SAMUEL

SAMUEL
BAB 15



Plak..


Lenka memukul pelan pipi pria itu dengan wajah kesal mendengar jawaban Samuel yang malah meminta sesuatu bukan membantu nya itu, cukup ciuman pertama nya saja jangan sampai yang seterusnya.


"Hei mana sopan santun mu, Aku ini anggota keluarga William yang membayar mu, kau itu pengawal ku bukan, kau itu bawahan ku, cepat,"ujar Lenka menjawab permintaan Samuel yang aneh menurut diri nya.


"Keluarga mu memang membayar ku, tapi jangan anggap Aku bawahan mu Nona, Aku bekerja di William karena wasiat orang tua ku yang sangat berterimakasih kepada William, jika Aku mau, Aku bisa membuat kelompok ku sendiri dengan otak ku, apa kau menganggap ku selama ini hanya bawahan mu?"ujar Samuel yang tadi memasang wajah datar tapi masih bisa sesekali tersenyum kecil.


Raut wajah itu sudah berubah menjadi wajah datar dan tidak bersahabat menatap Lenka yang berada dalam pelukan nya, Samuel menurunkan Lenka dalam pelukan nya.


Cklek..


Samuel membuka pintu apartemen nya dengan masih berwajah datar.


"Pakai kamar mandi ku, Aku akan mengurus nya,"ujar Samuel kepada Lenka.


Pria itu langsung pergi meninggalkan Lenka yang berdiri di depan pintu apartemen Samuel yang terbuka, Dia merasa bersalah ketika melihat ekspresi Samuel yang tidak terima, Lenka sama sekali tidak bermaksud merendahkan posisi Samuel.


Drap.. drap..


Samuel berjalan di taman memakai earphone sambil mendengarkan musik sesekali tatapan para gadis yang juga lari pagi menatap Samuel dengan kagum.


'Apa Aku hanya seorang pengawal di mata gadis kecil itu, seperti itu Dia melihat perhatian ku selama ini,' batin Samuel melangkah kan kaki nya menjauh dari apartemen.


Sementara itu Lenka memakai kamar mandi yang ada di kamar pria itu, setelah selesai Dia bingung memakai handuk siapa karena Dia tidak membawa handuk dan baju ganti, dengan asal Lenka mengambil handuk dan kemeja putih Samuel yang ada di lemari itu.


"Kenapa Dia sangat sensitif,"gumam Lenka yang sedang duduk di kasur pria itu yang sudah sangat rapi dalam berbagai sudut.


Lenka melihat isi kamar Samuel walaupun itu kurang sopan entah kenapa jika itu tentang Samuel membuat nya penasaran, hingga mata nya menangkap sebuah foto diri nya yang masih berumur 5 tahun dengan Samuel versi remaja yang berada di mansion Alferoz.


"Astaga, apa Aku dulu waktu bocah sedekat ini dengan Sam,"gumam Lenka yang tampak terkejut.


Di dalam foto itu Samuel seperti tertekan dan Lenka yang memeluk leher pria itu agar tidak terjatuh dalam gendongan Samuel, dan kakak nya yang lain yang berdiri di kaki Samuel dengan ikut tersenyum.


"Tapi Sam terlihat kesal di foto ini,"ucap Lenka ketus.


Gadis itu meletakan kembali foto nya, lalu memilih memasakan Samuel sarapan untuk permintaan maaf, tapi Dia juga merasa heran kenapa Dia harus memikirkan perasaan pria itu, otak nya berkata untuk abaikan tapi hati nya berteriak minta maaf.


"Ck Aku akan bikin omelet dengan nasi goreng saja, oiya Dia tidak suka pedas,"ujar Lenka dengan cepat memasak dengan cekatan nya.


Lenka mengambil kertas dan bersiap meninggalkan pesan hingga akhirnya Samuel membuka pintu apartemen.


Cklek..


Lenka yang ingin menulis dan sedikit menunduk itu seketika berdiri lurus, mata mereka saling beradu pandang, Samuel menatap nya datar.


"Sam kau kembali, Aku membuatkan mu sarapan untuk permintaan maaf atas ucapan ku tadi emm dan juga terimakasih untuk meminjam kan kamar mandi,"balas Lenka dengan menunduk malu karena harus mengakui kesalahan nya itu.


Tanpa Lenka sadari pria itu bukan nya memperhatikan ucapan gadis itu tapi Dia malah memperhatikan Lenka yang hanya memakai kemeja putih kebesaran dan rambut basah, sehingga terlihat lah paha nya yang putih mulus membuat Samuel meneguk saliva nya kasar.


Glek..


'Si@l bocah polos ini,' umpat Samuel.


Pria itu menutup pintu apartemen nya lalu berjalan mendekat kepada Lenka, suara gadis itu seperti nada silent bagi nya hanya gerakan bibir yang dapat Dia lihat tanpa suara hingga akhirnya.


Grep..


Prank..


"Sam, apa yang kau lakukan, lihat lah jadi berantakan,"kesal Lenka yang bersiap turun dari atas meja.


Samuel menahan dagu gadis itu dan menarik nya mendekat kepada wajah nya, mata mereka saling beradu pandang dan untuk ketiga kalinya Lenka menatap mata pria itu dekat.


Deg.. deg..


'Samuel gil@ menjauh lah dari ku, kau membuat jantung ku berdiskotik ria,' batin Lenka yang terdiam.


Hembusan nafas Samuel menerpa wajah cantik Lenka, pria itu menahan satu tangan nya di meja sebagai sandaran satu lagi di pinggang gadis itu membuat tubuh mereka saling mepet.


"Jangan mengoda ku, apa-apaan pakaian mu ini babe," gumam Samuel mengusap paha putih Lenka dengan lengan besar nya.


Seketika tubuh gadis itu menegang merasakan usapan tangan Samuel pada paha nya, desiran aneh dan sengatan listrik membuat tubuh nya meminta lebih.


"A a aku lupa membawa pakaian ku, kau sendiri tadi menyuruh ku langsung masuk,"ujar gadis itu memang ada benar nya karena Dia terburu-buru masuk ke kamar mandi.


"Sstt,"


Samuel meletakan jari nya di bibir Lenka, pria itu menahan gejolak dan menghembuskan nafas nya kesal mengusap wajah cantik Lenka.


"Shut up babe, before i kiss you (diam sayang, sebelum aku mencium mu)," gumam Samuel dengan wajah datar nya.


Tangan mungil nya yang mendengar gumaman pria itu seketika refleks menutup mulut nya sebelum ciuman kedua nya hilang, Samuel menjauh dari Lenka, lalu membantu gadis itu turun.


Lenka seketika lari terbirit-birit keluar apartemen Samuel karena merasa malu karena perlakuan Samuel tadi.


Deg.. deg..


Samuel menatap pintu yang di tutup Lenka, jantung nya masih berdetak akibat posisi nya nya dengan Lenka membuat pria itu merasa tidak aman dan akan bertindak lebih.


"Damn it, she is so cute (Astaga, dia sangat imut)," ujar Samuel mengingat ekspresi Lenka seperti kucing kecil dengan wajah ketakutan dan memelas seperti tadi.


Pria itu menatap makanan yang ada di atas meja dengan tersenyum senang dan langsung memakan nya.


Brak..


Sementara itu Lenka terus mengutuk tingkah Samuel yang seenaknya sambil menunjuk pintu apartemen.


"Dasar Samuel pria tampan, Aku membenci mu, kenapa kau sangat tampan dan pintar bicara si@lan!"teriak Lenka mengatur nafas nya.


Kejadian pagi itu membuat Samuel yang berada di markas Aeros saat ini sedang duduk di sofa sesekali tersenyum dan mengusap wajah nya membuat semua orang merinding.


"Boss, are you all right?"ucap Arbian mengatakan itu.


Brak..


Samuel melempar kotak tisu yang ada di depan nya kepada Arbian.


"Si@l apa kau mengira Aku gil@ hah,"ujar Samuel yang tidak terima dengan perkataan pria itu.


Sementara itu semua orang yang berada di sana hanya saling melirik dan mengangguk serta membatin dengan sama.


'Kau memang gil@ bos, dari tadi kau tersenyum dan tertawa sendiri,'