SAMUEL

SAMUEL
BAB 112



"Kami akan mengadakan nya di sini jika daddy mau secepat nya,"jawab Kevin kepada calon ayah mertua nya itu.


"Itu kabar yang baik, kalian datang kesini membawa kabar seperti membuat beban daddy sedikit berkurang, mungkin setelah kalian menikah,"


"Daddy tidak perlu mengkhawatirkan Aga lagi, mati pun dad akan tenang,"lirih pria paruh baya itu tersenyum sambil mengangguk.


Agalista yang mendengar daddy nya mengatakan itu seketika memasang wajah cemberut, gadis itu berjongkok di depan kursi roda daddy nya.


"Jika dad mengatakan itu lebih baik aku tidak menikah seumur hidup ku agar daddy tetap di sisi ku,"ucap Agalista menjatuhkan kepala nya di paha pria itu.


Pria berdarah Italia itu mengusap kepala sang putri lalu tersenyum, Kevin hanya bisa diam melihat interaksi orang tua dan anak itu.


"Kalau kau mengatakan itu daddy akan merasa jauh terbebani sayang, Kevin adalah pilihan terbaik untuk mu,"jawab daddy Agalista.


"Jangan membuatku menangis dad!"kesal wanita itu yang terus mendengar perkataan daddy nya.


Kevin ikut berjongkok di depan daddy Agalista, pria itu mengangkat kepala sang tunangan dan mengusap air mata yang sudah membuat mata nya memerah di banjiri air mata. Agalista hanya diam, lalu tatapan Kevin beralih kepada daddy Aga. Pria itu mengusap tangan daddy Aga lalu berkata.


"Jika dad sudah merestui, kami akan menikah minggu depan,"jawab Kevin spontan mengatakan itu.


Aga yang tadi nya menangis sekarang raut wajah nya berubah menjadi kaget dan panik karena perkataan Kevin, gadis itu seketika memasang wajah kesal dan memukul tangan Kevin yang mengengam tangan Daddy nya.


Bugh..


"Enak saja minggu depan, kau kira ini sinetron,"ketus Agalista yang tidak terima atas perkataan Kevin.


"Daddy sangat setuju kalau perlu besok,"ucap daddy Aga dengan spontan.


Astaga kedua pria di depan nya itu seperti sedang bersekongkol dan membuat Aga jantungan karena ulah mereka, Aga seketika menatap daddy nya tajam.


"Dad!"rengek Aga kepada pria paruh baya itu.


"Baiklah besok dad,"jawab Kevin mengatakan itu.


"Jangan! Minggu depan saja yah minggu depan,"ucap Agalista memotong cepat pembicaraan kedua pria itu.


Sungguh dua pria itu membuat nya panik, Aga yang mengatakan itu memilih pergi ke dapur mengambil air putih karena dia sangat panik kenapa kedua orang itu sangat satu frekuensi.


"Tos dulu,"ucap daddy Aga yang melihat anak nya menjauh ke dapur.


Kevin menerima tinju pelan pria itu mereka saling tersenyum satu sama lain sudah mengerjai wanita itu, jika tidak seperti itu sampai tua pun Aga seperti nya tidak akan menerima perjodohan ini.


"Terimakasih dad,"ucap pria itu.


"Sama-sama menantu,"jawab pria itu mengusap bahu Kevin.


Sedangkan Agalista meneguk minuman nya dengan cepat karena kerongkongan nya terasa tercekat atas perkataan itu.


"Huh bisa mati muda aku,"gumam Aga.


Di sisi lain Lenka sedang membuka sebuah kotak kado pernikahan yang di berikan Aga kepada nya, sebenarnya kado ini sudah sejak hari pertama di berikan kepada Lenka tapi gadis itu yang tidak sempat memilih iseng membuka nya sekarang.


"Rata-rata teman Sam memberikan tas brand,"gumam Lenka yang melihat kotak kado lain yang sudah terbuka.


Tapi ketika kotak kado dari Aga di buka mata Lenka seketika membelalak kaget, gadis itu terdiam sambil memegang pakaian tipis dan seksi itu astaga seperti nya itu pakaian dinas.


"Wah Aga gil@ apa dia mau menyiksa ku,"


Tanpa Lenka sadari Sam yang tadi nya berada di ruang TV sekarang sudah berada dekat dengan istri nya, pria itu melihat pakaian atau yang lebih sering orang sebut lingerie benar bukan.


"Sayang coba lah,"seringai Samuel yang sedang berdiri di ujung pintu.


Lenka yang tadi fokus melihat baju kekurangan bahan itu seketika kaget mendengar suara suami nya, dengan terkejut Lenka memasuki baju itu ke dalam kotak nya kembali dengan panik.


"Tidak enak saja!"ketus Lenka tidak mau memakai pakaian mesum itu.


Samuel melangkah kan kaki nya dan duduk di samping ranjang tempat Lenka membuka kado itu, pria itu membujuk Lenka agar mau memakai nya.


"Ayolah sayang, yah mau, kau kan belum pernah memakai nya,"bujuk Samuel kepada sang istri.


"Tidak by, itu baju membuat ku seperti gadis mesum kau tahu,"kesal Lenka menghempaskan tangan Sam.


"Ayolah sekali saja, ya mau yah?"rengek Sam mengoyang kan tangan sang istri.


Bukan nya menurut Lenka yang wajah nya sudah memerah membayangkan dia memakai itu, dan juga Samuel yang terus memaksa nya membuat Lenka yang kesal refleks berdiri dan menampar pipi Sam.


Plak...


"Aku bilang tidak mau ya tidak, kau mesum!"teriak Lenka kesal.


"Sayang kau? Kau? Kau menampar ku,"ucap Samuel memasang wajah memelas.


Lenka yang masih tidak sadar dan di landa malu akhirnya mendorong Samuel keluar kamar dan mengunci nya dari dalam, pria itu seketika itu hanya diam.


"Tidur di luar malam ini!"kesal Lenka kepada sang suami.


"Yasudah,"kesal Sam berjalan di dekat TV.


Pria itu mengerucutkan bibir nya menatap pintu kamar berharap Lenka akan meminta maaf dan membujuk nya tapi pria itu mendapati sang istri yang tidak kunjung keluar, Samuel hanya memasang wajah kesal.


"Kalau tidak mau kan bisa menolak pelan-pelan,"kesal Sam melipat kedua tangan nya di dada.


Ayolah Sam padahal Lenka dari tadi juga sudah menolak mu dengan secara pelan tapi kau nya saja yang terus memaksa kehendak mu, beberapa puluh menit berlalu Lenka yang duduk di kamar mulai merasa bersalah kepada suami nya.


Cklek..


Pintu kamar di buka perlahan, gadis itu mengintip suami nya yang masih setia duduk di sofa hanya diam, Lenka melangkah kan kaki nya mendekat kepada Sam.


"By\~,"panggil Lenka manja duduk di samping Samuel.


Pria itu tidak menjawab sama sekali perkataan istri nya, dia hanya diam lalu membuang muka tanpa mau di tatap oleh Lenka. Gadis itu membujuk Sam dengan berbagai cara.


"Sini cium,"ucap Lenka mengatup pipi pria itu dan mengecup bibir nya perlahan.


Samuel hanya diam tanpa mau membalas ciuman Lenka, gadis itu yang mulai kesal kembali melangkah kan kaki nya ke kamar.


"Tch, cuman segitu dia membujuk ku,"kesal Samuel dan melihat Lenka pergi ke kamar.


Beberapa menit kemudian suara gadis itu memanggil dari sebalik pintu dengan lembut, sebenarnya Sam tidak mau menatap nya tapi karena kepala nya tidak tahan untuk memutar akhirnya Sam menatap sang istri yang berdiri di depan kamar mereka.


"Kau?"