan dengan jodoh nya,' batin Alaska berusaha tidak memarahi anak gadis satu-satu nya Arnolda itu.
"Oke kakak aku tahu kau selalu benar, tapi ini beda. Arbian memberitahu ku, kau mnegikuti nya ke club malam kan?"tanya Alaska kembali dengan tajam.
Tanpa rasa takut Alisa mengangguk dengan antusias sambil tersemyum, hah apalagi ini? Ditanya pergi ke club malam tapi Alisa malah kesenangan seperti nya.
"Iya Aska, di sana banyak orang terus juga musik keras. Banyak orang joget, pokok nya banyak deh, kamu belum pernah kan? Kakak gitu loh, tapi jangan kasih tau mommy nanti di jewer,"gumam Alisa di akhir kalimat nya mengingat sang mommy yang sangat tegas kepada nya itu.
"Jika kau takut, jangan kesana! Siaalan untung saja Arbian tidak menyentuh, dia masih takut kepada Arnolda. Jika tidak aku akan membuat nya keluar dari aeros dan membunuh nya,"kesal Alaska mengatakan itu.
Ya, Arbian langsung menelpon Alaska tentang apa yang terjadi. Dia memberitahu semua nya dengan detail hanya satu yang tidak dia ceritakan, saat dia mencium bibir Alisa sekilas, bisa-bisa dia akan di benamkan ke lubang buaya karena aksi nekat nya.
Bugh..
Alisa memukul pelan lengan sang adik sambil memasang wajah cemberut nya, Alaska seketika menaikan satu alis nya bertanya untuk apa Alisa melakukan itu.
"Sudah jangan marah Aska, itu kan salah kakak juga yang ikut. Lagi pula kan kakak tidak apa-apa, oiya kak Bian nya di mana emang nya?"tanya Alisa penasaran karena sama sekali tidak ingat kejadian semalam apa yang telah dia perbuat.
"Untuk apa kau mengurus nya? Dia sudah kembali ke indonesia tadi dini hari, cepat mandi kita juga akan pulang!"teriak Alaska kesal menutup pintu hotel itu dengan keras.
Brak...
Alisa memegang dada nya dan mengelus nya pelan Alaska sangat sama seperti daddy nya Axel yang sangat gampang tempramental, dia hanya akan marah dan terusik dengan orang dekat atau mungkin dengan orang yang dia sukai?
"Huft untung aku sayang dengan mu, kalau tidak aku pukul,"ketus Alisa berlalu masuk ke dalam kamar mandi.
Sedangkan di sisi lain pasutri baru hanya menikmati malam mereka dengan tidur seperti biasa nya, Aga yang sudah lelah begitu pun dengan Kevin yang tidak mungkin menyentuh sang istri, dia takut Aga akan menjauhi nya, harus kah dia utarakan dulu perasaab nya ini?
"Aga, apa kau akan tidur sampai petang lagi?"tanya Kevin yang sedang memakai pakaian nya itu.
Agalista yang mendengar nama nya di panggil seketika mengerucutkan bibir nya, dia sangat lelah karena acara nya yang sangat ramai. Mata nya seketika terbuka leber melihat Kevin yang masih memakai celana bahan pendek dan atasan yang masih polos.
Glek...
"Kevin badan mu sangat bagus hehe, aku menyukai nya,"puji Aga menatap kagum badan berotot pria itu.
Kevin seketika memasang tatapan tajam, membalikan tubuh nya menatap sang istri yang masih terduduk di ranjang sambil tersenyum mesum kepada nya.
"Wah aku tidak menyangka kau tipe agresif ya,"ejek Kevin menyeringai kecil.
Ck...
Gadis itu berdecak kesal bagaimana bisa Kevin mengatakan itu kepada diri nya yang polos? Mesum? Oh tidak, dia hanya menganggumi ciptaan tuhan yang indah.
"Ogah sih kalau mesum sama kamu, mimpi!"kesal Aga kepada Kevin.
"Ya ya, cepat mandi kita akan sarapan. Atau aku akan meninggalkan mu?"tanya Kevin santai.
"Jangan!"teriak Aga kepada sang suami.
"Kenapa jangan?"tanya Kevin.
"Hei apa kau boodoh? Nanti daddy mengetahui kita kalau semalam kita tidak ehem ehem. Nanti kita ketahuan hanya pernikahan bohongan,"gumam Agalista dengan takut.
Kevin hanya tersenyum kecil, dia menghela nafas. Istri nya sangat boodoh, tentu daddy nya sudah mengetahui hal seperti itu, tapi ya biarkan saja jika Aga mengetahui daddy nya sudah mnegetahui hubungan mereka, pasti gadis itu tidak akan terima menikah dengan nya.
"Ya kau benar, terserah mu,"gumam Kevin memakai baju kaus nya dan duduk di sofa.
Pria itu menunduk mengarahkan tatapan nya kepada ponsel nya, dia melihat sebuah langkah kaki menghampiri nya. Ternyata itu Agalista yang masih belum pergi mandi.
"Apa lagi? Apa kau tidak akan mandi? Apa mau aku mandi kan?"tawar Kevin mengoda gadis itu.
Bukan nya tergoda, Agalisat malah menunduk dan mendekatkan bibir nya pada leher Kevin. Seketika tubuh pria itu menegang merasakan kecupan dan gigitan kecil dari bibir lembut Agalisat, beberapa menit lalu ciuman itu di lepaskan.
Agalista menyeringai mengusap leher Kevin yang meninggalkan tanda kissmark di sana, pria itu seketika terdiam jantung nya di buat berdetak oleh seorang gadis?
Deg.. deg..
"Ini hadiah untuk mu,"