SAMUEL

SAMUEL
BAB 141



Saat ini di dapur kamar VVIP itu kedua orang pria saling menatap satu sama lain sambil berdiri di depan meja dapur, Sadam menaikan bahu nya bingung sedangkan Kevin yang memasang wajah datar nya.


"Apa yang harus kita lakukan?"tanya Sadam heran kepada Kevin.


"Entahlah aku juga bingung,"jawab Kevin.


Sedangkan Lenka hanya terus tersenyum menatap kedua orang itu yang kebingungan sedangkan Kevin hanya bisa memasang wajah heran.


"Bos,"ucap Sadam kepada Samuel.


"Ayolah hanya membuat pasta yang mudah saja kalian tidak bisa?"ucap Samuel jengah kepada bawahan nya itu.


"Kami pria biasa kalau tidak bisa memasak bukan,"ucap Sadam menjawab perkataan Samuel.


Pria itu dengan kesal melempar kotak tisu yang ada di meja dapur yang seperti bar itu mengarah langsung ke tempat masak dapur nya, dengan gerakan cepat Sadam menghindar.


Brak...


"Aku juga pria dan bisa memasak, apa berarti bukan hal biasa?"tanya Sam kesal.


"Ya bos, siapa suruh anda pintar memasak. Kadang saya bingung anda hebat menyayat daging manusia, tapi juga bisa memasak. bukan kah itu aneh?"tanya Sadam kepada Samuel.


"Apa jiwa mu tertukar dengan Bian? Tutup mulut mu, dan cepat kerjakan,"kesal Samuel yang mulai lelah melihat drama itu.


Akhirnya kedua orang itu mulai mengeluarkan pasta nya dan menyiapkan bahan-bahan untuk saus pasta nya, Kevin dengan kikuk memotong bahan-bahan itu.


"Bagaimana kita lihat tutor di internet saja?"tawar Sadam.


"Boodoh, jika kau tahu harus nya kau katakan dari tadi. Aku sampai bingung!"kesal Kevin kepada Sadam.


"Ya wakil, sabar,"ucap Sadam menghela nafas nya kepada Kevin.


Akhirnya Sadam mulai mengeluarkan ponsel nya dan mencari vidio tutorial yang tidak terlalu lama dab hanya inti nya saja, mereka menonton itu berdua untuk memulai memasak.


"Lah gampang ternyata,"jawab Kevin yang mulai mengikuti tutorial nya bersama Sadam.


Dengan gerakan cepat mereka mengikuti step demi step sesuai yang di terapkan di vidio tanpa terkecuali, hingga akhirnya masakan kedua orang pun jadi, Sadam mengeluarkan keringat padahal hanya memasak.


"Wah ternyata memasak juga pekerjaan yang sulit ya,"ucap Sadam menghela nafas.


'Aku jadi teringat Gisel yang memasak kan ku setiap hari,' batin Sadam yang merasa sedih.


Benar kata orang mereka harus merasakan hal yang sama maka orang itu baru tahu apa arti yang benar-benar mereka rasakan itu.


"Lah istri ku mana?"tanya Sadam celingak celinguk mencari ke ruangan itu.


"Tadi tidur di bangku kolam renang, Gisel susah banget bangun yah Sadam. Maka nya aku tinggal, aku kira kau yang bangun kan,"teriak Agalista yang sedang menonton di ruang tv.


"Bocah itu kebiasaan memang,"gumam Sadam kesal.


Langkah kaki besar nya keluar dari dapur, dnegan cepat Sadam melepaskan apron nya untuk menjemput Gisel, tapi sebelum itu dia pamit terlebih dahulu kepada Lenka.


"Nona saya pergi dulu, pasti masakan nya enak kok, tidak apa-apa kan?"tanya Sadam.


"Hei! Tentu tidak apa-apa, suami nya itu aku bukan kau! Pergi,"kesal Samuel kepada anak buah nya itu.


Sedangkan Lenka hanya mengangguk menerima perkataan Sadam, Kevin memilih ikut duduk di meja makan itu, Lenka dengan senang bertepuk tangan ketika Samuel mneyodorkan suapan pertama ke mulut nya.


"Enak!!"teriak Lenka senang dengan mulut yang dia kunyah penuh.


Agalista yang melihat Lenka makan dengan lahap dengan penasaran duduk di samping Kevin, dan mengambil garpu.


"Boleh coba Lenka? Aku akan mencoba masakan suami ku, apa memang seenak yang kau katakan,"jawab Agalista menantang.


Sedangkan Kevin yang di katakan itu hanya memasang raut wajah datar nya merasa mendapat ulti terus menerus oleh Aga.


"Boleh Aga, enak deh coba,"ucap Lenka menawari.


"Tentu kau harus mencoba nya, aku ahli nya. Jangan meremehkan masakan ku, nona sudah memuji nya sendiri,"bangga Kevin menatap Aga kesal.


"Wah sok banget, biasa nya juga beli makanan mulu juga kamu, atau ga aku masakin,"ejek Agalista kembali.


Agalista lalu menyendok satu suap, tapi sebelum masuk ke mulut entah kenapa bau bawang putih tercium sangat kental di hidung nya, Agalista sudah curiga tapi Lenka yang mengatakan enak tentu tidak menyalahkan selera nya.


Satu suapan akhirnya masuk ke dalam mulut Aga, awal nya raut wajah nya biasa. Lalu saat lidah nya sudah merasakan apa rasa masakan itu kunyahan yang tadi nya cepat merubah menjadi lambat, Agalista mengambil tisu dan memuntah kan nya.


"Kev, bawang putih nya terlalu banyak!"teriak Agalista dengan raut wajah enek nya.


Wanita itu langsung menyambar air putih milik Lenka tanpa izin lagi, sedangkan Samuel yang menyuapi Lenka mulai berhenti mendengar perkataan Aga.


"Kau bohong, nona saja sangat menikmati nya, bilang saja kau tidak mau mengakui masakan ku,"ketus Kevin kepada Aga.


"Tidak, aku tidak bercanda. Sam buang itu, nanti Lenka sakit perut!"kesal Aga kepada Samuel yang malah diam.


"By lagi suapin,"rengek Lenka kepada Samuel yang terdiam itu.


"Jangan bercanda, tidak mungkin istri ku tidak bisa membedakan mana yang enak dan bukan,"jawab Samuel mengeleng tidak percaya.


Agalista yang merasa kesal, mengambil sendok yang ada di tangan Samuel dan menyodorkan satu suap pasta itu ke dalam mulut nya. Karena paksaan mulut Sam sangat belepotan, tapi Sam tidak mempedulikan itu, mata nya membelalak kaget merasakan masakan aneh itu.


"Apa ini! Sangat tidak enak, Kevin,"ucap Sam memuntahkan makanan itu merasa tidak enak.


"Bos anda bercanda, tapi nona masih memakan nya?"tanya Kevin heran menatap Lenka yang sudah asik makan sendiri.


Sam yang merasa tidak terima karena merasakan rasa masakan aneh itu, mengambul sendok Aga tadi dan menyuapi ke mulut Kevin juga dengan paksaan. Begitulah reaksi mereka semua nya hampir sama karena merasakan bawang putih yang terlalu dominan itu.


"Astaga? Masakan jahanam apa ini? Siapa yang masak siaalan,"teriak Kevin mengambil minuman kaleng untuk menetralisir lidah nya.


"Kau! Itu kau Kev,"kesal Agalista kepada suami nya itu.


"Ah aku lupa, tapi kenapa sampai separah itu, dan nona!"teriak Kevin kaget.


'Gilaa kalau nona masuk rs gara-gara masakan ku, aku akan di gantung bos Sam,' batin Kevin kaget.


Semua mata orang seketika tertuju kepada Lenka yang sedang asik makan mereka bertiga berdiri kompak untuk menarik piring di tangan Lenka.


"Lenka buang!"teriak mereka.