SAMUEL

SAMUEL
BAB 37



Jalanan kota di malam hari lumayan ramai karena ini adalah malam minggu, Samuel melirik Lenka yang tertidur di kursi penumpang dengan senyum kecil nya.


"Aku tidak percaya, bocah itu menjadi pacar ku,"gumam Samuel tersenyum miring.


Dia melihat Lenka bontot sewaktu kecil, dan sekarang Dia juga yang memacari nya ini sungguh seperti dunia pedofil bagi nya. Mobil Samuel sampai di apartemen Lenka, pria itu dengan perhatian nya mengendong Lenka ala bridle style.


"Ssst kepala ku,"gumam Lenka memegang kepala nya yang terasa sakit.


"Kau sudah bangun?"tanya Samuel menurunkan tubuh sang kekasih dengan pelan ke atas sofa.


Lenka mengerjapkan mata nya, lalu melihat ruangan yang Dia kenal yaitu apartemen nya, gadis itu menghela nafas nya pelan ternyata Dia seperti nya sudah mabuk.


Brak..


Gadis itu mengebrak meja nya, lalu melihat sekeliling apartemen nya, sedangkan Samuel yang membawa kan air seketika mengerutkan kening nya.


"Ada apa?"tanya Samuel dengan heran memberikan gelas itu.


"Sam, kenapa kau meninggalkan Gisel, Dia itu tidak kuat minum, bagaimana jika Dia kecelakaan saat memakai mobil nya, harus nya kau mengajak nya kesini saja,"ucap Lenka panik berjalan mondar mandir khawatir dengan sahabat nya itu.


Pria itu mendengus kesal lalu menarik tangan kekasih nya pelan untuk duduk di dekat diri nya, Samuel menyelipkan helain rambut Lenka yang berantakan.


"Kau tenang, Aku sudah menyuruh bawahan ku untuk mengantar nya,"ujar Samuel kembali menyodorkan gelas.


"Kau gil*? Bawahan mu semua nya kan laki-laki, bagaimana jika Dia membawa Gisel ke hotel, siapa Dia? Kau ini Sam!"teriak Lenka kembali panik kepada Gisel.


Bruk..


Samuel menarik kuat kembali tangan Lenka yang berdiri, gadis itu seketika terjatuh di atas sofa dan tubuh mungil nya di himpit oleh Samuel, pria itu menatap datar wajah cantik Lenka.


Deg.. deg..


Raut wajah merona dari pipi Lenka tidak dapat di hindarkan, hati nya yang juga berdiskotik ria karena tatapan datar Samuel membuat nya kalang kabut, tangan pria itu mengusap leher putih Lenka.


"Sebaiknya khawatirkan dirimu sayang, karena Aku juga seorang pria,"gumam Samuel menyeringai kecil.


"Mau apa kau, jangan macam-macam, kita belum sah,"ujar Lenka tajam.


Padahal sih sebenarnya hati Lenka juga tidak karuan takut karena ulah sang pacar, Samuel menghiraukan perkataan Lenka tangan nya masuk ke dalam baju kemeja Lenka yang tampak di kancing itu.


"Kulit mu sangat mulus,"guman Samuel melihat bibir nya penuh seringai.


"Jangan takut, Aku tidak akan melakukan apa pun sebelum kita menikah sayang,"ujar Samuel menyakinkan Lenka.


Plak..


Lenka menarik tangan Samuel yang hampir naik ke atas dada nya, gadis itu menampar tangan Samuel lalu memasang wajah kesal layak nya anak kecil yang tidak di kasih permen.


"Halah bilang nya ga bakal, ga bakal, ujung-ujung nya di pegang,"ketus Lenka megatakan itu dengan nada pelan nya.


"Siapa suruh kau sangat cantik, apa besok kita menikah saja? Bagaimana,"tanya Samuel yang tampak berpikir itu.


"Jangan memikirkan pernikahan sesederhana itu Tuan Morgan,"ucap Lenka masuk ke dalam kamar nya dan ingin menutup pintu.


Pria itu menahan handle pintu, dan sedikit menunduk menyamakan tinggi badan nya dengan Lenka yang lebih pendek dari pada diri nya itu.


"Ciuman selamat tidur,"ucap Samuel memayunkan bibir nya.


Huft..


Cup..


"Selamat malam,"gumam Lenka mengecup bibir pria itu pelan.


"Eits kok cuman sebentar,"ucap Samuel menahan tangan Lenka.


Pria itu menarik pinggang ramping Lenka, sehingga tubuh mereka saling berhimpitan, Samuel dapat merasakan dada k*nyal Lenka yang menempel di dada bidang nya.


Bibir Samuel mencium bibir Lenka agresif, membuat gadis itu berusaha menyeimbangi ciuman tergesa-gesa itu.


"Selamat malam, mimpi indah queen,"gumam Samuel mengecup kening Lenka sebagai penutupan dan keluar dari apartemen Lenka.


Sedangkan gadis itu mematung, dan menghentakan kaki nya kesal.


"Dia selalu saja membuat ku terpesona,"gumam Lenka malu dan langsung berbaring.


Brum... brum..


Di sisi lain mobil Sadam melaju dengan kecepatan tinggi, b*doh nya saat Dia terus melajukan mobil itu, tapi Dia tidak tahu di mana gadis yang Dia bawa tinggal, dengan terpaksa Sadam harus membawa nya pulang ke rumah keluarga nya.


Sadam yang bekerja sebagai Anggota Aeros bergabung dengan Samuel memang awal nya dari cabang Indonesia, tetapi karena kehebatan pria itu, Dia menjadi bawahan yang dekat dan harus ada di mana pun Samuel berada, dan contoh nya seperti saat diri nya di suruh ke Italia menemui Big bos, untuk pertama kali nya Sadam bertemu dengan Big bos nya di Italia, yang umur nya hanya lebih tua 2 tahun dari pada diri nya, tapi pria itu memiliki otak sangat encer.


"Setidaknya kau harus membawa kartu tanda pengenal mu, agar Aku bisa mengantar mu pulang, atau Aku buang saja Dia di tepi jalan, besok pagi pulang sendiri bukan?"


Gumam Sadam yang berpikir keras mencari cara agar Dia bisa segera pulang dan tidur nya.


"Tidak tidak, bisa habis Aku oleh Big bos,"ucap Sadam mengeleng kuat merasa takut amukan Bos nya itu.


Kalau Lenka marah, tentu Samuel ikut marah karena sahabat Nona nya itu di telantarkan.


"Setidaknya kau bangun dan berbicara culun,"kesal Sadam melihat sekilas Gisel yang duduk di samping kursi pengemudi dengan selt belt terpasang rapi.


Mobil Sadam berhenti tepat di perumahan mewah, saat pria itu ingin memapah Gisel, tiba-tiba gadis itu berguman dan pas membuka pintu.


Ohek.. ohek..


"****, jangan muntah sembarangan Nona!"teriak Sadam yang melihat baju nya yang sudah terkena muntahan gadis itu.


Dia memilih masuk dan membersihkan baju nya ke dalam, pria itu melirik Gisel yang kembali tertidur, ingin sekali pria itu membuang nya ke laut jika bukan Dia seorang yang penting bagi Lenka.


"Sadam, siapa gadis itu, apa kau mencekoki gadis p*rawan!"teriak Mama Sadam yang turun dari lantai atas.


"Ck Ma, ayolah Aku pria baik-baik!"


"Dia teman nya pacar Tuan Samuel Ma, bantu Aku membersihkan baju nya, Aku ingin tidur,"ucap Sadam berlalu pergi setelah meninggalkan Gisel yang terbaring di kamar sang adik.


"Sadam, dasar anak ini,"gumam Mama Sadam mengeleng tidak percaya.


Dia melirik gadis yang cantik itu, lalu membantu nya menganti baju dan mengelap tubuh, Rara adik Sadam yang sedang bermain ponsel itu hanya diam memperhatikan.


"Dimana kakak memungut gadis ini?"tanya gadis itu.


"Jaga mulut mu Rara, tidak sopan,"ketus Mama Sadam.


'Gadis cantik,'