
Seorang gadis cantik mengedipkan mata nya beberapa kali melihat langit kamar dirinya dan suami nya itu, Gisel yang awal nya itu tertidur kembali terbangun saat di tinggalkan suami nya yang baru keluar kamar.
"Kak Sadam,"lirih Gisel merasakan pria yang tidur di belakang nya tadi menghilang.
Gisel memilih mendudukan diri nya di atas kasur entah kenapa suami nya yang pergi meninggalkan tidur sendiri membuat nya trtbangun merasa tidak nyaman, Gisel mengerucutkan bibir nya melihat sang suami yang sudah pergi menghilang.
"Kata nya mau temenin tidur, kok ga ada sih,"gumam Gisel kesal kepada Sadam yang meninggalkan nya.
Gadis itu memilih nekat turun dari kasur tanpa kursi roda dan tanpa di bantu oleh Sadam, Gisel berjalan tertatih-tatih dengan susah menopang jalan nya yang belum normal dengan perlahan melangkah kan kaki nya.
"Sayang,"teriak Gisel mencari Sadam yang entah pergi kemana meninggalkan diri nya sendiri tertidur di kamar.
"Apa kau sudah memberitahu nya?"tanya mama Sadam kepada sang anak yang sedang terduduk di luar kamar itu.
Gisel yang memang berjalan menuju ruang tamu itu mendengar suara seseorang mengobrol silih berganti, awal nya Gisel tidak terlalu mendengarkan obrolan itu karena dia memang berniat hanya mencari Sadam, tapi keinginan itu di tepis karena dia juga mendengar suara Sadam di sana.
"Ma, apa kau mau melihat Gisel bersedih dan menyalahkan ku lalu meninggalkan ku? Aku lebih baik di tembak di kepala oleh musuh aeros dari pada istri ku pergi dari sisi ku,"ucap Sadam bergetar dan tajam menatap sang mama yang hanya menatap nya lembut.
Langkah kaki Gisel yang awal nya tadi tertatih dengan pelan berubah menjadi lebih lambat dengan wajah bingung, gadis itu menaikan satu alis nya masih belum mengerti atas obrolan yang terjadi.
Saat tengah-tengah obrolan itu Rara datang duduk di samping sang mama yang terdiam, gadis remaja itu mengelus punggung tangan sang mama, sambil ikut terdiam dengan suara lirih Rara berkata.
"Aku tahu kak, bagaimana perasaan mu,"
"Tapi bukan kah kak Gisel lebih memiliki hak untuk mengetahui nya dari pada kita? Dia lebih berhak mengetahui nya lebih dahulu,"
"Kakak bayangkan saja jika kak Gisel jauh tauh lebih lama dari ini, dia itu seorang calon ibu. Jika saja, dia tahu bayi nya tiada tapi dia baru megetahui setelah semua nya baik-baik saja? Apa kakak pikir kak Gisel akan memberikan reaksi jauh baik?"
Ucap Rara dengan panjang lebar, hah gadis itu terlihat lebih dewasa dalam berbicara dan berpikir dari pada yang di ketahui. Belum sempat Sadam menimpali perkataan sang adik, sebuah benda terdengar pecah dan jatuh.
Prank...
Seketika semua orang menatap ke arah sumber suara, terutama Gisel yang karena kaget mendengar itu dia tidak sengaja menjatuhkan vas keramik yang mahal milik sang mama mertua.
"Sayang kau tidak tidur?"tanya Sadam langsung berdiri siap menghampiri sang istri.
"A a a aku, maaf ini vas mama. Maaf, maaf kan aku,"ucap Gisel dengan wajah pucat dan grogi.
Badan gadis itu seketika jatuh ke lantai, dia tidak dapat menopang kaki nya yang lemas dan di tambah tidak kuat berdiri mendengar omongan Rara yang tentu menohok perasaan nya.
Sedih, kacau, bersalah dan sakit hati serta perasaan lain nya bercampur aduk menjadi satu di relung hati nya, tanpa sadar Gisel menumpahkan air mata nya. Sadam yang menyadari pasti sang istri mendengar semua nya itu seketika langsung memeluk sang istri yang terduduk.
Bruk...
"Jangan peluk aku, jangan kak. Maafkan aku ma, maaf, aku bersalah, ini hancur."lirih Gisel dengan suara bergetar memegang pecahan keramik itu.
"Aku sudah terluka kak, aku sudah terluka. Hiks hiks, maafkan aku kak jangan mengikuti ku, tinggalkan aku,"ucap Gisel berusaha berdiri.
Dia menepis tangan Sadam berulang kali yang berusaha merangkul pinggang mungil nya untuk memapah sang istri, gadis itu terlihat pucat membuat semua orang sangat khawatir.
"Kak kau mendengar nya,"tanya Rara berusaha berjalan mendekati Gisel.
Tidak ada jawaban sama sekali hingga akhirnya Gisel yang awal nya berdiri dengan menopang tubuh nya dengan dinding, seketika ambruk. Sadam yang memang berdiri di belakang sang istri dengan sigap menangkap tubuh Gisel.
"Kakkkk,"teriak Rara dengan panik.
Sadam mengendong tubuh sang istri nya dengan wajah datar, dia tahu hal ini akan terjadi. Dia sudah menyiapkan mental nya, tapi itu tidak sesuai ekspetasi, dia sangat khawatir raut wajah nya silih berganti.
"Cepat telpon dokter!"teriak Sadam membentak sang adik.
"Kenapa kakak memarahi ku hah!"teriak Rata tidak mau kalah.
"Ini semua gara kau, jika saja kau tidak mengatakan itu dengan gamblang. Gisel tidak akan mendengar nya Rara!"bentak Sadam dengan urat leher yang sudah menegang dan wajah memerah.
Tentu dia sangat marah dengan sang adik, jika saja Rara jauh lebih berhati-hati rahasia nya pasti tidak akan terbuka secepat ini.
"Aku? Yang egois itu kakak, sadar umur. Dan pikirkan ke egoisan mu yang membuat kak Gisel tersiksa, dari awal jika kau tidak memaksa nya menik--,"
Belum selesai Rara berbicara suara tangisan dari seorang gadis dalam gendongan Sadam membuat semua orang mengalihkan perhatian dan menatap Gisel yang dengan wajah pucat dan mata memerah nya.
"Sudah kak jangan membentak Gisel, kalian jangan bertengkar, bisakah kita bicara secara baik-baik saja. Aku ingin duduk,"lirih gadis itu menatap Sadam dengan mata berair.
Sungguh Sadam sangat tidam tega melihat itu, dia menurunkan perlahan sang istri untuk duduk di sofa ruang keluarga. Tiada lepas Sadam mengengam tangan istri, beberapa menit beberapa puluh menit Gisel masih terus menangis, hingga akhirnya pertahanan Sadam runtuh.
Dia terduduk di depan sang istri dan menjatuhkan wajah nya, dia rela bersujud asal Gisel tidak meninggalkan nya.
"Sayang berhenti lah menangis, rasa sakit mu jauh membuat ku tersiksa dari pada di tikam belati,"
"Tangisan mu membuat dunia ku seolah hancur berkeping-keping,"
"Maafkan kesalahan ku, jangan meninggalkan ku. Aku mencintai mu lebih dari apa yang kau tahu,"
"Kau boleh memukul ku kau boleh menampar ku, aku lebih baik merasakan sakit nya fisik dari pada hatiku yang jauh lebih terluka jika kehadiran mu tidak di sisi ku lagi,"
Sadam menurunkan segala ego nya, dia tidak peduli jika orang mengatakan bucin dan alay atau apalah itu, dia hanya ingin mempertahankan gadis nya saat ini.
"Kak aku tidak akan meninggalkan mu, walaupun kesalahan ini memang sangat besar, karena kita sudah berjanji. Tapi maaf aku juga butuh waktu,"