
Dengan kaki yang di angkat tinggi-tinggi, dan mulut nya yang terus mengunyah permen karet itu, wanita yang sedang duduk di tatap oleh Arbian dan Sadam itu hanya membiarkan diri nya di awasi kedua orang itu.
Brak..
"where is Samuel!" teriak gadis itu yang sudah lelah menunggu beberapa jam di ruang pengap tanpa udara.
"Sadam,"ujar wanita itu melirik Sadam dengan tatapan nyalang nya.
Mereka semua yang ada di sana hanya bodo amad atas kemarahan wanita itu, Agalista seorang gadis cantik berdarah Amerika itu dengan tinggi mencapai 170cm itu melipat kedua kaki panjang nya tidak sabar menunggu seseorang yang ingin Dia temui.
Cklek...
Pintu ruangan itu terbuka menampilkan Samuel dan Kevin yang datang bersamaan, Agalista sontak tersenyum sumringah menghampiri Samuel dan bersiap memeluk pria itu tapi di halau kuat oleh Kevin.
"Gadis si@lan kenapa kau punya nyali datang kesini, tempat mu di pemukiman sana,"umpat Kevin menahan kening gadis itu dan mendorong nya.
"Kevin!!!"rengek gadis itu memasang wajah cemberut.
"Aku ingin menemui tunangan ku apa ada masalah?"tanya Agalista merasa kesal menatap Kevin.
Pria itu yang biasanya kalem menghela nafas kasar, ingin sekali Dia mencekik gadis itu jika Dia bukan seseorang yang penting.
"Agalista tunangan mu itu Kevin, jadi jangan ganggu ketenangan ku, atau Aku akan mencinc@ng mu,"ucap Samuel dengan raut wajah datar nya dan duduk di sofa.
Bukan nya Agalista takut, gadis itu malah tersenyum sumringah mendengar penuturan Samuel yang menurut nya sangat berani.
"Sam, Aku jauh lebih suka diri mu, Kevin tidak terlalu gantle untuk ku, sebaik nya pikirkan ini, Aku bisa membantu mu,"ucap Agalista tersenyum mengoda dan memeluk lengan Samuel.
Pria itu menghempaskan tangan Agalista, ingin sekali Samuel menarik rambut wanita itu, jika Dia bukan tunangan Kevin saat ini, pria itu masih menghargai Kevin sebagai rekan kerja sekaligus kakak bagi nya.
"Aku akan ke ruangan ku, Sadam mulai lacak dan lanjutkan pekerjaan mu,"ujar Samuel berdiri dan memasukan kedua tangan nya ke saku celana dan melengang menjauh dari ruangan itu.
Kevin melipat kedua tangan nya di dada menatap Agalista yang memandang nya remeh, cukup sabar Kevin sebagai calon tunangan nya itu, walaupun pria itu sama sekali tidak berharap Agalista akan menjadi tunangan nya, Dia sangat muak melihat gaya alay wanita itu.
"Sebaiknya kau pulang, atau kau mau Aku menyeret mu,"ketus Kevin.
"Kau tega melakukan itu kepada wanita mu yang cantik ini, ingat pesan Daddy ku Kevin, Black code berhutang banyak kepada Daddy ku,"ucap Agalista dengan suara merengek tapi dengan kecaman yang mengancam posisi Kevin.
Tangan besar Kevin mengusap wajah nya kasar menatap tingkah Agalista yang tidak bisa di tolak, ini salah Daddy nya yang sudah meninggalkan urusan di dunia padahal diri nya sudah lama mati dan tertidur tenang di alam sana.
Sepertinya musim penghujan membuat aktivitas sangat terganggu, seperti kala nya saat ini Lenka yang bersiap pulang karena hari sudah semakin gelap, gadis itu mendengus kesal merasakan dingin menembus kulit putih nya.
"Hujan terus dah,"gumam Lenka menatap langit yang memang dari tadi tidak bersahabat.
Gadis itu berlari menerobos hujan saat Dia seharusnya bisa menaiki taksi, langkah kaki nya terhenti ketika melihat siluet Samuel yang berada di dalam restoran, membuat Lenka yang berlari tersenyum dan menghampiri untuk masuk ke dalam restoran itu, tapi mata nya terhenti melihat seorang wanita yang rasa nya pernah Dia temui bergelayut manja pada lengan kekasih nya.
Drt.. drt..
"Bos ada apa?"tanya Kevin di seberang telpon sana.
"Jemput tunangan mu, sebelum kesabaran ku habis di sini Kevin, apa kau tidak mengikat nya saat kalian masuk ke dalam mobil,"ucap Samuel dengan suara dingin nya.
Agalista yang mendengar itu hanya bodoamad dan tertawa puas karena berhasil membodohi Kevin, pria itu menatap ke kursi penumpang, Dia membuka kain yang Dia pikir sudah mengikat Agalista, tapi itu apa? Sebuah kain berlapis.
"**1*, Dia akan menerima hukuman nya,"umpat Kevin membanting setir mobil nya.
"Saya akan kesana Bos,"ucap Kevin mematikan ponsel nya dan memutar kembali ke arah apartemen Samuel.
Pria itu duduk sendiri, dengan seenaknya Agalista ikut duduk di kursi yang hanya di sediakan dua pasang di meja itu, tanpa dua orang itu sadari seorang gadis dengan pakaian basah nya berjalan dan masuk menghiraukan karyawan yang marah karena mengotori restoran mewah itu.
"Aku akan membeli restoran ini,"teriak Lenka merasa kesal melihat Samuel yang duduk dengan seorang wanita.
Tanpa pikir panjang Lenka langsung menarik rambut Agalista, membuat gadis itu mendongkak dan meringis kesakitan, Samuel yang menatap itu sebenarnya terkejut, tapi tetap memasang wajah santai dan datar nya.
"Kau bekerja atau pergi berkencan Tuan Morgan?"gumam Lenka masih menahan tarikan pada rambut Agalista.
Akhh..
"Gadis kecil, kau merusak rambut indah ku!"teriak Agalista memukul tangan kecil Lenka dengan kuat supaya melepaskan nya.
"Kau diam sebelum Aku menyuntik mu dengan suntik mati pengoda,"kesal Lenka menahan amarah menatap Agalista.
Samuel seperti nya sangat suka melihat gadis nya itu sangat berani dalam bicara, membuat pria itu yang melihat Agalista di tarik dan wajah Lenka yang kesal hanya membuat nya menyeringai.
"Nona William, apa kau barusan cemburu?"tanya Samuel dengan tatapan mengoda nya.
"Aku cemburu? Dengan gadis mu yang nyentrik ini? Maaf, selera ku tinggi jika ingin mencemburui pengoda,"kesal Lenka menghempas rambut Agalista berjalan pergi dari sana siap meninggalkan Samuel.
Entah kenapa Lenka yang habis marah itu ingin sekali rasa nya menangis, padahal Dia tidak tahu permasalahan nya apa, tapi melihat Samuel dekat dengan wanita lain sudah membuat nya merasa di khianati.
Gadis itu menerobos hujan dengan derai air mata yang bercucuran merasa sesak atas perlakuan Samuel, si@l nya sakit ini hampir sama saat Raider mengkhianti nya.
'Apa Aku benar menyukai pria tua pyso itu,' batin Lenka.
Samuel yang sudah puas mengerjai gadis nya itu seketika merasa kesal sendiri karena sudah membuat Lenka salah paham, dengan kesal Samuel berjalan mengejar Lenka tapi di tahan oleh Agalista.
"Sam kau mau kemana, apa kau akan memarahi gadis yang menjahati ku tadi?"tanya Agalista dengan senyum senang.
"Ck, itu tidak mungkin karena Dia itu pacar ku,"