
"Nah sudah selesai,"ucap Lenka memperlihat kan hasil perban nya sebagai dokter pada tangan Samuel dengan bangga.
Sedangkan pria itu terus fokus menatap Lenka yang memberikan obat dan memasangkan perban itu di lengan nya, Samuel menatap jari-jari lentik Lenka yang mengusap luka tangan nya.
"Sam, lihat Aku membuatkan kukis untuk mu,"ucap Lenka membuka sebuah kotak kukis yang sangat Dia jaga untuk Samuel.
Pria itu melihat Lenka membuka kotak kemasan nya, dengan lucu Samuel tersenyum kecil melihat kukis yang ada karakter wajah itu.
"Apa ini Aku?"tanya Samuel mengambil satu kukis itu dengan senang.
"Iyah, tampan bukan seperti kau,"ujar Lenka tersenyum mendongkak menatap Samuel.
Ups, seperti nya mulut nya sudah salah berbicara Samuel yang di puji tampan itu seketika tersenyum lebar membuat Lenka merinding melihat nya, pria itu langsung merebut kotak kukis itu dari tangan Lenka.
"Jadi kau mengakui kalau Aku ini tampan,"ucap Samuel dengan bangga melihat kukis itu menyamakan dengan posisi wajah nya.
Pftt, Astaga seperti nya Lenka tidak bisa terus menahan tawa nya melihat ekspresi Samuel yang sangat senang di puji tampan itu oleh diri nya, Lenka menutup mulut nya dan mengangguk.
"Ya, kau tampan,"Angguk Lenka sekali-kali membuat pria itu senang bukan main.
Padahal dari dulu memang Samuel sudah tampan, siapa pun orang pasti akan bilang seperti itu, tapi yah nama nya Lenka, Dia terlalu sering di kelilingi orang tampan sehingga menurut nya mendapatkan pria tampan hanya lah sebuah bonus dalam hubungan, yang penting kepercayaan satu sama lain.
Drt.. drt..
Telpon Lenka berdering saat Dia dan Samuel sedang asik berbincang itu, Lenka langsung melihat sang penelpon yang ternyata adalah Luis.
"Sam sebentar Aku akan angkat telpon dulu,"ucap Lenka kepada pria itu.
Samuel mengangguk dan Dia di beri kode agar tidak bicara, Samuel mengambil kotak kukis itu dan keluar dari ruangan nya.
Cklek...
Semua orang yang berada di luar ruangan melihat langkah kaki Samuel dengan tegang, hingga akhirnya pria itu duduk di sofa yang berada di luar itu bersama Kevin yang fokus dengan laptop nya.
"Kevin,"ujar Samuel menyapa pria itu dengan nada senang nya.
Kevin yang mendengar itu melirik Bos nya dengan alis terangkat, seperti nya cuman Kevin yang tidak mendapat amukan dari Samuel tadi, tentu Dia tidak mendapatkan nya secara Dia bekerja tanpa kesalahan.
"Iya Bos, ada apa,"tanya Kevin dengan heran melirik pria itu.
"Apa kau tahu, seperti nya Lenka menyukai ku, lihat Dia membuatkan ku kukis bergambar wajah ku,"ucap Samuel memperlihatkan satu kukis ke tangan Kevin.
Pria itu mengambil kukis yang di berikan Samuel, ups hampir saja Dia tertawa melihat Samuel yang mengatakan kalau Lenka membuat kan itu berdasarkan wajah nya terlihat seperti karakter yang sedang parah.
'Ini tidak mirip sama sekali kecuali alis nya, Nona William sangat buruk dalam melukis,' batin Kevin menahan tawa nya.
"Ya walaupun ini tidak terlalu mirip sih,"ucap Samuel mengatakan itu dengan nada kesal nya karena menyadari Kevin yang menahan tawa nya melihat kukis itu.
Semua orang seketika melongo yang ada di ruangan itu, sampai-sampai Sadam membenarkan kacamata nya untuk memastikan jika sekarang Samuel tersenyum senang bukan karena habis menyiksa orang tapi karena menerima sebuah kotak kukis kecil dari seorang gadis.
Sedangkan Arbian yang melihat itu, mendekat dan mengambil salah satu kukis itu dan langsung mengigit nya.
Kraus..
"Hmm ini enak bos, Nona William sangat hebat dalam memasak tapi sangat buruk dalam melukis wajah mu haha,"ujar Arbian mengatakan itu tanpa wajah bersalah nya.
Damn, seperti nya Arbian kembali membuat Samuel akan marah besar karena ulah nya yang terlalu blak blakan itu, semua orang sudah terdiam melihat Arbian akan menerima pukulan itu.
"Sial@n kenapa kau memakan wajah ku,"umpat Samuel dengan kesal menarik mulut Arbian dan membuka nya dengan tangan nya.
Membuat Arbian tersedak karena kukis itu belum sepenuh nya tertelan, astaga semua orang hampir saja tertawa melihat tingkah aneh Samuel karena perasaan nya kepada Lenka.
"Keluarkan Aku dari mulut mu,"kesal Samuel menarik mulut Arbian tanpa belas kasihan menghimpit tubuh pria itu ke sofa.
Lenka yang sudah menyelesaikan telpon nya itu, melirik ke ruangan Samuel yang kosong melompong tidak ada siapa pun di sana, Lenka langsung keluar membuka pintu, dan pemandangan yang pertama Dia lihat adalah Samuel yang menghimpit tubuh Arbian dan membuka mulut nya dengan lebar menggunakan tangan nya.
"Samuel, apa yang kau lakukan,"tanya Lenka dengan wajah terkejut menarik tangan pria itu turun dari tubuh Arbian dengan kasar.
Ohok.. ohok..
Arbian baru bisa menelan kukis nya sempurna ketika Samuel sudah turun dari atas badan nya, Samuel berdiri dengan wajah cemberut dan memelas kepada Lenka.
"Dia memakan kukis yang kau buat Lenka, Dia memakan Aku,"kesal Samuel dengan wajah manja nya memeluk gadis itu yang lebih pendek dari nya.
Lenka membalas pelukan itu, entah Samuel memang manja kepada nya karena kukis nya di makan, atau cuman cari kesempatan, entahlah Dia tidak tahu, tapi ekspresi cemberut Samuel mampu membuat Lenka tersenyum senang karena lucu menatap pria itu yang biasanya hanya bisa marah.
"Sudah Aku akan membuatkan nya lagi,"ujar Lenka mengusap punggung Samuel.
Gadis itu melepaskan pelukan nya, lalu mendekat kepada Arbian yang cepat-cepat menghapus bekas remahan kukis di tepi mulut nya agar tidak di marahi Nona William itu.
"Arbian lain kali jangan seperti itu, atau kau akan merasakan jarum suntik ku jika terus menganggu Sam,"ucap Lenka berdiri berkacang pinggang.
Samuel yang tadi nya memasang wajah tidak terima kukis nya di makan, sekarang tersenyum senang mendengar pembelaan Lenka yang mengatakan akan melindungi nya itu.
"Ba baik Nona,"ucap Arbian menunduk.
'Haduh seperti nya Nona Lenka sangat cocok jadi ratu nya Aeros,' batin Sadam tertawa kecil melihat drama itu.
"Babe, apa kau yakin membela ku, lihat saja Arbian tubuh nya seperti raksasa zaman purba,"ujar Samuel memeluk Lenka dari belakang.
"Jika Dia berani, Aku punya kau, karena badan mu juga besar,"ucap Lenka memberikan satu jempol nya.
Sedangkan Arbian yang menjadi bahan pembicaraan kedua orang itu hanya mendengus kesal karena bisa-bisa nya mereka mengatakan diri nya ketika Dia masih bisa mendengar jelas.
'Aku di katakan raksasa, Anda juga Bos Sam, badan besar ga berani lawan Nona Lenka,'