SAMUEL

SAMUEL
BAB 16



Dengan pakaian jas hitam dan kacamata hitam nya pria itu berjalan dengan elegan nya melewati suasana rumah sakit yang begitu ramai ketika jam makan siang, Samuel berjalan menelusuri setiap sudut rumah sakit dengan arah tatapan nya.


Hingga akhirnya pandangan nya tertuju kepada gadis yang sedang keluar dari lift dengan seorang pria, Samuel seketika melepaskan kacamata nya menatap Lenka.


"Apa Dia sudah punya pacar lagi,"gumam Samuel kesal menatap kedekatan Lenka dengan pria itu.


Lenka yang sedang tertawa tidak sengaja menatap Samuel yang menatap ke arah nya kopi yang ada di gengaman nya seketika terjatuh karena melihat Samuel memasang wajah kesal.


Brak...


'Ada apa dengan Dia,' ucap Lenka merasa terkejut dengan kedatangan Samuel dan ekspresi wajah pria itu.


Teman pria Lenka itu seketika kaget ketika Lenka menjatuhkan kopi panas yang hampir mengenai kaki nya, membuat pria itu berjongkok melihat kaki Lenka.


"Lenka kaki kau terkena tumpahan kopi, apa ini tidak sakit?"tanya pria itu sedikit khawatir kepada Lenka.


Seketika Lenka yang baru sadar itu berjinjit dan berjalan mundur, Dia sedikit meringis lalu mendongkakan kepala nya ketika melihat Samuel yang sudah mengendong nya.


Grep..


"Kyaa Sam apa yang kau lakukan,"teriak Lenka mengalungkan tangan nya ke leher Samuel.


"Aku membantu mu,"ucap Samuel dengan seadanya menjawab pertanyaan Lenka itu.


"Jangan, Aku baik-baik saja, dan kenapa kau di sini seharusnya kau bekerja, jangan malas-malasan atau kau tidak akan menerima gaji,"ujar Lenka mengomel di dalam gendongan Samuel.


Pria itu hanya mengacuh mendengar omelan berisik itu lalu mendudukan Lenka di atas kursi panjang yang ada di RS, memang kaki Lenka tidak apa-apa saat Dia melihat nya.


"Apa ini sakit?"ucap Samuel menatap Lenka yang duduk di depan nya.


"Aku bilang tidak sakit, itu salah mu mengkaget kan ku dengan tatapan tajam mu itu,"ujar Lenka melipat kedua tangan nya di dada sambil membuang muka.


Samuel beralih duduk di samping Lenka, semua mata tertuju kepada Samuel yang sedang duduk dengan dokter Lenka itu.


"Aku kesini karena Aku bekerja, apa kau lupa Aku ini pengawal mu,"ucap Samuel dengan santai nya menjawab.


"Anda siapa?"ujar seorang pria yang datang di samping Samuel bertanya.


Pria itu tadi malah ketinggalan dan malah hanya menatap adegan seperti di drama di depan diri nya itu, Samuel yang mendengar sumber suara mendongkak wajah nya ke atas.


"Apa Anda pacar Lenka?"tanya pria itu.


Seketika Samuel yang berwajah datar tersenyum kecil menepuk bahu pria itu, entah kenapa membuat pria berjas dokter itu heran, sedangkan Lenka hanya memegang kepala nya.


"Aku memang pacar nya, tolong jaga pacar ku, dan kau juga jaga jarak dengan nya tiga meter saat kalian bicara,"ucap Samuel memperingati pria itu.


"Sudahlah Sam sebaiknya kau kembali dan lakukan pekerjaan mu, Aku tidak ada waktu meladani kegabutan mu,"ucap Lenka kesal karena pria itu terus berada di sekeliling nya.


Grep..


Lenka yang berjalan seketika tangan nya di tarik dan tubuh nya sontak berbalik ke Samuel dan wajah nya membentur dada bidang pria itu, Samuel mengecup kening Lenka sekilas dan mengacak-acak rambut nya.


Gadis itu melihat punggung lebar Samuel menjauh di ikuti dua pria berjas hitam, Lenka menyentuh rambut nya yang di sentuh Samuel tadi entah kenapa perlakuan hangat Samuel membuat nya lebih nyaman ketimbang dengan tatapan datar pria itu, pipi nya memerah merasa malu karena sikap manis pria itu.


"Dia selalu saja membuat kejutan aneh,"gumam Lenka tersenyum dan berjalan menaiki lift bersama teman pria nya itu.


Begitu pun dengan Samuel yang keluar dari gedung RS itu terus tersenyum, bertemu dengan Lenka walaupun sebentar itu sudah membuat nya senang, hal kecil itu sudah mengobati rasa rindu nya.


Lenka yang berjalan masuk ke ruangan nya itu terus menerima ucapan terimakasih membuat Dia bingung.


"Lenka terimakasih yah,"


Begitu lah yang Dia dengar di sepanjang jalan hingga akhirnya Dia merasa kesal dan memilih bertanya kepada perawat yang juga mengucapkan terimakasih.


"Dokter Lenka terimakasih,"


"Tunggu kenapa kalian terus berterima kasih kepada ku? Apa Aku akan di pecat,"ucap Lenka dengan bod0h nya padahal Dia tidak akan pernah mendapatkan surat pecat itu seumur hidup nya.


"Bukan dok, tadi ada dua orang pria berjas hitam membagikan kami makanan mereka bilang ini dari Anda dan pacar Anda Samuel,"ujar perawat itu yang mengatakan apa yang memang benar adanya.


Seketika otak Lenka baru sadar, pantas saja dua orang pria yang di belakang Samuel datang tanpa arah mengikuti Samuel yang sebelum nya tidak ada di dekat pria itu.


"Aku tidak ada,"ujar teman pria Lenka yang merasa kecewa.


"Ada dok di atas meja Anda,"ujar perawat itu pamit dan pergi.


Semua orang merasa senang, tentu Lenka yang mendapat ucapan itu juga senang karena semua orang jauh lebih ramah kepada diri nya itu.


Jam berlalu, sore berganti menjadi malam pekerjaan Lenka telah selesai ketika malam hari datang, langkah kaki nya menyusuri apartemen nya, Dia melirik dua orang pengawal yang berjaga di depan pintu kamar Samuel, dua pria itu menyapa Lenka.


"Kasihan sekali para bodyguard itu tidak tidur semalaman,"gumam Lenka melangkah kan kaki nya masuk ke dalam apartemen.


Hal yang paling Dia rindukan ketika sudah berada di rumah adalah kasur empuk nya dan suasana rileks serta santai, tapi malam ini entah kenapa suasana hujan petir terdengar sangat buruk di telinga Lenka, apalagi berada di apartemen tinggi membuat nya mendengar jelas suara petir tersebut.


"Kenapa harus petir sih, Aku kan tidak suka,"gumam Lenka mengigit ibu jari nya meringkuk di sebalik selimut berusaha untuk tertidur.


Tak..


Seketika lampu di apartemen nya mati, hal yang paling buruk sesudah petir adalah kegelapan, Lenka seketika langsung berdiri karena terkejut dan terjatuh dari kasur sehingga kepala nya membentur ke atas lantai.


Bruk..


"Akhh hiks hiks mereka tidak bilang akan melakukan pemadaman listrik malam ini,"gumam Lenka berusaha mencari ponsel nya sambil menangis menyenteri jalan keluar apartemen.


Gadis itu membuka pintu apartemen dengan wajah sembab karena menangis dan luka benjol di kening karena terjatuh.


"Hei kau bangunkan Samuel, temeni Aku,"teriak Lenka menangis sesegukan.


Kedua bodyguard itu saling pandang, tapi Samuel berpesan menolak siapa pun yang menganggu diskusi nya malam ini atau mereka akan di gorok.


"Tapi Nona,"