
Samuel mendongakkan kepalanya dan tersenyum melihat gadis nya itu, wajah dan senyum itu sangat di rindukan Samuel beberapa hari ini.
'Dasar gadis si@lan tidak tahu diri!' batin seseorang yang ada di sana.
Lenka hanya menatap muka datar Samuel Sepertinya Sam tidak mempedulikan hiburan kecil itu dan hanya terus menatap diri nya.
"Sam, hei?"ujar Lenka melambaikan tangan nya di depan wajah Samuel yang termenung.
"Aku merindukan mu, sangat,"gumam Sam gemas memeluk gadis nya itu yang sedang duduk di samping nya.
"Bucin lagi deh,"gumam Agalista mengeleng kepala.
"Jangan banyak komen, ini acara kami, kalian hanya menumpang lain kali jangan ikut jika kau tidak tahan, benarkan sayang? Beruntung aku tidak mengusir kalian semuanya dari sini," sarkas Samuel kesal.
"Jangan sampai Sam, jika kalian berdua saja, aku tidak dapat membayang kan Lenka akan kau macam-macam kan,"balas Agalista mengeleng cepat.
"Sudah, aku lapar, ayo kita makan ok,"ucap Lenka kepada semua orang.
Makanan mulai di keluarkan dari dapur oleh pelayan, setelah semua mendapat bagian masing-masing mereka mulai bersiap untuk menyantap makanan mereka, tapi Samuel yang merasa aneh dengan cara penyajian di markas tidak seperti biasa nya dia melihat makanan nya mulai heran, Sam tidak sebodoh itu.
Brak...
Dia menarik tangan Lenka hingga membuat gadis nya berpindah ke paha Samuel. Lenka semakin bingung dengan yang terjadi, kenapa Samuel tiba-tiba terlihat emosi, padahal barusan mereka bercanda.
Samuel dengan segera mengambil piring makanan yang ada di depan Lenka, hanya di depan Lenka dan melemparnya tepat ke lantai.
Prank..
Piring itu seketika pecah, dan makanan yang di piring untuk Lenka seketika berceceran di lantai.
"Kau pikir aku bodoh, hah? Pelayan di markas sini selalu menghidang kan makanan tepat di depan ku. Bukan di dapur lalu di bawa kemari. Ck, katakan siapa koki nya!"teriak Samuel penuh emosi.
"Sa sa sam, aku memasak untuk kalian, ini hidangan negara ku, tapi kenapa kau marah, apa makanan ku tidak enak a a a apa yang kau ucapkan, jelaskan?"ujar Agalista kaget melihat Samuel yang tiba-tiba emosi.
Astaga bahkan nafas Agalista jadi tidak beraturan, jantung nya berdegup kencang, melihat Sam yang tiba-tiba marah tidak jelas dia sangat tidak paham. Sedangkan semua orang yang ada di sana hanya bisa diam membisu.
"Kau memberikan racun pada makanan ini kan, siapa yang membuat nya, kau mengakui nya Agalista,"tajam Samuel masih dengan tatapan nyalang nya memeluk Lenka di dalam pelukan nya.
Brak...
Agalista mengebrak meja kuat lalu berdiri menatap Samuel dengan tatapan tidak percaya nya, wanita itu mengeleng berulang kali.
"Apa maksudmu Sam! Kau menuduh ku hah? Kenapa sampai segitu nya kau membenci ku, aku tidak sama sekali,"tegas Agalista yang tidak yakin akan tuduhan Sam kepada nya.
Akhirnya Agalista hanya menggelengkan kepalanya, membuat Sam tersenyum kecut. Bod0h sekali, dia pikir Samuel tidak mengetahui ciri-ciri makanan yang di racuni.
"Aku tidak menuduhmu kau sendiri yang bilang kau memasak, jadi kau yang meracuni makanan nya kan,"ketus Samuel kepada Agalista.
Lenka yang hanya mendengar dari tadi hanya planga plongo dengan pembicaraan kedua orang itu.
"Tunggu Sam, jangan menuduh Aga seperti itu, tidak mungkin dia mau melakukan nya,"jelas Lenka yang merasa tidak percaya.
Samuel hanya diam inti nya dia tidak suka melihat jenis makanan yang hanya di hidangkan khusus untuk Lenka itu, sedangkan hidangan yang lain Samuel tahu itu baik-baik saja.
"A a aku tidak,"gumam Agalista menunduk menghindari tatapan tajam Samuel.
Samuel kemudian mengambil satu suapan steak dari piringnya dan mengarahkannya ke mulut Lenka untuk menyuapi sang pacar, gadis itu menggeleng.
"Two choices, babe. Eat with my hands or with my mouth?" (Dua pilihan, babe. Makan dengan tanganku atau dengan mulutku?) tanya Samuel kepada gadis kecil nya.
Lenka akhirnya mengambil garpu itu dari tangan Samuel. Bukan untuk dia suapkan ke mulutnya, tapi ia suapkan ke mulut Samuel.
"Keluar,"gumam Samuel dengan pelan menatap Agalista yang masih berdiri melihat Lenka dan Samuel.
"Sam harusnya kau tuduh pelayan lain, aku di sini hanya membuat masakan saja,"jelas Agalista menyangkal semua tuduhan Samuel kepada nya.
Pria itu tidak mendengar sama sekali pembelaan Agalista, dia mengusap pelan surai panjang Lenka yang duduk di paha nya, rahang nya mengeras menahan emosi.
"Aku bilang KELUAR!"titah Samuel penuh emosi.
Kevin hanya diam itu masih tidak melihat tanda-tanda Lenka akan mengalah dan keluar, lalu menarik tunangan nya itu kuat.
Brak..
"Ikut aku,"ujar Kevin meninggalkan ruangan makan itu pergi keluar markas.
Dengan langkah kaki yang lebar nya Kevin menarik tangan Agalista menaiki mobil dan menghempaskan tubuh gadis itu kasar, mobil melaju kencang menuju apartemen Kevin, dan lagi pria yang juga tersulut emosi menarik tangan Agalista dan membawa nya masuk ke apartemen dan menghempaskan tubuh wanita itu ke sofa.
Brak...
"Kau sungguh musuh di dalam selimut, big bos sudah berbaik hati Agalista, tapi apa balasan mu!"teriak Kevin kepada tunangan nya itu.
Wanita itu masih tidak bergerak, dia masih tidak percaya Samuel menuduh nya, atau memang ini hanya akal bulus Agalista karena ingin menyingkirkan Lenka dari Samuel pikir Kevin.
"Kau percaya? Haha percaya saja, iya percaya saja!"teriak Agalista tertawa dan menatap Kevin dengan wajah sombong nya.
Pria itu seketika emosi nya memuncak, tanpa dia sadari dia menampar kuat pipi Agalista yang menatap nya dengan keangkuhan.
Plak..
Sebuah tamparan tepat mengenai pipi Agalista, bagaikan slowmotion wajah Agalista memutar begitu pun dengan rambut nya, Agalista memang bekas tamparan nya dan tersenyum kecil.
"Kau menampar ku Kev?"gumam Agalista tidak percaya.
"Ya, aku menampar mu, sebaiknya sadar posisi mu Agalista, jangan mendekati Sam lagi, apa lagi kau menggunakan cara gila ini, keluarga william bisa memburu mu, bahkan bukan mereka saja tapi Sam akan memburu mu,"tajam Kevin dengan rahang dan mata yang memerah penuh emosi.
"Haha,"
"Jangan tertawa, sebaiknya kau pulang ke Italia,"jelas Kevin dengan suara pelan.
"Oke, sesuai keinginan mu, aku pergi Kev,"jelas Agalista.
Wanita itu masuk ke kamar nya mengambil koper dan mengisi barang-barang nya menarik koper itu keluar apartemen dengan air mata mengalir.
"Aku mencintai nya, memang benar sangat,"