
Gisel memejamkan mata nya ketika Sadam mendekat dan berbisik pria itu menahan pinggang nya, entah perasaan apa yang di landa Gisel dia merasa sudah siap menerima segala kemungkinan hingga akhirnya.
Duk..
Sadam menjentik kening gadis itu pelan membuat Gisel membuka mata nya merasakan jentikan jari Sadam, gadis itu meringis dan mengosok kening nya.
Argh..
"Suami sakit,"gumam Gisel mengosok kening nya berulang kali.
"Kenapa kau malah memejamkan mata mu? Jangan bilang kau berharap aku mencium mu seperti tadi?"seringai Sadam mengoda gadis itu.
Seketika wajah gadis itu langsung memerah seperti buah tomat, mungkin saja kalau di gambarkan di sebuah gambar, wajah gadis itu akan mengeluarkan asap karena malu mendengar tebakan sang suami nya benar.
"Ish enak saja siapa yang berharap hah?"kesal Gisel mendorong Sadam agar menjauh dari nya.
Pft.. haha..
Sadam tertawa melihat waja Gisel yang malu malu kucing, gadis itu yang mendengar tertawaan Sadam seketika langsung melirik suami nya. Baru kali ini dia melihat Sadam yang selalu marah-marah itu tertawa lepas, padahal dengan keluarga nya saja Gisel tidak pernah melihat nya sama sekali.
"Suami kau sangat tampan ketika tertawa,"senyum Gisel dengan tulus.
Pria itu yang tadi nya tertawa seketika berhenti, dia baru sadar dan memalingkan wajah nya. Haduh mereka seperti remaja puber yang salah tingkah satu sama lain.
"Aku hanya tertawa tidak ada yang spesial,"gumam Sadam.
Tidak ada jawaban sama sekali hening, Gisel yang juga malu menduduk, akhirnya mobil Sadam melaju untuk pulang karena mereka banyak menghabiskan waktu untuk sekedar mengobrol saja.
'Huh gara-gara suami sih, jadi bingung kan mau ngobrol apa,' batin Gisel hanya bisa menatap ke arah jendela.
"Kau,"ucap Sadam.
Gadis itu hanya terdiam ketika di panggil Sadam, pria itu yang kesal seketika menambah penekan nya.
"Gisel Indris!"tegas Sadam keras.
"Eh aku?"tanya Gisel memutar wajah nya kaget kepada suami nya.
Ternyata mereka sudah sampai di parkiran rumah dan Gisel malah melamun, tapi gadis itu juga sedikit tidak sadar ketika Sadam memanggil nya.
"Tentu aku memanggil mu, siapa lagi selain kau di sini,"gerutu Sadam berusaha bersabar kepada istri kecil nya itu.
"Habis nya suami memanggil kau, aku kira siapa. Kan bingung,"cicit gadis itu dengan suara pelan nya merasa malu.
"Haruskah aku memanggil sayang?"tanya Sadam datar.
"Tentu!"senyum Gisel senang.
"Tidak!"kesal Sadam.
Huh ternyata gadis nya akhir akhir terlalu jujur dengan apa yang dia pikirkan membuat Sadam merasa bingung sendiri, Sadam mendekat membuka kan selt belt untuk Gisel pelan.
Cklek...
"Tunggu sebentar,"ucap Sadam menahan tangan sang istri yang akan turun dari mobil nya itu setelah di buka kan selt belt.
Gisel yang menerima tarikan pun mengangguk menurut ketika suami nya itu menahan tangan nya, Sadam terlihat terdiam dia bingung harus memulai pembicaraan nya dari mana.
"Kenapa tadi kau menangis? Apa kau sedih atas pernikahan kita?"gumam Sadam yang akhirnya mengatakan segala kegundahan nya.
Gisel terlihat terdiam lalu gadis itu tertawa keras melihat suami nya yang malu-malu mengatakan itu.
"Apa gara-gara itu suami dari tadi seperti orang bingung haha?"tanya Gisel tertawa.
"Apa maksud suami? Aku menangis bukan gara-gara suami tidak mencintai ku,"ucap Gisel heran kepada pria itu.
"Maksud mu? Bukan kau tadi menangis sambil mengatakan mencintai ku membuat mu semakin sakit,"tanya Sadam yang bingung.
Pria itu merasa tidak salah dalam mendengar perkataan Gisel, istri nya itu benar menangasi setelah mengatakan itu.
"Haha suami ternyata kau juga bod0h ya,"tawa Gisel mengejek.
"Ck siapa yang boodoh!"kesal Sadam.
"Tentu suami ku, apa suami tidak memakai otak? Aku menangis terlebih dahulu sebelum berbicara, itu sangat mudah. Jika aku menangis dahulu sebelum mengatakan hal itu,"
"Itu berarti aku menangis bukan gara-gara aku mengatakan mencintai suami itu menyakitkan, emang seperti itu, tapi alasan aku menangis bukan seperti itu, suami boodoh ya,"ucap Gisel malah mengejek.
Ayolah? Apa maksud gadis itu, Sadam tidak mengerti sama sekali jalan pikir Gisel, apa maksud nya dengan sebelum mengatakan itu, jadi dia mengatakan nya dulu baru menangis begitu.
"Kau membingungkan, lalu kenapa kau menangis?"gumam Sadam yang kesal sendiri.
"Ah aku menangis, karena senang suami membalas ciuman ku, jadi aku menangis saking terharu nya, apa itu aneh?"tanya Gisel heran sendiri dengan perkataan nya.
Doeng..
Astaga itu sangat zonk jadi dari tadi Sadam merasa bersalah tapi apa yang dia pikirkan juga salah? Gisel gadis ini membuat Sadam naik darah saja.
Duk..
Lagi-lagi Sadam sangat bersabar, pria itu mengetuk kening Gisel pelan membuat gadis itu meringis dan memayunkan bibir nya yang terasa sakit.
"Ih suami sakit, kenapa sih suka pukul kepala istri, nanti tambah boodoh gimana? Suami mau punya istri boodoh,"tanya Gisel kesal.
"Jika kau tambah boodoh itu hal bagus, karena kau memang boodoh, sabar,"gumam Sadam di akhir kalimat.
"Tapi jika suami tidak mau lagi karena aku boodoh, harus kah aku mengajak pria tampan tadi menikah dan menjadi kan nya suami kedua hehe, dia seperti nya menyukai aku juga,"gumam Gisel tertawa cengegesan.
"Hoh kau menyukai nya? Katakan kepada nya apa dia bisa melangkahi mayat ku,"kesal Sadam.
Pria itu menarik Gisel dan mengendong nya ala bridle style ke dalam rumah, membuat Gisel seketika kaget oleh oleh Sadam. Tetangga yang lewat karena hari belum larut juga melihat pasangan itu.
"Haduh nak Sadam romantis banget yah,"ucap salah satu ibuk komplek sana.
"Ahaha iya buk, seperti nya saya harus lebih memanjakan nya agar tidak menikah lagi,"senyum Sadam mengangguk berlalu.
"Suami turunkan aku, malu!"ucap Gisel mengoyangkan kaki nya kesal.
Tidak ada jawaban sama sekali dari pria itu, mendengar kata Gisel akan menikah untuk kedua kali nya membuat dia merasa kesal sendiri.
"Apa aku harus memakan mu sekarang, dan memberitahu di mana batasan mu terhadap pria? Istri ku!"tegas Sadam di akhir kalimat.
"Makan? Apa makan? Suami kanibal!"teriak Gisel kaget.
Lagi-lagi Adelia yang duduk di ruang keluarga melihat anak nya mengendong Gisel tapi kali ini berbeda, gadis itu seperti nya baik-baik saja tapi Gisel malah meronta.
"Mama tolong Gisel, Sadam akan memakan Gisel mama!"teriak Gisel.
"Eh apa makan? Ah kalian,"senyum Adelia malu-malu.
"Jangan bela dia lagi mama,"ucap Sadam.
"Tidak lanjutkan mama dukung kok,"ucap Adelia.
"Lah kok mama dukung suami makan Gisel ma, suami kanibal loh ma!"