
Roma, Italia.
"Jadi kapan kalian menikah?"tanya seorang pria paruh baya yang duduk di kursi roda dengan senyum lembut nya.
Seorang gadis cantik berambut merah yang sedang memakan cemilan nya duduk bersama sang tunangan pun memutar mata nya mendengar panggilan sang Daddy.
"Daddy,"ucap gadis itu tersenyum mendekat dan memeluk Daddy nya menyambut pria itu.
"Jangan memelas seperti itu kau sudah dewasa,"ucap Daddy Agalista kepada sang putri tunggal nya.
"Bagaimana aku tidak memasang wajah seperti ini, dia mengajak ku mendadak saat aku ada jadwal pemotretan kemarin! Dan aku belum memberikan hadiah pernikahan kepada Gisel,"gerutu Agalista cemberut dan melipat kedua tangan nya di dada.
Flashback on
Setelah acara ijab Qabul di rumah Sadam, Agalista mendapat panggilan telpon dari manajer untuk pemotretan siang ini, gadis itu menyetujui nya.
"Mama Sadam aku titip salam untuk Gisel yah, aku harus pergi pemotretan dulu baru membeli hadiah uwow,"ucap Agalista menarik turunkan alis nya menatap Adelia.
"Baik Aga, jangan paksakan diri mu. Dan mama setuju hadiah itu,"ucap Adelia tertawa memberikan jempol kepada teman menantu nya itu.
Setelah pamit Agalista langsung pergi karena Kevin juga memiliki urusan lain yang harus dia kerjakan, Agalista datang di jemput manajer nya. Langkah kaki wanita tinggi itu menyusuri ruang pemotretan.
"Kenapa ada pria nya?"tanya Agalista heran menatap model pria yang sedang duduk di dadaku itu.
"Mereka mengatakan ini produk brand kerjasama William dan Alferoz, baju pasangan. Kata nya brand ini akan melejit di pasaran internasional, kau harus melakukan yang terbaik dan profesional,"ucap manajer Agalista itu.
"Baik lah kak seperti nya kau meragukan kemampuan ku,"ucap Agalista.
Wanita itu mulai di arahkan ke fitting room dan di dadaku di ruang make up, Agalista mengenal pria yang di samping nya. Model pria baru yang kepopularitasan nya sedang melejit, pria itu lebih muda dari Aga.
'Wah Luis memang tidak pernah main-main memilih brand ambassador dan model untuk perusahaan nya,' batin Agalista.
"Halo kak semoga kita bisa bekerja sama dengan baik,"sapa pria itu menunduk dengan sopan.
"Iyah aku akan berusaha terimakasih,"balas Agalista dengan sopan.
Mereka mulai melangsungkan pometratan cukup lama dengan waktu jeda yang beragam ada beberapa brand baru yang harus di foto dan itu sangat membuat Agalista cukup lelah tapi dia tetap berusaha bersikap profesional.
Beberapa jam berlalu hingga akhirnya senja sore berganti gelap, semua orang saling tersenyum karena usaha mereka selesai para karyawan William sangat bekerja baik karena perusahaan ini memilih karyawan bukan hanya dengan gampang nya.
"Ketua tim hari ini akan mentraktir kita semua untuk makan malam jadi jangan pulang dulu yah teman-teman,"teriak seorang pria yang memakai pict tag di leher nya pria itu salah satu karyawan yang bekerja.
Agalista sangat lelah padahal dia ingin pulang dan berbaring tapi dia juga ingin makan gratis kali ini, belum lagi beberapa hari ke depan dia harus menghadiri acara fashion show brand produk William.
"Ini sih alamat nya kerja lembur bagai kuda,"gumam Agalista mencuci wajah nya di toilet.
Wanita itu berjalan sendirian menuju tempat makan yang ada di samping perusahaan, karena manajer pamit dengan yang lain nya berjalan terlebih dahulu.
"Kak,"panggil seorang pria berjalan menyamai langkah Agalista.
"Jehwan kau masih di sini?"tanya Agalista melihat pria itu yang sudah berganti baju dengan pakaian kasual nya.
"Ya tadi aku mengambil ponsel ku yang tertinggal kak, apa kakak sudah lama bekerja di William sebagai model mereka?"tanya Jehwan membuka obrolan.
"Belum lama, apa kau bukan model kontrak mereka?"tanya Agalista.
Mereka yang sama sama model berbincang saling masuk akal begitu pun dengan Agalista yang sesekali tertawa, tapi dia agak kaget dengan perkataan Jehwan kalau William tidak mengontrak model khusus.
'Kalau aku bilang kepada bocah ini aku masuk jalur orang dalam pasti dia akan merasa iri,' batin Agalista yang memang benar itu terjadi, dia menjadi model karena keahlian nya tapi juga karena adik CEO perusahaan itu hanya ingin menumui nya.
"Lenka kau memang malaikat keberuntungan ku,"gumam Agalista menggeleng mengingat itu.
"Maksud nya kak?"tanya Jehwan bingung.
"Bukan apa-apa haha,"tawa Agalista yang baru menyadari gumanan nya.
Mereka akhirnya bergabung dengan yang lain nya untuk makan malam bersama, makan malam itu menghabiskan waktu cukup lama karena mereka banyak mengobrol hal random. Agalista pamit karena dia memang sudah lelah, Jehwan yang melihat itu pamit juga dan pulang.
"Kak apa kau mau aku antarkan?"tanya Jehwan.
Agalista yang saat itu merasa mata nya kesakitan merasakan sesuatu masuk ke dalam mata nya, ah dia yakin itu hewan malam yang bertegangan membuat mata nya kesakitan.
Jehwan yang melihat itu mendekat dan membantu Agalista melihat apa yang ada di mata nya.
"Mata mu sangat merah kak,"ucap Jehwan meniup mata Agalista.
"Memang serangga kecil si@alan,"umpat Agalista.
Tanpa Agalista sadari Kevin yang ingin menjemput tunangan nya itu menatap adegan yang ada di depan nya, pria itu tidak emosi sama sekali, Kevin tipe pria tenang yang tidak ingin memakai emosi.
"Sayang,"panggil Kevin kepada Agalista.
Agalista yang mengenal suara dan sosok pria yang datang dengan setelan jas hitam nya, wajah datar nya terlihat sangat tampan. Aga menaikan satu alis nya heran.
"Sayang? Sejak kapan kau memanggil ku sayang?"tanya Agalista bingung kepada tunangan nya itu.
Kevin tidak menjawab perkataan Agalista pria itu menyingkirkan tangan Jehwan secara pelan lalu berkata.
"Terimakasih perhatian nya untuk tunangan ku, kau bisa pergi sekarang,"jawab Kevin datar.
"Ah Iyah kak sama-sama aku pamit dulu,"ujar Jehwan kaget dan mundur beberapa langkah.
Kevin memang tenang dalam melakukan setiap tindakan dan mengontrol kekesalan nya tapi yang mencengkram saat tatapan tajam dan suara mengintimidasi dari pria itu membuat siapa pun paham kalau Kevin sedang marah.
"Haruskah kita ke Italia dan mengabarkan kepada Daddy mu kita akan menikah sesuai persetujuan mu,"senyum Kevin mengusap pipi Agalista yang dia peluk dengan senyum kesal nya.
"Kau ini kenapa? Aku lelah, jangan bercanda,"jawab Agalista kesal.
"Bos pesawat sudah siap, pilot sudah stay kapan kita berangkat?"tanya pria memakai jas itu yang baru datang.
"Sekarang,"jawab Kevin santai.
Agalista yang baru loading hanya diam melongo mendengar perkataan Kevin dia kira itu main-main.
"Kevin kau gil@!"
Flashback off