
Seorang gadis cantik berambut merah saat ini tengah duduk di kursi tunggu bandara, penerbangan nya di tunda karena cuaca yang kurang baik di ibu kota, sesekali gadis itu mengelap air mata nya yang terjatuh.
Hiks.. hiks..
"Daddy, Kevin tidak mempercayai ku,"racau gadis itu masih sakit hati atas tindakan Kevin yang tidak percaya kepada nya.
Tamparan pria itu yang meninggalkan bekas merah tidak terasa sakit sama sekali bagi Agalista, hal yang lebih menyakitkan bagi nya adalah Kevin yang tidak mempercayai nya.
"Aku tidak peduli jika Sam tidak mempercayai ku, setidaknya Kevin tidak usah ikut emosi dan dia bisa saja bertanya baik-baik,"gumam gadis itu masih tidak percaya.
Mata nya sembab berlinang air mata, pipi serta hidung nya memerah akibat tangisan yang begitu lama, hingga sudah menyamai warna rambut nya sendiri, suara deringan ponsel menghentikan tangisan nya.
Drt.. drt...
"Daddy?"gumam Agalista yang kaget langsung menormalkan suara nya.
Ekhem...
"Halo daddy, i miss you so much,"ujar Agalista dengan suara ceria nya.
Sepertinya gadis itu sangat pintar dalam menyembunyikan kesedihan nya, daddy Agalista sudah sangat rentan di umur nya yang semakin senja, walaupun pria itu mantan mafia, kekuasaan nya di masa lalu hanya lah angan-angan di masa muda.
"Aga, tadi Kevin menelpon mengatakan kalau kau akan pulang, apa kau sudah menikmati libur mu uhuk uhuk,"ucap pria tua itu dengan suara lirih nya.
"Sudah dong, di sini sangat menyenangkan daddy, tapi Agalista gamau lama-lama juga ah, Aga kangen daddy, oh iya daddy udah minum obat, awas yah belum!"tegas wanita itu di seberang telpon sana.
"Haha sayang jangan memarahi daddy mu yang tua ini, seperti nya daddy akan menyusul mommy mu segera, jangan lama-lama bermain, daddy juga ingin melihat mu segera menikah dengan Kevin,"lirih pria itu mengatakan nya.
Agalista terdiam menduduk dia bingung harus menjawab apa, lalu gadis itu berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Jangan ngomong gitu ah, Aga ga suka, oiya daddy seperti nya pesawat Aga akan mulai berangkat, daddy love you,"ujar wanita itu langsung mematikan ponsel nya.
Sementara itu Daddy Agalista hanya mengusap dada nya yang terasa sakit, dia hanya ingin segera sembuh, dan tidur tenang bersama istri nya.
'Daddy harap kau juga bisa mendapatkan pria yang kau cintai, seperti daddy mendapatkan mommy mu dulu,' gumam pria itu.
Agalista mulai menarik koper nya dan berjalan masuk ke dalam kabin pesawat, melihat suasana negara ini, negara di mana tempat seorang yang dia cintai berada.
"Maafkan Aga daddy, tapi pria itu tidak bisa membuka hati untuk Aga sedikit pun,"gumam Agalista.
Sementara itu saat ini Lenka sedang menemani Samuel yang entah mengapa fokus kepada komputer dan sesekali melihat berkas yang banyak.
"Udah kayak kerja kantoran aja,"gumam Lenka mengunyah cemilan nya itu.
"Kau bosan?"tanya Samuel di sela-sela kegiatan nya melirik sang kekasih yang celingak celinguk ke sana sini.
"Iya, apa boleh aku mengelilingi markas ini, ayo lah boleh ya,"jelas Lenka kepada Samuel membujuk nya.
Pria itu menghentikan kegiatan nya lalu melirik jam yang masih memperlihatkan pukul 3 sore, Samuel lalu mengangguk.
"Boleh tapi hanya ruangan tertentu, dan kau harus di temani Arbian,"jelas Samuel melirik pria yang sedang duduk dan mengunyah cemilan juga di ruangan itu.
"Ay ay bos, siap melayani kakak ipar, silahkan,"ujar Arbian dengan keras dan bersemangat langsung berdiri ketika nama nya di ucapkan oleh Samuel.
"Jaga jarak ketika kau berjalan Arbian, ingat!"tegas Samuel tajam.
Pria itu mengangguk kacang yang dia kunyah terasa susah tertelan akibat Samuel yang menatap nya intens, memang bos nya itu sudah sangat bucin, mereka mulai berjalan menelusuri markas aeros yang luas mulai ruang eksekusi yang sudah bersih tapi dalam bentuk ruang operasi.
"Hah ini seperti di film-film saja,"gumam Lenka mengeleng.
"Ada apa kakak ipar?"tanya Arbian yang berjarak 1 meter dari Lenka.
"Boleh aku melihat senjata itu, ayolah,"bujuk Lenka menatap Arbian yang tampak mengaruk pipi nya sambil berpikir.
Hmm..
Tanpa menunggu jawaban Arbian, gadis itu yang mulai kesal menunggu keputusan anak buah Samuel berjalan masuk seenaknya dan seketika mulut nya terbuka lebar takjub melihat jenis senjata, dan alat bertempur, sungguh ruangan itu sangat besar, mungkin tempat itu bisa di jadikan lapangan sepak bola, dan satu lagi ada sebuah tank, pfftt itu sangat lucu pikir Lenka.
"Wah ini sih real bisa buat film di sini,"takjub Lenka mengeleng masih mengunyah keripik kentang nya seolah-olah menikmati pemadangan itu.
Sedangkan Arbian yang tampak berpikir di depan pintu masuk, baru tersadar ketika dia mulai berbicara.
"Baiklah kakak ipar tapi hanya se--,"
Arbian celingak celinguk mencari Lenka yang padahal sudah masuk terlebih dahulu, pria itu berlari masuk dan menghampiri Lenka yang seperti nya sedang bersembunyi di balik tempat jejeran tombak dan busur itu.
"Kakak ipar kau kem--,"
Lagi-lagi Arbian tidak menyelesaikan perkataan nya karena Lenka menutup mulut nya kuat dan menarik tangan pria itu untuk ikut bersembunyi, awal nya Arbian terus berbicara meminta di lepaskan hingga dia mulai tahu situasi.
"Suttt diam b0doh!"umpat Lenka kepada anak buah Samuel itu.
Suara percakapan terdengar samar di telinga Arbian, ternyata Lenka sedang menguping tidak sengaja saat gadis itu ingat mencoba salah satu busur tetapi dia kaget melihat ada dua orang dan langsung bersembunyi di sebalik persenjataan itu.
Bersamaan dengan itu Arbian datang dan hampir membuat mereka ketahuan, Lenka mengumpati pria yang lebih dewasa dari pada diri nya itu.
"Kau diam nanti kita ketahuan,"jelas Lenka.
*'Emang benar kata orang jodoh itu cerminan diri sendiri, bisa-bisa nya kakak ipar sangat suka memarahi ku juga seperti bos, tersiksa batin* ini,'galau Arbian.
Arbian mengangguk tanda mengerti lalu mulai ikut mendengarkan percakapan yang samar-samar itu.
"Kau bodoh seharusnya berikan saja racun itu kepada semua makanan, kenapa hanya kepada gadis william itu saja,"ketus salah satu pria.
"Bos sudah mengatakan untuk jangan membunuh pimpinan mereka, karena dia ingin yang menghabisi pria itu sama seperti kematian orang tua nya,"jelas satu pria itu.
"Samuel? Jadi begitu,"kaget Lenka tidak sengaja menjatuhkan salah satu busur.
Bruk..
"Siapa di sana!"
......................
Agalista caseline
Seorang gadis cantik yang berasal dari Italia, saat ini Agalista sudah menginjak usia dewasa yaitu 32 tahun, dia adalah tunangan dari kevin, mereka di jodohkan karena wasiat dari daddy kevin sendiri, saat ini Agalista hanya fokus dengan karir model nya.
Kevin Stevendaro
Pria dewasa berumur 39 tahun, sudah menjabat menjadi wakil ketua aeros saat umur nya masih 17 tahun sampai sekarang, anak dari mantan mafia besar yang sudah di hancurkan sendiri oleh Kevin yang bernama Black code, kehidupan Kevin selalu di penuhi teka teki, sama dengan cerita ini.