
Brum.. brum..
Dua mobil sport mewah memasuki gerbang kampus ibu kota tersebut, suara mobil yang keras membuat acara prom night yang di adakan di lapangan itu membuat mata semua orang tercengang dan tertuju.
Mobil sport bewarna hitam dan satu lagi bewarna pink itu melesat melewati beberapa orang yang berjalan menuju lapangan acara, semua orang terkagum apakah mereka saat ini sedang mengundang artis tapi seperti nya tidak.
Pintu mobil sport bewarna hitam itu terbuka menampilkan kaki jenjang wanita cantik yang tersenyum yaitu Agalista, di sisi pintu satu lagi Gisel keluar dengan agak canggung lalu sedikit menunduk.
"Apa ini tidak terlalu berlebihan,"gumam Gisel yang merasa di tatap semua orang.
Mobil sport bewarna pink itu juga berhenti tepat di samping mobil Agalista, gadis cantik yang anggun itu menurunkan kaki putih mulus nya yang menggunakan high heals, Lenka tampak tidak kalah sebagai tamu saat ini.
"Ayo girl kita party,"teriak Agalista melepas kacamata hitam nya dan memasukan nya ke tas mewah mereka.
"Aku sampai shock mengingat budge yang mereka keluarkan,"gumam Gisel yang berdiri di samping Lenka.
Flasback on
"Ayo kita buat cantik malam ini gadis kita,"ujar Agalista dengan senang.
Mereka memilih spa terlebih dahulu lalu Agalista yang mendapat bagian memilih pakaian dan aksesoris, bagian yang terpenting adalah make up dan merubah gaya Gisel.
"Jadi mau gimana nona?"tanya pemilik salon itu dengan sopan melayani tamu Vip nya.
"Jangan tanya kau buat kita cantik, tapi yang lebih penting dia,"ujar Lenka menunjuk Gisel yang duduk di kursi tunggu dengan gaya bingung dan kacamata yang sesekali melorot ke bawah.
Mereka mulai di dadani dengan cantik apalagi Gisel yang saat ini rambut nya sedang di buat keriting mengantung, mereka memakai dress itu.
"Wah cantik kali, tapi ini apa?"tanya Agalista mengambil kacamata Gisel yang masih bertenger.
"Gisel kau itu cantik jangan tutupi kecantikan mu dengan kacamata bulat ini sayang,"keluh Agalista dengan heran.
"Aga tunggu tapi aku rabun, jangan ambil kacamata ku,"rengek Gisel ketika Agalista menjauhkan nya.
Lenka yang juga baru selesai berdadan itu ke luar dengan jalan anggun nya, walaupun sering membuat onar dan kadang heboh, Lenka tetap lah putri william yang tahu tata cara yang benar dalam bersikap seperti ini.
"Pakai ini Gisel, soflens nya ada lensa kok,"jelas Lenka.
Mereka mulai membantu Gisel memakai soflens walaupun sesekali gadis itu sangat susah dan terus menerus menutup mata nya karena takut dengan barang yang masuk ke mata nya.
"Wah lihat lah cantik bukan,"jelas Lenka menepuk bahu Gisel yang sedang duduk dan menghadap cermin.
"Ayo kita pergi, hitung total nya dengan ini,"ujar Lenka memberikan kartu itu.
Merasa ada yang kurang Agalista mulai mengeluarkan pendapat nya entah kenapa dia baru sadar yakali mereka datang pakai taxi.
"Lenka kau tidak berpikir kita naik taxi bukan, apa kau tidak berniat meminjamkan kami mobil,"ucap Agalista yang berhenti berjalan keluar di depan mall itu.
Duk..
Lenka yang baru tersadar mengetuk kepala nya pelan yakali mereka mau berolahraga dan berjalan kaki hingga ke kampus.
"Tenang teman-teman aku akan menyuruh asisten kakak ku untuk menyuruh bodyguard mereka mengantar mobil,"jelas Lenka menelpon Luis.
"Lenka aku tidak usah, aku bersama kau atau Aga saja,"ucap Gisel cepat.
Mereka setuju dan memilih menunggu dengan malas padahal sudah cantik-cantik seperti ini, Agalista yang bosan meyarankan untuk foto.
"Aku uploud sosmed and tag kalian yah,"ujar Lenka yang melihat hasil foto itu.
"Oke boleh tuh,"jelas Aga.
Note: Jadi yang pake dress hitam itu Agalista yang tengah Lenka terus Gisel yah.
Flasback off
Suara musik sangat keras di halaman kampus itu, mereka yang berjalan ikut bergabung dengan para tamu yang lain sesekali di lirik.
"Wah musik nya seru nih,"ucap Agalista yang berjoget-joget kecil.
"Iya soalnya kampus kami ngundang Dj juga,"jelas Gisel mengatakan itu.
Saat mereka tengah asik mengobrol ada beberapa rombongan mahasiswi yang tidak kalah modis dari pada mereka tapi satu yang dapat di tanggapi Agalista bahwa barang dan gaun mereka adalah kw.
"Apa kau Gisel?"tanya salah satu wanita memakai mini dress itu.
"Iyah kak, ada apa yah?"tanya Gisel menatap wanita yang dia kenal sebagai Ketua bem di kampus itu.
"Wah apa ini, circle mu? Lumayan,"sindir wanita itu melirik teman-teman nya yang memasang wajah songong.
Wanita itu yang mungkin wanita nya sekitar 6 orang di tambah pasangan pria mereka ada 6 orang juga membuat rombongan mereka seperti sedang melabrak rombongan Lenka.
"Wah apa ini Gisel yang sering di buli sama ketua jurusan itu?"tanya salah satu pria mendekat kepada Gisel.
Pria itu berjalan mendekat dan ingin mengelus pipi Gisel, gadis itu hanya diam menunduk membiarkan tangan itu hampir menyentuh, kebiasaan Gisel yang tidak pernah melawan membuat nya hanya pasrah, tapi tangan itu seketika di tepis oleh Lenka.
Plak...
"Jaga tangan kotor mu, jangan sentuh sahabat ku,"jelas Lenka menghempaskan tangan pria itu.
"Wah wah siapa ini, bukan alumni ikut acara tapi gaya nya lebih songong dari pada tuan rumah,"sindir pria itu.
Teman-teman pria itu seketika tertawa mengejek, tempat mereka seketika menjadi bahan totonan karena geng pria itu adalah para anak berpengaruh yang memiliki kekuasaan di kampus.
"Kita memamg cuman tamu, tolong jaga sopan santun mu, sebelum aku menembak kepala mu ini dengan pistol ku,"ucap Agalista santai.
Bagaikan sebuah candaan mereka kembali tertawa mendengar itu, untung saja Lenka menahan tangan Agalista yang bersiap menarik pistol yang selalu dia bawa di tas itu.
"Udah lah Aldo, ga ada guna nya ngurusin geng cacat sok cantik,"teriak wanita yang tadi menyapa Gisel.
"Ck sok cantik? Kau saja yang cantik memakai barang kw,"teriak Agalista melempar gelas minum nya dengan kesal.
"Apa kau bilang kw? Enak saja,"teriak wanita itu gugup dan malu karena orang-orang mulai membisikan nya.
"Aga sudah jangan ribut,"ucap Gisel yang panik atas perdebatan itu.
Mereka mulai berdebat satu sama lain tidak mau kalah.
"Duh kasihan sampai tidak laku nya kau malah l3sbi@n ngajak pasangan prom night cewe haha,"telak wanita itu kepada mereka bertiga.
Ayolah Lenka saat ini hanya ingin menjadi wanita anggun dan sabar lalu tidak marah-marah tapi penghinaan itu tidak bisa terus berlanjut Lenka mulai mendorong wanita itu.
"Berani jangan omongan doang, sini pukul,"teriak Lenka berdiri dengan kedua tangan di pinggang.
"Aww sakit,"teriak wanita itu.
"Hei bocah jangan berani kau mendorong kekasih ku,"teriak pria itu bersiap membalas mendorong Lenka.
Tapi tangan pria itu di tahan oleh tangan seseorang yang menatap nya tajam.
"Jika para gadis bertengkar jangan ikut campur dan ambil bagian, apa kau banci?"