
Suasana di ruangan khusus markas aeros terlihat sangat serius kali ini, Samuel seketika mengamati sadam yang dengan gerak cepat mencari tahu dengan hanya satu bukti yang di berikan oleh varo kepada nya.
“Nice,”gumam sadam tersenyum miring lalu melirik sang big bos.
Samuel melirik sadam seolah bertanya kepada bawahan nya itu sadam terlihat mengangguk mengatakan iya.
“Aku menemukan nya,”senyum sadam dengan puas.
Klik…
Hanya dengan satu kali klik an akhirnya sadam dapat melihat siapa biodata yang keluar di sana, terlihat semua orang tercengang menatap biodata seorang wanita muda yang tidak mereka kenal.
“Biodata nya sangat terbatas, seperti nya wanita ini bukan sembarang warga biasa,”ucap sadam memperlihatkan apa yang dia temukan tersebut.
“Dad kau kenal?”tanya Samuel melirik varo.
“Lanjutkan sadam dengan bukti yang kau lacak,”ucap varo memerintah bawahan Samuel itu dia mulai merasa familier dengan semua ini.
Sadam terlihat kembali mengecek segala cctv yang ada satu persatu dia buka hingga menghabiskan waktu beberapa jam lama nya, sedangkan Samuel terlihat duduk sambil mengabari sang istri yang menelpon nya itu.
“Tuan,”ucap sadam mengangguk.
Seperti nya sadam sudah menemukan sebuah bukti yang lebih menyakinkan, semua orang terlihat mendekat menatap sebuah layar besar di dalam ruangan khusus itu panggilan suara yang di sadap sadam di simpan lalu langsung di putar dengan keras nya di telinga semua orang.
Klik..
Sadam memulai suara panggilan itu, terlihat seorang wanita terdengar berkomunikasi dengan seorang pria di telpon sana dengan nada pelan nya.
“Kau yakin akan bertindak segegabah ini mereka itu William group,”ucap seseorang di seberang telpon sana.
Wanita itu terlihat terkekeh dengan pernyataan pria yang menyarankan hal itu kepada nya, dia terlihat marah mendengar ketika pria itu tidak memperdayai rencana yang telah dia bangun dengan matang ini.
“Kau meremehkan ku?”ucap wanita itu bertanya.
“Tidak aku tidak meremehkan mu, tapi level kita berbeda dengan mereka.”cicit pria itu berusaha menjelaskan semua yang ada pada sang wanita.
“Level kita setara georges. Siapa suruh wanita miskin itu mengambil seorang varo William dari ibu ku, aku harus membunuh regita ananda dia tidak pantas menyandang nama belakang William dengan status abstrak nya itu. Sudah cukup mom ku merencanakan menghancurkan keluarga mereka tapi takdir sangat bodoh malah mempersatukan mereka. Jika mommy ku tidak bahagia maka wanita tua itu juga tidak boleh bahagia, aku akan mengantarkan nya ke mommy ku di surga,”kekeh wanita itu dengan keras.
Tawa wanita terdengar sangat serem membuat siapa saja pasti akan merinding kecuali Samuel yang sudah biasa mendengar itu, tak kala mendengar suara yang di sadap sadam itu seketika Samuel tertegun jadi yang menjadi target nya bukan Lenka tetapi rere? Sang ibu mertua.
“Dad,”lirik Samuel menatap varo.
“Ya aku tahu Sam, wanita itu adalah anak dari mantan pacar ku yang pertama, ternyata dia seorang anak yang memiliki hati busuk sebelas dua belas. Setelah beberapa puluh tahun pernikahan aku dan Lenka masih saja ada yang tidak menyukai istri aku, dia sangat meremehkan seorang varo William. Aku akan mengeeksesuki nya,”ucap varo dengan mata tajam nya.
Pantas saja ketika kejadian penembakan seolah penembak itu malah menargetkan senjata mereka kepada rere bukan kepada Lenka, bagaimana Samuel bisa melewatkan hal sekecil itu. Jika kenyataan nya Lenka lah yang melompat dan mendorong rere untuk menyelamatkan kan sang mommy.
Tuk.. tuk..
Suara ketikan meja dari tangan Samuel terdengar jelas, pria itu terlihat mendorong kursi nya lau berdiri di depan para petinggi aeros.
“Bagaimana tuan?”lirik Samuel kepada varo.
Varo terlihat memutar bola nya malas ayolah mereka sedang tidak berakting melakukan penyelidikan seperti beberapa puluh tahun lalu sebelum Samuel menjadi menantu nya saat itu, tapi hal ini seperti deja vu.
“Kau atur Sam, kau tahu apa yang harus kau lakukan, ingat aeros ada di bawah naungan William group,”ucap varo mencengkeram bahu sang menantu.
“Dad aku tahu,”ucap Sam seolah menahan tangan varo menekan bahu nya dengan kuat.
Ayolah walaupun pria itu sudah tua tapi tenaga nya pasti sangat kuat untuk melawan Samuel mungkin varo masih bisa melakukan nya.
“Sadam berikan koordniat titik wanita itu kepada arbian, lalu suruh arbian dan Jastin menangkap wanita itu.”
“Aku tidak mau tahu kalian keluarkan tim terbaik jika wanita itu memiliki anggota yang lebih kuat keluarkan rencana A nya, bunuh saja wanita itu aku tidak peduli hidup atau mati minimal penggal kepala nya,”ucap Samuel dengan tajam.
Ya walaupun diri nya sudah sangat lega bukan Lenka yang di target kan itu berarti mereka memang tidak memiliki musuh yang tidak di sukai lagi, tapi hal ini tetap masalah bagi Samuel. Rere adalah mertua nya sekaligus mommy dari Lenka, sang istri pasti akan sangat sedih mengetahui semua ini.
Jadi Samuel akan melakukan apa pun untuk menangkap pelaku dan membuat sang istri tersenyum bahagia menerima kabar yang dia bawa. Sadam terlihat mengangguk mendengar perintah dari sang big bos.
“Siap tuan, Arbian sudah aku turunkan koordinat nya,”lirik sadam kepada sang sahabat.
“Lets a play the partty,”ucap arbian dengan senang mendapatkan misi besar.
Walaupun misi besar ini bisa saja membuat nya pulang tanpa nyawa atau hanya tinggal nama saja tapi bagi arbian ini adalah hal yang paling sangat menantang bagi nya, pria itu terlihat melangkah menuju ruangan persiapan senjata bersama bawahan nya.
Di sisi lain Jastin yang tengah menikmati kopi dan pisang goreng di temanin dua wanita dan dua bodyguard yang menjaga di depan pintu terlihat menikmati gorengan nya.
“Kau tidak mau nek? Kau juga nona?”tawar Jastin kepada kedua orang itu.
Caroline terlihat mengeleng cepat sedangkan wanita paruh baya itu hanya diam menunduk, caroline melirik Jastin yang masih bisa makan enak setelah keluar dari ruangan yang membuat perut nya mual dan jijik itu.
Apakah pria ini manusia atau bukan entahlah caroline juga heran, saat caroline melamunkan itu semua. Seketika suara pintu terbuka dari luar terdengar.
Krik..
“Jastin kau di pangggil bos arbian, misi A di turunkan,”ucap salah satu bodyguard yang datang memanggil Jastin.”
“YTTA, aku suka ini, kita akan membantai mereka lets go,”