
Srput...
"Ah americano memang enak,"lega Lenka menyelesaikan seruputan nya pada minuman nya itu.
"Nona Lenka Ananda William, bisakah Anda lebih serius?"ujar seorang wanita yang menatap Lenka dengan melipat kedua tangan nya.
Saat ini Lenka, Agalista serta Gisel sedang duduk manis di cafe, menikmati waktu sore mereka yang luang, kenapa mereka bertiga ada di sini jawaban nya cuman satu yaitu karena Gisel.
"Hehe kenapa kaliang menatap ku serius seperti kak Aga juga biasanya happy kiyowo juga,"cemberut Lenka kepada wanita itu.
"Ehe happy kiyowo nich,"sindir Agalista memasang wajah mengejek.
Saat ini dia tidak akan bisa happy karena takut melangkah kan kaki nya pulang ke apartemen Kevin, jika dia kembali ke hotel tadi manajer nya sudah mengatakan kalau utusan Kevin membawa semua barang-barang nya, membayang kan nya saja Agalista sudah takut, sangat takut kalau pria itu akan membalas nya di rumah.
"Huh merinding,"gumam Agalista mengusap pipi nya membayang kan sosok Kevin yang sedang marah kepada nya.
"Jadi apa kalian mau menemani ku, mari kita bersenang-senang,"senyum Gisel dengan polos nya.
Lenka dan Agalista saling menatap lalu menghela nafas mereka, Agalista memeluk gadis itu dengan gemas sedangkan yang di peluk hanya memasang wajah bingung.
"Aku turut sedih, saking tidak ada yang mau menjadi pasangan prom night mu, kau mengajak kami, sungguh miris gadis cantik kita ini,"gumam Agalista menepuk kepala Gisel layak nya adik kecil.
Malam ini adalah acara prom night di kampus Gisel, gadis itu memiliki beberapa kasus yang harus dia selesaikan bersama dosen tadi, karena dia sudah mencapai akhir dari study nya di jurusan hukum tersebut, Gisel yang lupa kalau ada acara, apalagi saat gadis itu mengajak teman pria nya untuk datang bersama nya, mereka mengatakan sudah memiliki pasangan, sungguh sedih.
"Benar juga sih baru tahu kalau pasangan prom night ngajak nya cewe apalagi bertiga aneh ga sih haha,"tawa Lenka mengingat itu jika mereka benar-benar pergi.
"Jika aku tidak datang malam ini, aku merasa melewatkan acara kampus yang berharga,"gumam Gisel.
'Berharga apanya teman mu saja sering mengucilkan mu,' guman Lenka merasa kasihan kepada sahabat nya itu.
Agalista mengebrak meja dengan semangat, walaupun umur nya lebih tua dari pada Lenka dan Gisel tapi dia masih cantik dan fresh jika memakai pakaian seumuran Gisel, seperti nya jalan yang bisa dia lewati hari ini agar tidak pulang ke apartemen adalah dengan ikut acara prom night kampus Gisel.
Brak..
"Jadi bagaimana Lenka, kau ikut?"senyum Agalista menunjuk Lenka yang masih fokus dengan minum nya.
Lenka tampak diam memejamkan mata nya lalu mengangguk, dia tampak ikut berdiri di depan Gisel bersama Agalista, sungguh mereka terlihat seperti sahabat yang sudah sejak dulu dekat, Lenka merangkul bahu Agalista yang padahal lebih tinggi itu, lalu mengeluarkan sesuatu dari tas nya.
"Serahkan kepada kakak sayang, aku akan membuat mu jadi cantik, dengan kartu ini,"bangga Lenka mengeluarkan kartu black card itu.
Semua orang yang berada di cafe itu tercengang melihat kartu Lenka terlebih mereka yang heboh membuat mata tertuju pada mereka, Lenka memang bangga tapi juga sedikit malu mengusap hidung nya pelan.
"Hoho walaupun ini milik Sam,"gumam Lenka pelan.
Seolah seperti pertandingan Agalista tidak juga mau kalah, dia mengeluarkan black card nya juga seolah dua gadis yang di depan Gisel saat ini adalah crazy rich.
"Tenang adik cantik, kami akan membuat mu cantik dengan beberapa kali gesekan kartu hitam ini,"jelas Agalista mendekatkan kartu nya kepada kartu Lenka.
"Kak Aga, Lenka kalian,"gumam Gisel terharu.
"Tapi ini juga milik Kevin sih hehe,"gumam Aga mengaruk belakang kepala nya.
Jika ada kehidupan Gisel yang lebih indah, mungkin nasihat itu akan di berikan Gisel bahwasan nya carilah teman-teman yang memiliki kartu hitam dan membuat mu senang, Lol.
"Buat apa termenung lagi, kita let's go ke salon,"ucap Lenka bersama dua orang itu.
"Ayo Gisel pegang tangan kakak cantik ini,"tarik Aga kepada tangan Gisel.
Begitulah kekonyolan mereka bertiga yang akhirnya memutuskan pergi menuju mall untuk make over ketiga nya, mereka akan pergi ke acara malam ini dan menjadi paling menonjol di antara mahasiswi lain nya, di kampus Gisel acara prom night yang diadakan mahasiswa membebaskan para mahasiswi atau mahasiswa kampus untuk membawa pasangan mereka atau pun mengundang untuk mengisi acara di sana.
Lain dengan ketiga gadis yang serba heboh tadi, tidak dengan ketiga pria yang sedang duduk di sofa memasang raut wajah datar saling bertukar pendapat dan argumen.
"Bos apa baik meletakan nya di setiap titik seperti ini, apa tidak terlalu berisiko?"tanya Kevin kepada Samuel yang tampak melihat hasil program nya bersama Sadam.
"Ini keputusan bagus, tempat ini juga bukan markas utama,"ucap Sam tidak mau mengubah keputusan nya.
"Dengan program ini, ruangan markas akan membentuk pintu labirin setelah pintu utama terbuka sesuai program game ini,"balas Sadam melihat komputer nya.
"Kerja bagus Sadam,"
"Kevin pastikan para anggota kita tidak ada pengkhianat, dan pastikan mereka yang menjadi anggota utama yang bertahan,"balas Samuel.
"Yes sir,"tegas Samuel.
Hawa di ruangan itu memang tampak serius dengan ketiga pria tampan tersebut saling mengotak atik otak mereka, bayangkan saja ketiga pria yang memiliki wajah datar dan dingin itu sama-sama di pertemukan dengan gadis konyol, heboh serta cerewet.
Membayangkan nya saja sudah membuat tertawa, apalagi image itu sangat tidak kontras dengan sosok ketiga pria itu, mereka lebih santai dan kalem, sedangkan para gadis selalu membuat kerusuhan.
Tring... tring..
Suara pesan terdengar dari ponsel Samuel, pria itu yang fokus dengan komputer Sadam mengalihkan tatapan nya dia menatap pesan jika kartu nya di pakai di sebuah butik, lalu salon dan spa, apa gadis itu berdandan?
Lalu begitupun Kevin yang mendapat notif jika kartu nya memiliki transaksi pemakaian di toko perhiasaan dan toko aksesoris dan tas.
Drt.. drt..
"Tumben kau memakai kartu ku,"tanya Samuel to the point langsung menelpon sang kekasih yang terlihat nya sedang sibuk itu.
"Oiya aku akan menemani Gisel ke acara prom night malam ini, maka nya kami berdandan cantik,"balas Lenka seadanya karena Agalista terus mengajak nya bicara.
"Apa ada pria?"tanya Sam.
"Ck kau ini aku sedang sibuk, tentu ada sayang, sudah dulu yah bye,"ucap Lenka mematikan ponsel nya.
'Bisa bisa nya dia pergi dengan pria lain,'