SAMUEL

SAMUEL
BAB 199



Lenka yang tertawa melihat mommy dan daddy nya itu secara tidak sengaja menjatuh kan tas nya saat dia bangun setelah menunduk arah pandangan tepat melesat kepada pria yang mengarah kan pistol ke sang mommy.


Dor…


Mata Lenka seketika membulat seketika pria itu menarik pelatuk dan mengarah kan timah panas itu tepat ke arah sang ibu tercinta, Lenka yang reflek panik seketika mendorong sang mommy yang bersamaan membuat diri nya terjatuh.


Brak..


Suara tembakan dan benturan Lenka serta rere yang terjatuh membuat pandangan keramaian itu seketika berubah panik, semua orang terlihat berteriak dan mencari sumber arah tembakan.


“Lenkaaaa,”teriak Samuel.


Sang suami yang menatap terkejut ke arah Lenka membulat kan mata nya, kejadian berlalu bergitu cepat hanya dalam hitungan beberapa detik saja dia bisa lengah dan membuat sang istri terjatuh.


“Mommy tidak apa apa?”tanya Lenka dengan wajah panik kepada sang mommy yang terjatuh akibat dia dorong.


Wajah rere seketika panik nafas nya memburu kencang, wanita paruh baya itu memegang dada nya dengan kuat merasa nafas nya berjalan masuk tidak teratur bayangan kelam di tempat yang sama terulang kembali, dan lagi lagi dia di selamatkan orang lain.


Keadaan terlihat ricuh semua orang seketika berkumpul mencari arah tembakan itu berasal begitu pun rere yang memegang kepala nya melihat darah yang mengalir entah dari mana.


“Siapa yang terluka?”jawab rere dengan panik.


“Lenka!!! Arghh tidak massss,”teriak varo.


Rere yang menatap ke bawah itu seketika melirik panik darah yang mengalir mengenai lengan Lenka, varo dan Samuel yang melihat itu seketika langsung mendekat.


“Siaalan siapa!”teriak varo dengan amarah yang membara mendekati sang istri.


“Tenang kan diri mu dad utama kan Lenka,”jawab Samuel dengan wajah panik tapi dalam situasi tenang.


“Mas cepat bawa Lenka dia berdarah sayang apa kau kesakitan? Mas!”teriak rere dengan suara setengah membentak.


Semua orang yang mendengar teriakan histeris itu mulai berkerumun ramai mendengar kepanikan itu mereka melihat salah satu korban, sedang kan yang tidak merasa sakit tapi lengan nya tergores oleh timah panas itu hanya berwajah pucat karena pusing.


“Kau benar Sam, minggir kalian semua!”teriak varo mengatakan itu.


Varo langsung menggendong sang anak masuk ke dalam mobil begitu pun rere yang terus menangis melihat keadaan Lenka yang pucat, sedangkan Samuel terlihat di sana mengedarkan arah pandangan nya mencari penembak itu.


“Dad bantu aku bawa istri ku pastikan dia mendapat kan perawatan terbaik pastikan bayi nya selamat aku akan mengurus aku mohon,”jawab Samuel dengan sedikit sedih.


“Serah kan pada ku, jika kau tidak dapat melihat mereka segera susul aku ke rs karena Lenka lebih membutuh kan mu,”jawab varo.


Samuel mengangguk tanda mengerti apa maksud dari perintah sang ayah mertua dengan kecepatan tinggi varo melajukan mobil nya membelah jalanan yang ramai, sedangkan Samuel terlihat mengusap wajah nya gusar.


“Sial aku kira kami sudah aman,”gumam Samuel mengatakan itu dalam hati nya.


Di dalam mobil menuju rs terlihat Lenka yang terbaring dengan wajah pucat nya gadis itu hanya diam sambil melirik sang mommy yang duduk di samping nya.


“Aku yakin bayi ku baik baik saja karena aku mengengam perut ku mom tidak ada benturan yang serius,”jawab Lenka dengan cerewet nya.


Gadis itu lebih panik bukan karena diri nya tapi lebih kepada rere yang terus menangis, varo hanya diam mendengar penuturan sang putri. Varo juga yakin itu hanya luka tembakan di lengan tidak akan berakibat fatal tapi bagi rere insiden penembak adalah trauma terbesar gara gara insiden beberapa puluh tahun lalu dia hampir kehilangan Clara dan bayi kembar empat mereka.


“Diam Lenka! Mommy tahu kau dokter tapi mommy takut sayang, kenapa kalian sangat baik kepada mommy kenapa kau mendorong mommy, kau sampai terluka hiks hiks aku tidak suka mas anak anak ku sakit seperti ini mas,”jawab rere dengan suara pilu nya.


Nada tangisan pilu dari sang istri William membuat varo merasa geram dia meremas kuat setir mobil nya penuh amarah karena emosi, siapa yang masih menarget kan sang istri. Kenapa masih saja ada yang ingin membuat istri nya berderai air mata pilu seperti ini, rere sudah cukup menderita padahal semenjak kehadiran si kembar mereka sudah di selimuti kebahagiaan tapi lagi lagi di saat anggota keluarga William bertambah maka bencana sebagai keluarga nomor satu tidak dapat di hindari ada saja yang akan menarget kan mereka.


“Mom, sudah ya,”jawab Lenka pelan dengan bibir pucat karena sedikit pusing.


Mobil di lajukan dengan kecepatan tinggi hingga sampai di rs terdekat salah satu cabang rumah sakit William itu mereka langsung menangani Lenka dengan cepat.


“Lakukan yang terbaik, kau harus obati anak ku!”jawab varo dengan tajam dan keras.


“Sayang kau ikuti Lenka, aku akan di sini dan menelpon seseorang,”jawab varo mengatakan itu.


Rere terlihat mengangguk menerima perintah sang suami, di sisi lain Samuel terlihat menelpon seseorang ya dia menelpon Kevin yang ada di markas pusat.


Drt… drt..


Suara ponsel berdering di atas meja kerja Kevin yang sedang berbincang dengan sadam serta arbian itu untuk membahas sebuah strategi dari misi tingkat B mereka.


Seketika perbincangan serius mereka terhenti terlihat Kevin dengan gercap mengangkat telpon sang big bos semua orang seketika diam.


“Siap big bos,”jawab Kevin.


“Sambung kan telpon ini ke audio panggilan markas sekarang!”teriak Samuel dengan penuh emosi.


Kevin terlihat serius dia membisikkan dan mengkode sadam pria itu yang mengerti langsung meretas san menyambung kan audio panggilan itu ke seluruh markas lebih tepat nya ke para petinggi aeros.


“Aeros ini perintah.”


“Aku Samuel Morgan meminta agar kalian memberhentikan semua kasus tangkap dalang siapa yang menembak istri ku,”


Semua orang yang mendengar berita itu seketika panik ayolah siapa yang berani bermain main dengan keluarga William atau istri seorang Samuel Morgan dia sudah mengali kuburan nya sendiri.


“Bos bagaimana dengan nyonya?”jawab sadam.


“Dia sedang menuju rs, kalian lacak ponsel ku aku sedang berada di tempat kejadian,”


“Sadam aku memperdayakan mu kali ini, lalu arbian aku putus kan jika sadam sudah menemukan nya bawa dia ke ruang ekseskusi ini perintah!”teriak Samuel dengan keras.


Saat pria itu tengah marah di telpon sebuah ledakan terdengar di kerumunan seberang tempat Samuel berdiri.


Duar…