
"Si@l,"umpat Lenka yang kaget tidak sengaja menyengol suatu barang itu, Arbian juga kaget dan langsung menarik tangan gadis itu untuk bersembunyi di sebalik jejeran senjata yang ada.
"Siapa di sana!"teriak orang itu sekali lagi berteriak ke arah sumber suara.
Dengan langkah perlahan pria itu berjalan menyusuri deretan busur yang terjejer rapi, degup jantung serta deru nafas Lenka terdengar keras di telinga nya sendiri, entah dia terlalu takut atau apa, sehingga suara kecil pun terdengar sangat keras.
"Kakak ipar tetap di sini, aku yang akan mengurus nya,"ujar Arbian bersiap berdiri dari posisi sembunyi nya.
Grep..
"Kau cari mati hah!"ketus Lenka tajam menahan ujung baju pria itu.
Seketika Arbian menaikan satu alis nya, seperti nya Lenka memang tidak tahu posisi Arbian di aeros, padahal walaupun Arbian sering bersikap kekanakan posisi nya di aeros sangat lah penting, sebagai ketua tim pemburu dan pengejar.
Jadi perkelahian adalah makanan sehari hari nya saat ini, pria itu mengangguk meyakinkan Lenka lalu keluar dengan cepat memukul tengkuk pria itu.
Bruk..
"Akh kau Arbian,"teriak salah satu pria itu sebelum pingsan dan terkapar di lantai.
Lenka seketika bertepuk tangan layak nya anak kecil sambil mengangguk takjub, seolah-olah sedang menonton drama padahal situasi saat ini adalah kenyataan yang mungkin saja mengancam nyawa mereka.
"Arbian kau menguping ternyata,"teriak salah satu pria itu kembali.
"Jangan main-main dan lawan aku saja, ternyata aku tidak menyangka para pelayan rendahan seperti kalian berani dengan aeros,"tajam Arbian dengan suara membentak.
Bagaikan drama action, Arbian yang berdiri jauh beberapa meter dari pria itu memasang tatapan elang nya, tembakan mendadak mengarah tepat ke arah Arbian berdiri.
Dor.. dor..
Pria itu berguling ke lantai untuk menghindari tembakan, Arbian yang tidak membawa senjata seketika bingung harus melawan dengan tangan kosong, pria itu berlindung di salah satu kursi besi.
"Aish, aku meninggalkan pistol pribadi ku si@lan,"umpat Arbian kepada diri nya sendiri mengintip pria yang mencari keberadaan nya.
Tanpa di sadari Lenka berteriak ke arah Arbian, sambil melemparkan sebuah senjata tempur perang m4 tepat di depan pria itu.
"Bian tangkap ini!"teriak Lenka yang juga bersembunyi di sebalik kotak perkakas mengambil salah satu pistol.
Hap..
Bagaikan slowmotion pistol itu beralih tangan kepada Arbian, pria itu tersenyum miring seperti nya dalam hitungan beberapa detik dia bisa menargetkan pria itu tepat sasaran.
Sedangkan Lenka yang berdiri sehabis melampar senjata itu, seketika meregangkan pergelangan nya santai seolah-olah ini hanya film.
"Wah berat juga senjata nya, tangan ku tidak kuat nih,"geleng Lenka yang menatap Arbian dengan santai memegang senjata itu.
Dor.. dor..
Arbian berlari dari satu tempat ke tempat lain begitu pun dengan musuh yang berlari menghindari Arbian, kotak perkakas atau pun kardus di jatuhkan satu persatu untuk menghindari tembakan Arbian.
"Jangan kabur kau bajing@n!"teriak Arbian siap menembak, tapi seketika suara tembakan berbunyi dari atas ruangan itu.
Dor...
"Bocah si@lan, itu bagian ku!"teriak Arbian menatap pria pendek itu yang kesenangan berada di sisi ruangan atas itu.
Pria yang di tembaki itu sudah terkapar tidak berdaya tepat mengenai kepala nya, sedangkan Arbian yang kesal melempar senjata nya sembarangan.
"Kau harus ikut latihan setiap akhir pekan selama 3 jam!"teriak Arbian kepada anak buah nya itu.
"Ayolah ketua, kau marah karena aku menembak target, kau lamban,"ketus pria kecil itu merasa tidak adil.
Satu persatu para bodyguard dan anggota aeros berdatangan di ruangan persenjataan itu, begitu pun dengan Samuel yang langsung datang, dia yang tadi nya sedang santai memeriksa dokumen kaget mendengar info dari Sadam.
"Sayang kau baik-baik saja? Kau terluka,"kaget Samuel melihat gadis nya itu dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Tangan ku sakit,"jelas Lenka memperlihatkan tangan kecil nya ke depan Samuel.
"Kenapa, bajing@n yang mana,"teriak Samuel bersiap ingin melakukan sesuatu itu.
Lenka menahan tangan pria itu, lihat lah pacar nya ini sangat tempramental beruntung lah Samuel mendapatkan pacar seperti Lenka yang sangat sabar dalam menghadapi sikap nya.
"Bukan gara-gara dua orang itu, tadi aku mencoba mengangkat satu senjata ternyata lumayan berat,"jelas Lenka mengeleng dan mengelap keringat nya.
"Air!"teriak Samuel melirik bawahan nya.
"Air di sini kakak ipar,"teriak salah satu bodyguard itu memberikan nya kepada Lenka.
"Wah terimakasih, kau sangat pengertian,"ujar Lenka meneguk air itu hingga habis.
Seperti nya semakin lama berada di dekat Samuel, situasi seperti ini mulai menjadi hal biasa bagi Lenka, kadang dia berpikir dia sangat beruntung selalu selamat.
"Tapi Sam, tadi Arbian sangat hebat sat set sat set berputar, tapi ujung-ujung nya anak buah mu yang itu menembak,"cerita Lenka dengan antusias menujuk pria pendek yang sedang adu bacot dengan Arbian.
"Karena itu memang pekerjaan mereka,"ujar Samuel mengusap rambut gadis nya itu lalu tersenyum kecil.
Mereka pergi menuju ruangan Samuel, para ketua datang untuk memberikan laporan, dan begitu juga Kevin yang sudah balik dari apartemen menuju markas.
Srek...
Sadam mengeluarkan satu lembar kertas print CCTV di depan Samuel, dan juga beberapa lembar foto kotak kecil yang mengandung sianida.
"Sam, kau tahu, Aga tidak bersalah, aku mendengar kalau mereka yang meletakan racun itu,"
"Dari awal Aga memang cuman hanya menyiapkan makanan, mereka ingin mencelakai mu sebagai target utama itu bukan salah Agalista,"jelas Lenka kepada sang pacar.
Samuel yang melirik berkas itu seketika melirik Lenka dengan menghela nafas, lalu Sam melirik Sadam, pria itu langsung mengerti.
"Dan ini rekaman cctv siapa saja yang keluar masuk dari dapur, karena di dapur markas memang hanya ada satu cctv dari sudut kurang jelas, karena dulu anda meminta untuk tidak memasang banyak di sana,"terang Sadam.
Rekaman mulai di putarkan, terlihat di sana Agalista yang memasak di bantu beberapa pelayan, sesekali gadis itu mencicipi makanan nya dan tersenyum, sampai masakan selesai dapur di tinggalkan semua orang, rekaman bersambung menuju pintu belakang dapur memperlihatkan dua orang pria pelayan markas aeros yang sudah bekerja lama, beberapa menit mereka keluar dan membuang botol kecil ke tong sampah pintu belakang.
"Astaga, Sam kau lihat kau menyalahkan Aga!"teriak Lenka melihat rekaman itu yang sudah selesai.
'Si@l sepertinya aku sudah membuat kesalahan,' batin Kevin melihat tangan nya sendiri, tangan yang menampar wajah cantik sang tunangan.