
Tit.. tit...
Suara dari monitor yang mencek detak jantung pasien terdengar nyaring di ruangan itu, sudah dua hari semenjak kejadian kecelakaan Gisel terjadi. Dan Sadam masih dalam kondisi yang sama, di mana dia memakai pakaian hari di saat kejadian.
Pria itu sama sekali enggan untuk beranjak dari ruangan itu, dia mengatakan takut jika Gisel terbangun tidak ada siapa pun di samping nya. Kecewa? Siapa yang tidak kecewa atas apa yang dia lakukan, Sadam juga tidak mengiginkan hal ini terjadi.
"Sayang bangunlah,"gumam Sadam mengengam tangan kurus milik Gisel yang seperti nya sangat kecil di gengaman Sadam.
Pria itu terus menatap wajah damai istri nya yang enggan bangun dari mimpi indah nya, bagaimana ini semua terjadi. Sadam terus menyalahkan diri nya dan selalu meminta maaf kepada sang mama karena tidak memperlakukan Gisel dengan baik.
"Di sini pernah ada anak kita, tapi aku mengecewakan mu,"
"Aku tidak bisa menjaga mu dan anak kita,"
"Maafkan aku Gisel, tolong bangunlah dan katakan sesuatu,"
"Pukul aku marahi aku, itu jauh lebih baik dari pada melihat mu terdiam dan hanya tidur tanpa ekspresi apa pun,"
Gumam pria itu dengan pilu menjatuhkan wajah nya ke lengan Gisel, dia menangis sejadi-jadi nya. Hanya fase itu yang dapat Sadam ulang, aeros? Misi? Entah lah, pria itu sama sekali tidak peduli.
Dia mengatakan tidak apa-apa jika Sam mengeluarkan nya dari aeros, asalkan dia bisa tetap di sini menemani Gisel sampai sang istri terbangun dari tidur nya.
"Dokter mengatakan dia hanya melewati masa kritis, apa ini sudah bisa di sebut koma?"ucap mama Sadam yang berdiri di luar ruangan dan mengintip dari pintu ruangan itu yang sedikit transparan karena kaca nya.
Wanita paruh baya itu juga merasa bersalah, seharus nya dia tidak menyalahkan putra semata wayang nya itu. Dia harus bersabar, karena takdir tuhan mungkin mengambil kebahagian Gisel satu persatu.
Tapi mungkin hari esok? Gadis itu bisa saja mendapatkan hal yang lebih indah dan tak ternilai bagi nya. Sadam tidak salah, ini semua di luar kehendak, hanya sang pencipta yang sudah menulis garis takdir yang ada.
"Mama kapan kakak ipar akan bangun?"tanya seorang gadis yang masih memakai seragam SMP itu.
Ya, Rara baru balik dari sekolah nya dan langsung menuju rumah sakit untuk membawa kan makanan untuk sang kakak bersama mama nya. Tapi seperti yang kalian ketahui Sadam tidak mau makan sama sekali.
Cklek...
Suara pintu terbuka dari luar, ternyata itu mama Sadam yang ikut masuk ke dalam ruangan nya. Sadam sama sekali tidak terusik dan masih mengengam tangan sang istri yang terbaring lemah itu.
"Jika kau terus mengengam tangan nya, dia akan merasa gerah Sadam,"ucap mama Sadam kepada sang anak agar perhatian nya teralihkan.
"Ya,"ucap Sadam singkat menganti gengaman itu dengan usapan di pipi berkali-kali.
"Ayo makan, apa kau mau menyiksa diri mu sendiri?"kesal mama Sadam kepada sang anak.
Sedih memang boleh tapi kita tidak boleh lupa untuk menjaga kesehatan, bagaimana pun tidak ada yang bisa memungkiri keadaan Gisel saat ini.
"Aku tidak suka, yang masak bukan Gisel kan?"tanya pria itu tegas dan tidak melirik makanan itu sama sekali.
"Ya yang masa memang bukan dia, bagaimana itu terjadi! Jika istri mu sedang berbaring di sini, tidak ada masakan Gisel!"ucap mama Sadam.
"Kalau bukan aku tidak akan makan, aku masih kenyang,"jawab Sadam.
Kenyang ayolah pria itu hanya minum air putih beberapa gelas dan tidak menyentuh makanan sama sekali, keadaan nya sudah sangat kacau kali ini. Email nya terus berdenting menandakan jika anak buah nya terus melapor untuk melanjutkan misi mereka.
Pria itu mengabaikan nya, dia sama sekali tidak peduli akan hal itu. Karena dia hanya mementingkan istri nya saja.
"Gis cepat lah bangun, dan lihat suami mu yang tidak terurus inj,"ujar Mama Sadam yang melirik sang menantu yang masih setia berbaring.
Tok.. tok...
Saat kedua orang itu tengah berada di dalam, suara ketukan terdengar dari luar. Lagi-lagi Sadam tidak mempedulikan nya sama sekali, sedangkan mama Sadam hanya memasang wajah bingung.
"Siapa ya? Kalau Rara kan bisa tinggal masuk aja,"gumam mama Sadam.
Cklek...
Pintu itu di buka pelan menampilkan dua gadis cantik yaitu Lenka dan Agalista, lalu para suami mereka yang ada di sana, dan para pria aeros lain nya.
"Mama, panggilkan Sadam ada hal penting yang ingin ku bicarakan,"ucap Samuel melirik pria yang fokus menatap istri nya.
"Dia sangat susah di bujuk keluar Sam, dia hanya di sana tanpa mau melakukan apa pun, kecuali ke toilet,"ucap mama Sadam yang mengingat itu.
Samuel terlihat menghela nafas nya, dia tahu bagaimana perasaan Sadam hal ini pasti terasa sangat berat bagi nya terlebih Gisel adalah istri nya, Sam juga berpikir jika itu yang terjadi pada Lenka dia mungkin akan lebih gila dari pada Sadam.
"Sayang aku mau ketemu Gisel yah,"izin Lenka kepada suami nya.
Pria itu tersenyum tulus dan mengangguk mengusap ujung kepala istri nya yang lain menunggu di luar, sedangkan Samuel dengan kuat memaksa Sadam untuk keluar.
"Ikut aku hanya sebentar jangan memasang raut wajah tidak suka mu itu,"tajam Samuel tegas kepada Sadam.
"Big bos, sekali nya anda memukul saya. Lebih baik saya keluar dari aeros, dari pada mengambil misi di saat seperti ini,"balas Sadam dengan tajam.
Arbian yang dari tadi sudah diam bersabar untuk tidak membacot mendekat kepada sahabat nya yang sedang di landa kesedihan itu, dia mendekat dan memukul belakang kepala Sadam kuat.
Bugh...
"Ikut kami, hanya sebentar siaalan!"kesal Arbian menarik kerah baju pria itu dengan paksa menuju keluar.
Sadam yang sudah lelah akhirnya hanya pasrah untuk keluar dari ruangan itu di ikuti Arbian dan pria lain nya di sana. Mereka akhirnya duduk di sofa itu, terduduk empat orang pria yang hanya bisa terdiam tanpa kata-kata, dan apa lagi Sadam yang sudah tentu tidak bisa harus berbuat apa lagi, Dia hanya bisa bersabar dan terus berdoa. Sadam hanya bisa menekuk kan wajah nya ke bawah.
"Big bos anda bisa meminta Megan mengantikan saya sampai istri saya sembuh, jika anda tidak berkenan keluarkan saja saya dari aeros,"ujar Sadam yang tiba-tiba membuka pembicaraan itu dan menatap Samuel.