SAMUEL

SAMUEL
BAB 84



Sudah hampir seminggu lama nya Lenka selalu setia menemani Sam, karena di ruangan itu ada sofa besar yang muat tidur, Lenka memutuskan untuk menjaga siang dan malam, sebenarnya hal itu sangat tidak di setujui keluarga Alferoz, takut jika putri sahabat nya itu sakit.


Tapi Lenka meyakinkan mereka dengan rayuan manis nya kepada uncle dan aunty nya itu, membuat siapa pun tidak bisa menolak bujukan Lenka.


Pagi hari..


Suara air shower dari kamar mandi di ruangan Samuel terdengar, ternyata Lenka bangun pagi biasanya jam 5 untuk mandi dan mulai beraktifitas.


"Segar nya,"gumam Lenka tersenyum sudah keluar dengan pakaian bersih nya.


Gadis itu melihat wajah nya di pantulan cermin, wajah nya yang akhir-akhir ini kurus karena banyak menangis mulai kembali normal seperti biasa nya, karena gadis itu semangat makan jika di dekat pria nya itu.


Bip.. bip...


Suara monitor detak jantung masih terdengar jelas, selang pernafasan juga melingkar di wajah Samuel, Lenka membuka jendela kamar itu dengan senyum manis nya.


"Sam, selamat pagi. Kali ini aku bangun pagi lagi tidak telat seperti biasa nya, aku sudah belajar bangun pagi agar saat kita menikah kau tidak perlu repot membangunkan ku, aku yang akan membangunkan mu,"ucap gadis itu berbicara kepada pria yang sedang terbaring itu.


Lenka mengambil posisi duduk di samping Sam, gadis itu mengengam tangan besar putih pria itu yang sangat menjadi hobi nya, cukup seperti ini adalah kegiatan yang paling Lenka senangi akhir-akhir ini.


"Sam kau tahu? Kau terlihat tampan jika tertidur seperti ini, aku tidak perlu mendengar rengekan manja mu yang membuat ku geli, tapi entah kenapa akhir-akhir ini aku ingin sekali mendengar suara mu, bicaralah Sam,"ucap Lenka kembali menatap pria yang masih setia menutup mata nya.


Tidak ada sahutan sama sekali, seolah pria itu sangat tidak ingin di ganggu dari tidur panjang, dia sangat menikmati itu semuanya tanpa tahu gadis nya ini sangat merindukan nya. Lenka tersenyum lalu berdiri mengambil baskom dan handuk yang akan dia gunakan untuk membersihkan badan pria itu.


"Jangan sombong, aku hanya membantu mu kau tahu,"ketus Lenka membuka kancing baju pria itu dan mengelap otot otot tubuh Sam dengan jari lentik nya.


"Sam kenapa otot perut mu tetap awet, bukan kah kerjaan mu tidur saja, harus nya ini tidak berbentuk lagi bukan? Dasar kau memiliki banyak kelebihan,"ucap Lenka kembali mengancing baju pasien Samuel.


Lama gadis itu mengobrol, Lenka mendengar suara pintu yang terbuka dari luar, ternyata itu seorang perawat. Bukan perawat untuk Sam, karena Reno tidak mengizinkan siapa pun mendekati dan mengurus adik sepupu nya itu kecuali oleh Michele dan Lenka.


Cklek...


"Maaf menganggu dok, ini titipan makan dari tuan muda Luis,"ujar perawat itu meletakan beberapa makanan kesukaan Lenka.


"Terimakasih, bisakah kau meninggalkan nya satu, ambil sisa nya aku tidak kuat makan sebanyak itu,"jelas Lenka.


"Terimakasih dok,"ucap perawat itu mengikuti keinginan Lenka.


Jika biasa nya Lenka bisa makan banyak apa pun akan dia coba, tapi sekarang tidak. Dia memang sudah mood makan tapi dalam porsi yang tidak biasa nya.


"Tuan Samuel morgan, aku makan dulu yah. Jika kau ingin aku suapi cepat lah bangun,"gerutu gadis itu menyendok makanan nya ke mulut dengan beberapa suapan.


Suasana makan Lenka terus ada obrolan demi obrolan yang tidak habis di lontarkan gadis itu kepada pria yang terbaring pasif di ranjang pasien itu, Lenka menyelesaikan makanan nya lalu melihat uncle Michele yang datang untuk kontrol keadaan Samuel.


"Jangan memaksa kan diri mu dengan terus berada di sini Lenka, tinggalkan saja pria ini tidur sendiri, kau terlalu memanjakan nya,"ucap Michele bercanda kepada anak perempuan william itu.


"Namanya juga bucin uncle, oiya Lenka mau keluar dulu yah uncle titip Sam."ucap Lenka pamit dan berlalu pergi dari sana.


Michele tampak mengeleng tertawa dengan tingkah gadis william itu, semenjak dia bertemu Lenka dari gadis itu berumur 3 tahun saat dia bulan madu ke indonesia, Lenka adalah orang yang sangat ambis, ternyata dengan pria dia juga seperti itu.


Langkah kaki Lenka berjalan menyusuri lorong Rs, dia pergi keluar. Bukan ingin pergi ke mansion Alferoz, tapi di sini lah gadis itu saat ini, berdiri di gang sepi sambil menatap langit kota Roma yang cerah.


Bruk...


"Maafkan aku, aku tidak sengaja menjatuhkan kotak itu,"tunjuk pria itu kepada sebuah kotak kardus yang sudah tergeletak.


"Ah tidak apa-apa,"ucap Lenka tersenyum kecil.


Pria yang seperti nya lebih tua dari Lenka beberapa tahun terpesona akan senyuman manis gadis itu, pria itu terus menatap Lenka. Membuat gadis itu merasa sedikit risih.


"Maaf aku pamit dulu,"ujar Lenka berlalu.


"Kenapa kau tiap hari ada di sini di jam yang sama?"tanya pria yang tidak di kenal Lenka itu spontan.


Langkah kaki Lenka terhenti, gadis itu menaikan satu alis nya membalikan badan menatap pria yang lumayan tampan khas asli orang Italia itu.


"Kau melihat ku di sini setiah hari?"tanya Lenka.


"Ya aku melihat mu, apa tempat ini ada emas nya. Kenapa gadis cantik seperti mu berdiri di gang sepi ini, itu aneh bukan,"jawab pria itu.


"Ini pribadi tapi untuk mu akan aku beritahu, tempat ini adalah tempat pertemuan pertama ku dengan pria yang aku cintai. Sebenarnya bukan pertama, lebih tepat nya pertama setelah aku menemui nya ketika sudah remaja, dia kekasih ku,"senyum Lenka.


"Kau memiliki kekasih, hilang sudah harapan ku berkenalan dengan mu. Kenapa kau tidak datang bersama kekasih mu?"tanya pria itu kembali.


"Aku akan datang bersama dia suatu hari nanti, aku pergi. Dan salam kenal nama ku Lenka,"jawab gadis itu pamit dan menuju mobil nya.


Percakapan singkat itu membuat Lenka tersenyum, memang benar dia selalu berada di sana hanya sekedar bernostalgia tentang kejadian waktu itu. Mobil Lenka kembali menuju rumah sakit Alferoz.


Malam hari nya


Gadis itu tidak pernah bosan jika tidak memiliki siaran, bukan di sana tidak TV. Lenka tidak mungkin melakukan itu di ruangan orang tengah di rawat, jika pagi hari gadis itu tersenyum. Tidak dengan malam sebelum dia tidur, gadis itu selalu menangis.


Hiks.. hiks..


Selimut yang menyelimuti tubuh Sam bagian lengan nya itu sudah basah akibat tangisan Lenka, gadis itu mencurahkan semua kerinduan nya ketika langit sudah berubah warna, sedikit aneh, tapi itu lah Lenka.


"Sam, bangunlah, kenapa kau sangat ingin tidur lama,"


"Apa kita tidak jadi menikah?"


"Sam apa kau tahu, banyak pria yang mendekati ku, tapi aku menolak karena aku hanya mencintai mu,"


"Cepatlah bangun Sam, berapa lama kau akan bertahan dalam tidur mu,"


"Aku lelah,"gumam Lenka di akhir kalimat nya.


Tidak ada jawaban sama sekali, lagi-lagi pria itu setia dengan tidur nya. Lenka memilih naik ke kasur Samuel yang memang lebih berukuran besar bisa di naiki 3 orang mungkin, gadis itu naik di sisi kiri, lengan kecil nya memeluk pinggang Sam yang terasa kaku. Bola mata gadis itu sudah memerah dan membengkak, dia melirik Sam yang masih tertidur, hingga akhirnya beberapa detik gadis itu berusaha memejamkan mata nya.


"Sam, jangan tinggalkan aku, cepatlah bangun,"gumam Lenka dengan mata yang tetutup.


Sebuah pergerakan terasa di lengan Sam yang Lenka rangkul, gadis itu tidak menyadari nya, sebuah bola mata bewarna biru terbuka pelan, mata nya mengatur menyesuaikan dengan pandangan nya, dengan tangan yang terasa kaku dan susah bergerak akibat terlalu lama tidak di gerakan. Pria itu berusaha mengusap kepala gadis yang berbaring di samping nya.


"Sayang, aku baik-baik saja,"