
"Lovely, are you here,"ucap salah satu pria berpakaian kemeja hitam menyapa anatasnya yang sedang menatap sinis ke arah Lenka.
Gadis itu berdiri dengan senang menerima cipika cipiki dari pria yang datang di meja mereka itu, pria itu terlihat sangat mewah berpakaian dari ujung kaki dan ujung rambut, seperti jam dan sepatu mewah nya membuat semua orang tahu.
'Kalau barang yang Dia pakai KW,' batin Lenka mengeleng ingin tertawa.
"Teman-teman kenalkan ini Justine pacar ku,"ujar Anastasya dengan senyum sumringah nya.
Semua orang tersenyum menyapa justine, begitu pun Lenka yang tidak ketinggalan berkenalan dan menyapa pria itu dengan senyum nakal nya.
"Lenka,"
"Justine,"
Pria itu menahan tangan Lenka dan tersenyum kecil seolah-olah mengoda gadis itu, Lenka yang merasa jijik menarik tangan nya menjauh dari tangan pria itu.
Plak..
Anatasya memukul tangan Lenka yang seolah-olah menuduh nya yang memegang tangan pacar wanita itu lebih lama.
"Lenka kau sangat cantik, lovely Aku baru tahu teman mu sangat cantik, tapi apa Dia juga dari satu sekolah dengan mu, kau mengatakan akan mengadakan reuni bukan,"ucap Justine memilih duduk di samping Anastasya.
"Beib, jangan menghina Lenka, Aku kasihan,"ujar Anastasya pura-pura mencubit Justine pelan.
Lenka bukan nya tersinggung Dia malah mendengus kesal dan memutar bola nya malas melihat tingkah kedua pasangan itu yang menurut nya sangat freak di mata nya.
"Aku tidak menghina, semua yang di sini rata-rata orang tua mereka memiliki perusahaan bukan, atau pun anak penjabat, Hei Lenka apa ayah mu bekerja sebagai manajer?"
"Jika kau mau menjadi pacar ku, Aku bisa lebih memperhatikan penampilan mu,"ujar pria itu tertawa seolah-olah bercanda.
Sedangkan Anastasya berubah raut nya menjadi marah, Dia tahu kalau Justine adalah pria mata keranjang yang tidak tahan melihat wanita cantik sendirian, dan ingin mengoda.
Brak...
"Jangan menghina Lenka yah kalian, apa kalian tahu? Kalau Daddy Lenka it--,"
Mmphhh
"Diamlah Gisel, jangan ikut campur, biarkan para anj*ng ini puas mengongong,"ujar Lenka melepaskan tutupan tangan nya pada mulut Gisel yang tampak emosi.
Lenka adalah tipe gadis yang jika menghadapi situasi ini memilih lebih bersikap tenang dan santai tanpa ikut-ikutan mengongong dan berkoar tidak jelas, membuat tenggorokan nya sakit.
"Gisel, Gisel jangan membela Lenka, kau masih lumayan, apa kau masih membela dan mengikuti kemana pun gadis ini pergi? Kau tahu Gisel? Kau masih sama seperti sewaktu kita SMA menjadi sebuah peliharaan KETOS kita,"ucap Anastasya pelan.
Semua orang tertawa karena mendengar perkataan Anastasya yang seolah-olah bercanda itu, Gisel hanya diam berusaha kembali tenang mendengar hinaan itu, Lenka menyesap pelan koktail nya sedikit menikmati rasa manis yang bergelora di mulut nya.
"Anastasya sebaiknya tutup mulut mu, jangan sampai menghina Gisel seperti itu, Dia bukan peliharaan ku, tapi sahabat ku,"
"Kau tahu? Kau memang cantik dan kaya, tapi satu yang kurang untuk mu,"
Lenka mengantung ucapan nya lalu menyeringai kecil, berdiri melewati Justine lalu mengetuk pelan kening Anastasya dengan seringai licik nya dan berkata.
"Berbicara sebelum berpikir,"
"Kau tahu banyak yang mengatakan mulut mu adalah harimau mu,"
Ucap Lenka berjalan memutar kembali ke tempat duduk nya, dengan santai gadis itu melipat kaki nya tinggi dan melipat kedua tangan nya di dada, seolah-olah Dia sangat mendominasi keadaan saat ini.
"Sekali lagi kau berbicara, bermimpi indah lah dalam hitungan beberapa menit kau akan bangun melihat kenyataan kalau kau bukan lagi gadis sombong seperti ini, dan satu persatu orang di sekitar mu akan menjadi sengsara karena ulah mu,"ujar Lenka menatap datar ke depan Anastasya.
Wanita itu menelan ludah nya kasar, perkataan Lenka memang mampu membuat nya naik pitam dan marah sekaligus, tapi itu tidak perlu di takutkan lagi dan lagi Lenka hanya mengancam dan sok penuh berwibawa.
Drt.. drt..
Ponsel Justine berdering keras membuat pria itu mengerutkan kening nya heran, Justine mengangkat telpon itu langsung lalu menerima telpon dengan panik nya.
"Justine si*lan apa kau mengelapkan dana perusahaan? Wakil Ceo macam apa kau,"teriak seseorang di seberang sana.
Deg..
Justine seketika menegang mendengar pernyataan itu, sungguh tidak mungkin sama sekali seseorang tahu akan hal ini, Dia sudah sangat bermain bersih, Anastasya seketika kaget mendengar telpon yang keras tiba-tiba itu seolah-olah ada yang meretas ponsel itu otomatis.
"Ma ma maksud Anda apa Pak? Saya tidak pernah sama sekali,"
"Jangan membodoohi ku, apa karena Aku orang tua yang menjabat sebagai CEO kau akan mempermainkan ku hah?! Angkat kaki mu dan jangan pernah menyandang jabatan Wakil CEO lagi karena saham mu sudah musnah,"
Teriak seseorang dari seberang telpon sana, belum sempat Justine beralasan selanjut nya tiba-tiba suara seseorang terdengar, seolah-olah dengan aura mencengkam dan suara serem.
"Justine, tutup mulut busuk mu, dan urus pacar mu itu, sebelum Aku membongkar hal lain tentang keluarga mu, jangan ganggu Nona kami,"gumam pria itu.
Mata semua orang terbelalak kaget mendengar suara ponsel loudspeaker yang otomatis itu, mereka semua melirik Lenka dengan penuh tanda tanya, tapi tunggu Dia belum melakukan apa pun dan meminta bantuan Daddy, lalu siapa? Gisel?
"Gisel?"gumam Lenka melirik sahabat nya itu.
"Bukan,"bisik Gisel mengeleng karena keluarga nya tidak sehebat itu.
Dengan suara gemetar Justine menjawab suara pria itu, yang entah kenapa langsung terhubung dengan panggilan CEO perusahaan nya tadi, tapi dengan nama yang berbeda, Dia tidak menjawab sama sekali panggilan itu, hal gila apa ini?
"Nona? Aku tidak pernah menganggu Nona kalian, apa maksud nya semua ini hah,"teriak Justine kesal.
"Nona kami,"
Ujar pria itu mengantung membuat semua orang penasaran, tapi belum ada jawaban tiba-tiba seseorang datang di belakang kursi Lenka.
"Nona kami Lenka Ananda William,"ujar Kevin menyambung panggilan itu.
Tut.. tut..
Panggilan terputus, membuat semua orang mencari sumber suara yang ada di belakang Lenka itu, gadis itu mendongkak kepala nya.
"Kevin? Kau kenapa melakukan nya, dan kenapa kau tahu? Aku belum meminta Daddy melakukan ini,"kesal Lenka menghentakan kaki nya layak nya anak kecil.
"Karena itu bukan perintah Tuan William, tapi perintah Tuan Samuel Nona,"ujar Kevin menunduk hormat menyapa putri keluarga William itu.
"Apa William?"semua orang seketika bungkam, terutama Anatasya yang tidak dapat berbicara apa-apa.
Teman-teman kaya Lenka semua membungkam mulut nya tidak percaya, pantas saja mantan ketos mereka itu sangat elegan dalam bertutur kata, apa ini karena bawaan dan ajaran keluarga nya.
Tap.. tap..
Suara langkah kaki mengalihkan semua tatapan mata seseorang yang sedang kaget dan tidak percaya itu.
Grep..
Seorang pria datang dan memeluk Lenka yang sedang berdiri itu.
"Dan jangan menganggu pacar ku, pria miskin,"