SAMUEL

SAMUEL
BAB 108



Keesokan hari nya


"Coba pake yang di kasih Lenka deh,"gumam Gisel mengeluarkan kotak soflens dan memakai nya dengan hati-hati.


Pagi itu Gisel terlihat rapi untuk datang ke kampus mengurus beberapa dokumen nya kepada dosen pembimbing nya, gadis itu terlihat cantik memakai kemeja putih yang pas dan juga rok hitam spans selutut yang memperlihatkan badan nya yang tercetak jelas.


Jika biasanya Gisel mengepang rambut nya dia mencoba mengerai rambut nya kali ini, Gisel juga mencoba memakai liptint agar bibir nya sedikit lebih indah.


"Ternyata aku cantik juga,"gumam gadis itu tersenyum senang mengatakan nya.


Cklek...


Pintu kamar terbuka menampilkan Sadam yang baru balik dari acara lari pagi nya, pria itu menatap istri nya yang tidak mempedulikan nya sama sekali. Gisel hanya fokus memperhatikan penampilan nya di cermin.


"Mau kemana?"tanya Sadam kepada istri nya.


"Aku ingin ke kampus suami ku,"jawab Gisel membalikan badan nya menatap Sadam yang duduk di sofa kamar sambil meminum minuman nya.


Pria itu melirik penampilan Gisel yang berbeda dari atas sampai bawah, membuat Gisel yang di tatap memasang senyum manis nya kepada Sadam.


"Apa aku cantik?"tanya Gisel.


"Jelek,"jawab Sadam ketus kepada istri nya.


"Aku sudah menebak,"jawab Gisel memasang wajah cemberut dan mengambil tas nya.


Gadis itu mendekat kepada Sadam, lalu mengarahkan satu tangan nya di depan Sadam membuat pria itu menaikan satu alis nya. Pria itu yang baru loading pun mengerti, dia mengeluarkan kartu atm nya dan memberikan nya ke tangan Gisel.


"Ini,"jawab Sadam.


Gisel yang merasa heran malah menatap bingung Sadam yang menyodorkan kartu atm ke depan wajah nya, gadis itu mengeleng dengan cepat, pasti Sadam salah mengartikan tindakan nya.


"Aku ingin pamit,"jawab Lenka menarik tangan Sadam dan mengecup nya.


"Aku pergi dulu suami ku,"jelas Gisel setelah menyalami pria itu.


Sadam yang bingung seketika baru tersadar, astaga gadis itu sangat sopan kepada nya walaupun mereka sering adu bacot satu sama lain, Sadam yang tersadar memanggil Gisel.


"Tunggu, aku akan mengantar mu,"jawab Sadam kepada sang gadis.


"Aku akan naik taxi suami,"jawab Gisel menolak.


"Jangan menolak ku, atau aku tidak mengizinkan mu pergi,"ancam Sadam meninggalkan Gisel yang berdiri di depan pintu kamar mereka dengan wajah kesal.


Pria itu masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Gisel memutuskan untuk menunggu di ruang makan bersama mama mertua dan adik ipar nya.


"Kak, apa kak Sadam masih lama? Rara sudah telat,"ujar Rara memakan sarapan nya dengan cepat.


"Tadi dia sedang mandi, tunggu sebentar kakak akan melihat,"jawab Gisel menuju kamar nya dan Sadam.


Gadis itu melangkahkan kaki mungil nya ke dalam kamar, dia tidak melihat Sadam sama sekali di kamar mandi, Gisel memutuskan menuju walk in closet kamar itu untuk mencek suami nya.


Bruk...


"Suami kau dimana,"teriak Gisel mencari di ruangan itu.


Pintu terbuka, suara sahutan Gisel berganti dengan suara teriakan ketika gadis itu melihat tubuh polos suami nya yang sedang berganti baju, Sadam yang merasa kaget dan juga heran langsung mendekat kepada Gisel menutup kuat mulut gadis itu.


"Arghhh,"


Alasan pria itu menutup mulut Gisel bukan karena takut ketahuan orang di luar terlebih kamar nya kedap suara, Sadam hanya merasa terganggu dengan teriakan Gisel yang membuat telinga bergetar di pagi hari.


"Suami ku bisakah kau pakai baju, aku malu,"jawab Gisel menutup wajah nya dengan kedua tangan nya dengan kuat.


"Kenapa kau malu? Bukan kah sebelum nya kita seperti ini,"ujar Sadam mengeleng dan memakai pakaian nya santai dan sesekali menyisir rambut nya.


"Itu beda suami ku! Sekarang otak ku berjalan lancar, kenapa milik mu bisa hidup,"teriak Gisel menutup wajah nya.


"Omongan mu terlalu vulgar, apa kau mau aku mencubit mulut itu,"kesal Sadam menatap sang istri yang masih menutup mata nya.


Gisel mengeleng cepat mengatakan itu, Sadam tidak pernah main-main dengan omongan nya. Pria itu menarik tangan Gisel keluar kamar karena dia sudah selesai bersiap, sedangkan yang di tarik hanya bisa menunduk dengan memasang wajah memerah karena malu.


"Kak Gisel kenapa kak?"tanya Rara kepada Sadam yang mengengam tangan istri nya.


"Ayo kau sudah terlambat,"jelas Sadam kepada sang adik.


Rara mengangguk dan pamit kepada mama nya begitu pun dengan mereka berdua, ketiga orang itu menuju sekolah Rara terlebih dahulu dan baru datang ke kampus Gisel.


"Aku pergi dulu,"ucap Gisel pamit turun dari mobil Sadam.


Pria itu hanya mengangguk dia melihat langkah kaki Gisel yang menjauh, pria itu mengusap wajah nya kasar.


"Apa dosen pembimbing nya itu pria tampan? Haruskah aku menguliti nya?"kesal Sadam menatap penampilan Gisel yang berbeda dari biasanya.


Pria itu tidak balik dia menunggu di parkiran kampus mengeluarkan laptop yang selalu dia bawa kemana mana, dengan lihai Sadam memainkan jari nya meretas segala cctv yang ada di area jalanan yang Gisel tuju.


Entah apa motif Sadam dia juga tidak mengerti akan diri nya, entah dia kekurangan pekerjaan atau apa yang Sadam tahu dia hanya ingin melihat istri nya itu saat ini.


Gisel melangkah kan kaki nya menuju ruangan dosen pembimbing nya yang ternyata seorang wanita, mereka terlihat mengobrol lama hingga Gisel menunduk pamit dan keluar dari ruangan.


Cklek...


Pintu ruangan tertutup Gisel berjalan, beberapa teman-teman nya menyapa diri nya yang datang ke kampus, sudah di bilang jika Gisel orang yang tidak pintar di akademis dia telat lulus dengan teman-teman yangs seumuran dengan nya.


"Gisel apa itu kau!"teriak seorang wanita menyapa.


"Dinda, apa kabar,"ucap Gisel dengan senyum manis nya.


"Gio kau juga apa kabar,"ucap Gisel tersenyum.


Mereka terlihat mengobrol sambil di pantau Sadam yang fokus menatap laptop nya, hingga percakapan itu terjerumus kepada pernikahan Gisel.


"Gisel apa benar kau sudah menikah?"tanya Gio sambil tertawa.


"Benar Gio, maaf aku tidak mengundang kalian itu sangat mendadak hehe,"ucap Gisel mengaruk belakang kepala nya sambil tertawa.


Pria itu sedikit tidak percaya terlebih Gisel tertawa seperti itu membuat nya tambah yakin kalau itu tidak benar terjadi.


"Kau bercanda bukan, aku juga merasa junior sekarang terlalu mengomentari masalah orang,"ucap Gio mengangguk.


"Tidak aku benar benar menikah Gio, lihat ini,"ucap Gisel memperlihatkan cincin pernikahan nya.


Gadis itu juga mengeluarkan ponsel nya memperlihatkan satu foto pernikahan yang sengaja dia simpan.


"Ini suami ku, dia memang menyebalkan tapi dia benar-benar tampan,"jawab Gisel memperlihatkan foto itu.


"Gisel tato itu? Kau?"