
Lenka turun dari taksi yang dia tumpangi dengan keadaan wajah pucat dan mata yang sembab, Lenka merogoh saku nya untuk membayar taxi tapi dia lupa kalau dia pergi dengan terburu-buru tanpa apa pun, dan bahkan kaki nya sudah lecet dan terluka karena tidak memakai sendal.
"Nona bayaran nya non?"tanya pemilik taksi itu bertanya.
"Pak aku tidak membawa dompet, aku lupa,"
"Bisakah aku membayar nya lain kali aku mohon pak,"
"Aku janji akan membayar nya dua kali lipat, tadi aku sangat terburu-buru,"ujar Lenka dengan suara bergetar dan panik.
Supir taksi yang paruh baya itu tampak bingung, tarif Lenka juga bukan main karena diri nya di bawa dan antar ke dalam pelosok ibu kota yang sepi, tapi melihat pelanggan nya yang panik dan menangis, mau tidak mau pria tua itu mengangguk.
"Baiklah non, saya pergi dulu,"ucap pria tua itu melajukan mobil nya.
Lenka tampak mengangguk jalanan markas aeros yang khusus di buat ini tampak kotor, Lenka tidak mempedulikan jika ada kaca yang menancap kaki nya, dia terus berlari menuju gedung itu.
Lukas dan Juna yang sedang berada di depan gedung dengan para mobil bawahan nya tampak tersusun, Samuel mengatakan akan mengurus nya black devil tetap diam dan awasi saja dari luar.
Tapi Lukas yang fokus kepada pintu utama melihat kapan Sam dan yang lain nya keluar seketika kaget melihat seorang gadis yang dia kenali hampir melewati nya, dengan piyama tidur nya.
"Lenka!"teriak Lukas kepada adik nya itu.
Gadis itu tanpa sadar banyak orang di sana seketika melihat Lukas yang berdiri di depan mobil, pria itu menahan tangan Lenka agar tidak masuk.
"B0doh untuk apa kau kesini, aku sudah bilang tetap di mansion!"teriak Lukas.
"Hiks hiks aku mengkhawatir kan Sam, tolong antar aku Ukas, perasaan ku sangat tidak enak, aku mohon!"teriak Lenka di akhir kalimat berusaha berontak dari gengaman Lukas.
"Jangan membuat ku memaksa mu, itu terlalu bahaya,"ucap Lukas kepada Lenka.
Pria itu menarik tangan Lenka, tidak peduli jika tangan adik nya itu memerah karena terus memberontak, Lenka berusaha melepaskan gengaman tangan Lukas yang kuat, karena lemas terus menangis Lenka terduduk di rerumputan dengan Lukas yang berdiri masih mengengam tangan nya.
"Juna ambil jas ku di mobil,"ucap Lukas melirik bawahan nya itu.
Juna tampak mengangguk dan langsung memberikan nya kepada Lukas, pria itu tampak menyelimuti adik nya, kau tahu malam ini suasana sangat dingin, dan Lenka datang dengan hanya memakai piyama tipis.
"Lihat kaki mu, kau menyakiti diri mu sendiri,"gumam Lukas mengusap kaki putih Lenka yang sudah lecet dan mengeluarkan sedikit darah.
Tidak ada ringisan dari gadis itu dia hanya terus menangis dengan tatapan kosong dan menatap lurus ke depan berharap pria yang dia tunggu segera keluar, Lukas hanya diam menghela nafas nya dia membuka sepatu nya dan memasangkan nya ke kaki mungil Lenka.
Walaupun itu kebesaran setidaknya itu tidak akan membuat jalan nya kesakitan lagi, Lukas terus menatap Lenka yang hanya diam dan tidak memberontak lagi itu.
"Si@l,"
Sedangkan di dalam terlihat Samuel dan teman-teman nya yang lain mendengar langkah kaki seseorang yang datang, ternyata itu bawahan Arbian, pria yang pendek yang sering menjadi patner nya di tim pengejar.
"Big bos, sudah waktu nya,"teriak pria itu.
"Ck, ayo,"ucap Sam kepada teman-teman nya.
Seolah-olah insiden besar akan terjadi, mereka yang berdiri di balkon melompat ke bawah dan berlari menuju jalanan labirin yang sudah di hapal Sam untuk keluar, Sam tampak tersenyum.
"Kau lihat di seluruh penjuru ruangan dan lantai bawah itu,"gumam Sam.
Javier yang hanya terbaring, menatap ke bawah dan semua ke penjuru ruangan, hah seperti nya harapan hidup memang tidak ada lagi di sana dan di berbagai sisi terlihat banyak bom yang sudah terpasang dan hanya tinggal waktu hitungan menit saja.
"Selamat menuju akhirat,"ejek Sam menatap pria itu yang masih tiduran.
Sedangkan Javier yang merasa tidak terima menarik tangan Sam, tapi tertarik hanya jemari nya, Sam yang kesal menginjak Javier dan berlari keluar.
Drap.. drap..
Semua orang berlari menuju keluar gedung, karena misi terkahir dan level terakhir dari program itu adalah menghancurkan semua nya tanpa tersiksa, Sam keluar dari pintu utama.
Lenka yang melihat satu persatu bawahan Sam yang keluar mulai tersenyum ketika melihat pria tampan itu keluar paling terakhir, dengan peluh yang mengalir Sam membuka topeng nya, Lenka tersenyum dan ingin berdiri saking bahagia nya.
Tapi Sam tampak memegang jari nya dan mencari sesuatu, pria itu tampak panik.
"Di mana cincin ku,"gumam Sam dengan heran.
Seketika memori nya kembali berputar dia mengingat kejadian apa yang baru terjadi, dia sangat ingat Javier menarik tangan nya, mungkin saat itu cincin pertunangan nya dengan Lenka jatuh.
"D@mn, aku pergi dulu Kev,"teriak Sam ingin masuk.
Tapi suara seorang gadis menghentikan langkah nya, Lenka tampak berteriak keras dari jarak beberapa meter, tidak peduli dengan tenggorokan nya yang akan sakit.
"SAM!"teriak Lenka.
Samuel memutar wajah nya melihat gadis nya yang berdiri pria itu tersenyum dia menunjuk jari nya seolah mengkode kalau cincin nya tertinggal, bagi Sam cincin nya dan Lenka adalah barang paling berharga.
"Aku akan kembali!"teriak Sam pergi lalu masuk.
Mata Lenka yang memancarkan kebahagian tadi berubah dengan tatapan datar, berkaca kaca sekaligus shock, dia terus berteriak dan berusaha melepaskan tangan Lukas.
"Lepaskan aku, lihat Sam dia masuk lagi!"teriak Lenka kepada Lukas.
Lukas yang tidak terlalu fokus dengan pegangan Lenka terlepas, membuat Lukas panik dan hampir membuat gadis itu masuk tapi untung ada Kevin yang langsung menahan gadis itu.
"Nona tenanglah,"ucap Kevin menahan Lenka yang terus berteriak ingin masuk.
"Lepaskan aku Kev, lepaskan aku, aku ingin bertemu Sam!"teriak Lenka.
Kevin hanya diam menatap pintu yang jauh dari nya, padahal bom itu akan meledak sebentar lagi tapi Sam malah masuk kembali, sedangkan pria yang membuat orang panik itu menemukan cincin nya.
"Ini dia,"gumam Sam memungut cincin nya.
Sam yang melirik ruangan yang di tinggalkan tadi merasa heran kenapa Javier tidak ada di sana, tapi karena bom terus berjalan membuat Sam berlari keluar menuju pintu utama, saat dia keluar dia tersenyum melihat gadis nya malah menangis.
"Aku menemukan cincin kita, kenapa kau menangis?"teriak Sam ingin berjalan mendekat.
Langkah Sam yang ingin menuju Lenka seketika terhenti, Lenka yang tadi nya sudah kembali tersenyum seketika kaget mendengar suara tembakan.
Dor.. dor...
Darah mengucur dari mulut Sam, dari belakang Javier menembak Sam dengan senyum nya hingga Javier mati di tembak brutal oleh tim aeros, Sam tampak tersenyum mengengam cincin nya menatap gadis nya yang berteriak histeris, sebelum pria itu kehilangan kesadaran nya dia berkata.
"Jangan menangis, aku baik-baik saja,"