SAMUEL

SAMUEL
BAB 154



Lenka yang mendengar pertanyaan beruntun dari mommy nya itu seketika mengangguk cepat medengar pertanyaan Rere, akhirnya dengan bahagia dan lega Rere ikut menangis memeluk sang suami yang tersenyum kecil.


"Selamat sayang,"ucap Varo mengecup kening sang anak.


Bruk...


Agalista yang juga penasaran itu dari tadi sudah ikut masuk ke dalam ruangan itu, dia mendengar kabar itu sedikit panik serta terkejut dan tidak sengaja menjatuhkan barang.


Kyaaa...


"Benarkah? Aku akan menjadi aunty,"teriak Agalista dengan bahagia mendorong tubuh Samuel dengan kuat dan mengambil alih pelukan sang istri.


Agalista memeluk dengan gemas Lenka yang juga membalas pelukan nya sambil tersenyum bahagia, Aga tahu semua ini akan terjadi. Percintaan nya tidak dapat di perkirakan, pria yang ingin dia nikahi harus menikahi orang yang dia cintai, dan wanita yang menjadi teman nya.


Dan pria yang sangat dia benci harus menjadi suami nya, tanpa terasa air mata Agalista ikut tumpah dia menangis bahagia ketika Lenka sudah melengkapi kebahagian nya dengan Samuel.


'Akhirnya mereka memiliki anak, Sam selamat. Kau sudah semakin tidak bisa di jangkau, mungkin aku harus berusaha belajar mencintai Kevin sebisa mungkin demi daddy,' batin Agalista mengusap air mata nya dan melepaskan pelukan itu.


Sedangkan Kevin yang melihat itu hanya menatap Samuel dengan datar, ah Samuel memang selalu di depan nya. Tapi soal cinta dia lah yang memiliki nya banyak untuk Agalista, hanya saja wanita itu masih ragu terhadap diri nya.


'Perasaan berdebar memang gampang untuk di tunjukan, tapi cinta yang benar benar cinta belum bisa di buktikan hanya karena kita salah tingkah,' batin Kevin mencengkram tangan nya kuat.


Pria itu tahu, Aga memang sering malu-malu atas perlakuan nya. Dan salah tingkah, tapi dia juga tahu kalau Aga masih tidak mencintai nya, Kevin dapat merasakan nya.


Tatapan Agalista sangat berbeda dengan cara dia memandang diri nya dan Samuel, tatapan cinta itu adalah tatapan yang tulus membuat mu tenang ketika melihat orang tersebut, tapi Aga berbeda.


"Sayang, kita juga akan membuat bayi jika kau ingin,"goda Kevin kepada Agalista yang mengsusap air mata nya.


"Ck, kau ini orang sedang bahagia malah bahasan nya yang ga ga,"ucap Agalista kesal berjalan mendekati Kevin.


Pria itu terkekeh melihat Aga yang cemberut, dia mengengam tangan Agalista yang berdiri di samping nya. Membuat wanita itu merasa heran menatap Kevin yang memasang wajah datar ke arah Samuel.


'Kenapa dia?' batin Aga melihat Kevin yang sangat kuat mengengam tangan nya.


"Mommy, pokok nya aku akan memberikan kejutan dengan kakak kakak ku nanti oke, jangan kasih tahu mereka,"ucap Lenka kepada mommy nya antusias.


"Baiklah sayang, tapi berapa di sini, cuman satu kan?"tanya Rere kepada sang anak.


"Bukan mom, twins. Kau akan mendapatkan cucu dua sekaligus,"senyum Lenka dengan manis.


Seketika Rere hanya terdiam, Varo yang memahami itu seketika mengingat kenangan masa lalu nya membuat hati nya terasa tergores kembali. Dia merasa hal itu baru saja terjadi kemarin.


Bagaimana tidak? Dia paham bagaimana perjuangan istri nya yang harus melahirkan kembar empat sekaligus, hingga koma dan membuat nya menjadi pria termalang saat itu, Varo seperti mayat hidup tanpa suami nya.


"Jangan memasang raut wajah bersedih, Lenka seorang dokter dia tahu hal yang baik dan buruk,"ucap Varo mengusap pipi sang istri.


Gadis muda itu memeluk mommy nya, dia juga tahu dari cerita Oma nya dulu bagaimana perjuangan sang mommy melahirkan mereka, di usia nya yang muda mengandung anak kembar empat seperti salah satu daftar keajaiban dunia.


"Mom dengarkan Lenka, aku Lenka andana morgan. Akan berhati-hati, kehamilan ku memang berisiko, tapi aku tahu kalian akan selalu menjaga ku, apalagi aku memiliki suami super posesif,"ucap Lenka melirik sang suami yang hanya memasang wajah datar.


"Baiklah, mommy sekarang tenang. Dan mari kita pulang, terimakasih dokter,"ucap Rere.


Akhirnya mereka berenam pamit dari ruangan dokter kandungan sambil terus tersenyum bahagia dan sesekali berbincang, tapi saat mereka sudah sampai di lantai satu. Mata Lenka seketika terhenti kepada sosok mama Sadam dan adik nya Sadam yang dia pernah temui saat pernikahan.


"Sayang, itu mama sama adik nya Sadam bukan sih?"tanya Lenka menunjuk dua wanita dengan wajah panik yang terus berjalan menuju ruangan UGD yang Lenka pahami tempat nya.


Samuel dan yang lain menghentikan langkah nya, dia menatap ke arah jari istri nya yang menunjuk. Pria itu menyipitkan mata nya.


"Benar, itu mereka,"ucap Samuel.


"Lalu kenapa mereka seperti itu, perasaan ku tidak enak."ucap Lenka yang tadi nya tersenyum memasang raut wajah sedih.


Lenka juga tidak tahu entah kenapa dia merasa sangat khawatir sekarang ini, perasaan nya sangat sensitif. Lenka terus membujuk Samuel untuk mengikuti kedua orang itu sebentar.


"Sayang, bolehkah kita kesana dulu, ya,"bujuk Lenka.


"Jangan kau sedang hamil, palingan mereka sedang ada urusan. Ayo pulang ya, jangan memaksa kan diri mu,"ucap Samuel mengusap kepala istri nya.


Gadis itu mengeleng cepat menolak perkataan Samuel, Rere yang melirik sang anak sangat paham dengan tatapan Lenka. Entah kenapa ini seperti deja vu, ya. Rere mengingat kejadian beberapa puluh tahun silam, saat kejadian penusukan Clara saat itu, sahabat nya merelakan diri nya terluka demi menjaga si kembar mereka.


"Sam jangan begitu, ayo kita ikuti kemauan istri mu. Nanti dia kepikiran dan bisa stress juga,"ujar Rere.


Pria itu terdiam jika nyonya besar sudah bertitah dia hanya mengangguk, Lenka seketika berjalan terlebih dahulu mengikuti jalanan yang di lewati dua orang tadi.


Seketika mata nya tertuju kepada Sadam yang terduduk di kursi tunggu, dengan mama Sadam yang terus menangis sambil memukul kepala sang anak tanpa ampun.


Bugh.. bugh..


"Apa yang kau lakukan Sadam?"


"Kenapa kau tidak mengajar istri mu hah!"


"Sadam, sudah cukup dia terluka. Kenapa kau tidak bisa menjaga nya dengan benar!"teriak mama Sadam menangis.


Sedangkan Rara hanya bisa terduduk di lantai menangis melihat mama nya yang terus memarahi Sadam, sedangkan Sadam sama sekali hanya memasang wajah datar dan pucat nya membiarkan perlakuan sang mama.


Drap.. drap...


Perasaan Lenka mulai tidak enak, langkah nya mulai cepat menghampiri ketiga orang itu, Lenka mendengar satu persatu perkataan mama Sadam yang membuat badan nya ikut merosot ke lantai.


"Gisel? Kenapa Gisel? Sam kenapa Gisel!"


Bersambung...


*Ayok bisa kasih kartu vote senin nya**♥️*