
Saat ini di sebuah rumah mewah dengan aksen eropa yang kental tidak besar atau pun kecil ini terlihat sangat sedang, rumah itu memiliki tiga lantai sebagai tempat ternyaman di sana, Sadam, Rara, dan juga Adelia tengah berkunjung di sana.
"Kalian ini siapa?"tanya mama Gisel dengan wajah tidak suka nya saat serombongan orang itu datang membawa Gisel dan mengatakan kalau mereka ingin membicarakan hal penting.
"Mama ini me--,"belum sempat Gisel menjawab.
Sebuah tatapan tajam di layangkan oleh mama Gisel membuat gadis itu langsung membungkam mulut nya dan menduduk kuat.
"Sejak kapan kau belajar memotong perkataan ku Gisel, pergi ke dapur dan lakukan pekerjaan mu!"tegas mama Gisel kepada anak nya itu.
"Ba baik ma,"ucap gadis itu berlari pelan ke dapur menemui bi Ina.
Adelia yang melihat perlakuan itu seketika menatap heran, apakah wanita di depan nya ini sungguh mama Gisel kenapa dia memperlakukan anak nya seperti itu, sedangkan wanita muda lain nya tengah duduk di depan mereka sambil tersenyum ke arah Sadam.
"Maaf sebelum nya, tapi saya ingin kepala keluarga juga ada di sini, kami membicarakan hal penting,"jawab Adelia memotong pembicaraan itu.
"Kalian dari tadi berkata penting? Apa itu sangat penting hah?"kesal mama Gisel.
Tapi saat mereka membicarakan itu papa Gisel turun dari lantai bawah sambil membawa koran, mama Gisel yang malas menerima tamu pun ingin mengakhiri ini cepat dan memanggil suami nya kesana.
"Sayang sini, ada yang ingin mereka katakan tentang Gisel,"ucap mama Gisel dengan lembut kepada suami nya.
Pria itu seketika memutar tatapan nya yang tadi menatap Gisel sedang memasak beralih kepada istri dan putri sulung nya dan beberapa orang yang duduk di sana.
"Baiklah,"jawab pria itu.
Kepala keluarga memang selalu tegas dengan sisi mencengkam, pria itu duduk bersama istri nya melepaskan kacamata yang dia gunakan untuk membaca koran itu.
'Apa ini bisa di sebut keluarga?' batin Rara menatap Gisel yang sibuk sambil sesekali melirik ke ruang tamu.
Sebenarnya Gisel sama sekali tidak di beritahu oleh Adelia kenapa mereka harus mengantar nya pulang, tapi Adelia mengatakan ini penting membuat Gisel hanya mengangguk dan menerima.
"Tante mau ngapain sama kak Sadam juga Rara yah,"gumam Gisel menatap interaksi keluarga nya.
"Ada apa kedatangan tamu yang tidak di undang kesini?"tanya papa Gisel to the point kepada keluarga itu.
Sadam hanya diam melihat tidak suka cara keluarga Gisel menyambut tamu walaupun tidak suka, terlebih wanita yang sedang duduk di depan Sadam selalu menatap Sadam membuat pria itu jengah.
"Maaf sebelumnya atas ketidaksopanan kami dan ini bukan suatu hal kecil yang bisa kami sampaikan lewat Gisel saja, sebenarnya putra kami ini melakukan hal yang buruk karena dia mabuk, dia mel3cehkan putri anda,"gumam mama Adelia dengan suara kecil nya yang membuat nya malu atas perbuatan Sadam.
Sedangkan yang bertindak hanya memasang wajah datar, hening. Itu lah yang keluarga Adelia rasakan tidak ada jawaban sama sekali dari mereka atau pun tanggapan.
'Aku harus menawari mereka uang kompensensi dahulu, jika mereka menolak aku akan membayar dengan banyak, aku tidak bisa melakukan nya ma maaf,' batin Sadam yang akan mengambil alih pembicaraan.
Tapi saat pria itu berkata seorang wanita yang seperti nya juga anak di rumah itu mulai menjawab pertanyaan mama Adelia dengan santai nya.
"Hanya karena itu kalian sampai panik seperti ini?"
"Kalian bisa membayar kompensasi saja untuk itu,"
Apa apaan ini? Adelia sangat kaget atas tanggapan sang kakak Gisel bisa-bisa nya dia merendahkan harga diri adik nya sendiri di sini, apa mungkin gara-gara itu Gisel sering menyendiri, jalan kaki tanpa arah hanya untuk tidak pulang ke rumah yang seperti neraka ini.
'Aku belum menawari mereka, apa ini?' batin Sadam tidak percaya.
Sedangkan Gisel yang sudah tahu maksud keluarga Sadam pun mulai paham, gadis itu menatap dari dapur masih menggunakan apron.
"Ya, kalian bayar kompensensi nya sesuai biaya yang kami tentukan tidak perlu memikirkan untuk bertanggung jawab,"ucap mama Gisel dengan santai.
"Nyonya apa maksud anda, bukan kah dia putri anda?"tanya mama Adelia dengan suara agak meninggi menerima perkataan itu.
"Jangan marah-marah tante, jika kau ingin menikah bagaimana dengan ku?"tanya wanita itu menatap Sadam genit.
Sungguh perkataan demi perkataan yang di lontarkan keluarga Gisel membuat keluarga Sadam tidak percaya, Sadam melirik Gisel yang berdiri di sana. Gadis itu yang menyadari Sadam menatap nya memberikan senyuman nya lalu mengangguk.
Ck..
Pria itu berdecak melihat Gisel, lagi-lagi gadis itu memberikan senyuman tulus nya, sejak pertama kali bertemu Gisel selalu Sadam rasakan seperti itu, menyimpan luka nya sendiri.
'Kenapa dia malah mengangguk dan tersenyum, jadi dia juga berpikir sama seperti keluarga nya begitu, aku sih sangat beruntung jika kau mau,' batin Sadam.
"Bagaimana kita tidak perlu repot, dan habis urusan ini mari kita ber--,"
Belum sempat kakak Gisel menjawab Sadam terlebih dahulu angkat bicara dengan tatapan datar nya.
"Aku akan menikahi nya,"tegas Sadam tajam.
Semua orang seketika kaget, lebih tepat nya keluarga Gisel yang kaget karena biasanya orang lebih suka membayar kompensansi dari pada melaksanakan pernikahan seperti ini, mama Sadam yang dari awal memang merencanakan itu tersenyum ke putra nya, padahal sih sebelum nya Sadam sempat berpikir akan memberikan kompensensi nya juga.
"Jangan menghina calon istriku, jaga mulut busuk kalian, aku akan memberikan kompensensi itu,"
"Kalian butuh uang kan? Aku berikan!"
"Tapi aku juga akan menikahi nya, dan mulai hari ini aku akan membawa dia pergi dari rumah ini."
"Satu hal yang aku tahu, kalian tidak mengiginkan nya bukan? Kami mengiginkan gadis kalian,"jawab Sadam tegas dan tajam.
Rara yang dari tadi juga jengah langsung ikut berdiri mengikuti mama nya, gadis smp itu menjulurkan lidah nya mengejek kakak Gisel.
"Makan itu pengoda, kau tidak lebih baik dari kak Gisel,"teriak Rara berlari setelah mengatakan itu keluar rumah.
"Terimakasih atas sambutan kalian, kami harap anda selaku orang tua Gisel datang sebagai wali utama pernikahan besok tuan,"jawab mama Adelia tersenyum dan ikut keluar.
Sedangkan Gisel yang kaget dan mengira kalau Sadam akan menerima ajuan keluarga nya seketika mematung, Sadam dengan langkah besar nya tanpa aba-aba menarik Gisel keluar rumah itu.
"Ayo pergi, puas kau sekarang dapat menikahi ku. Karena kau akan terjebak seumur hidup mu dengan ku, aku tidak ingin menikah dua kali, camkan itu!"