SAMUEL

SAMUEL
BAB 52



Beberapa hari berlalu semenjak kejadian di apartemen Lenka dan Samuel kian hari di sibuk kan dengan pekerjaan mereka masing-masing, Samuel masih melarang keras sang kekasih untuk tinggal di apartemen, sedangkan Samuel memilih tinggal di markas aeros.


Markas aeros di bagian ruang tertentu memang di desain layak nya rumah sendiri, tapi jika melawati ruangan itu kadang memang ada beberapa ruangan yang sebaik nya tidak harus kau kunjungi.


"Kangen ayang,"gumam Lenka yang sedang menopang dagu di ruangan nya itu.


Tok.. tok..


"Dokter Lenka, apa anda ada di dalam?"tanya seorang perawat dari luar ruangan itu.


Gadis itu yang sedang melamun seketika kaget dan melirik pintu lalu menyuruh perawat itu untuk masuk.


"Silahkan masuk,"balas Lenka kepada sang perawat.


Cklek..


Pintu ruangan Lenka itu terbuka menampilkan sosok perawat wanita yang seperti nya membawa beberapa dokumen di tangan nya, perawat itu mulai memberikan dokumen itu satu persatu dengan menjelaskan nya.


"Dok, ini diagnosa penyakit dari pasien anda yang kemarin dan keterang lain nya, dan ini ada beberapa kartu ucapan dari anak-anak yang berkonsultasi kepada anda,"


"Dan ini undangan ke acara penghargaan dokter internasional di hotel william, seperti nya anda harus datang, karena anda yang akan menerima penghargaan ini dok,"jelas perawat itu memberikan yang terakhir.


"Baiklah, akan aku pikirkan,"senyum Lenka ramah mengangguk dan membiarkan perawat itu pergi.


Sedangkan gadis itu melihat nama nya yang tertera di surat undangan, cita-cita yang dari kecil yang dia idam-idamkan akhirnya tercapai, dia bisa menjadi dokter terkenal tanpa memakai nama william sebagai bantu loncatan, semua impian nya memang sudah terpenuhi, dia bahagia, tapi apa yang harus dia lakukan sekarang?


"Apa aku harus mencari impian ku yang lain?"gumam Lenka mengusap undangan mewah itu dengan wajah datar nya.


Drt.. drt..


Saat Lenka sedang melamun ponsel gadis itu berdering keras menampilkan nama Samuel, wajah nya yang datar segera berubah menjadi secerah matahari di siang hari ini.


"Halo, nona william?"gumam pria itu dengan suara bariton nya.


"Jangan mengodaku, kemana saja kau, apa kau baru ingat memiliki seorang pacar?"ketus Lenka dengan wajah cemberut nya.


Padahal Lenka ingin sekali mengatakan kepada pria itu betapa rindu nya diri nya saking sibuk nya Samuel dan juga Lenka yang seorang dokter memang bekerja tidak henti.


"Maka dari itu aku akan mengajak mu makan siang bersama, bagaimana di markas saja, maaf sayang, aku sangat merindukan mu tapi aku tidak bisa terlalu lama di luar karena urusan ku banyak,"ucap pria itu sendu dari suara nya merasa bersalah.


Sebenarnya dengan Samuel sekedar mengajak ny saja walaupun makan di kolong jembatan pun Lenka pasti yes yes saja asalkan bersama sang kekasih.


"Ekhem baiklah, sebagai ganti nya berjanjilah pergi bersama ku di acara penghargaan ku, kau tahu aku mendapatkan penghargaan sebagai dokter terbaik,"ujar Lenka menceritakan itu dengan antusias.


Samuel yang mendengar itu juga bahagia, menjadi seorang dokter adalah impian Lenka jadi Samuel tidak mempermasalahkan kesibukan Lenka selagi membuat gadis nya bahagia.


"Apa kau mau menceritakan saat kau sudah sampai di sini saja, karena seperti nya pekerjaan ku sudah memanggil, maaf sekali lagi, Kevin akan datang menjemput mu sayang,"balas pria itu mengatakan nya kepada sang kekasih.


"Baiklah jika kau memaksa ingin mendengar cerita ku, bye bye Sam,"ucap Lenka mematikan ponsel itu dan langsung mengambil tas nya.


Jika Lenka bertanya Sam pasti menjawab, "Aku memiliki banyak bakat, tidak ada yang tidak bisa aku lakukan, kecuali tidak memiliki mu, adalah hal yang sangat tidak bisa aku terima,"Lenka yang mengingat kata-kata itu seketika ingin muntah, merasa kalau pacar nya itu sangat alay dan bucin


Drap.. drap..


"Kevin, ayo,"ucap Lenka yang sudah berjalan menuju ruang tamu tempat Kevin yang sedang duduk menunggu sang nona muda itu.


"Baik nona, silahkan,"ujar Kevin membukan pintu mobil itu kepada Lenka.


Sepanjang perjalanan gadis itu terus tersenyum merasa bahagia diri nya akan segera bertemu Samuel, mereka sering telponan walaupun hanya beberapa jam tapi itu sudah membuat Lenka melepas rindu nya sedikit.


Lama perjalanan tidak terasa karena Lenka terus bersenandung merasa bahagia, Kevin membuka pintu untuk Lenka, lalu mempersilah kan gadis itu berjalan terlebih dahulu.


"Selamat siang nona muda,"sapa mereka semua serempak yang sedang berjaga atau pun yang Lenka lewati, di beberapa ruangan tampak semua orang sedang melakukan aktivitas nya masing-masing.


Kevin mengarahkan kaki Lenka berjalan ke arah ruang makan dengan senyum manis di wajah nya gadis itu berjalan mengikuti Kevin.


"Sayang,"sapa Samuel yang melihat sang kekasih datang bersama Kevin.


Namun senyum itu seketika hilang saat melihat ada Agalista yang juga ada di ruang makan itu bersama dengan pelayan lain. Lenka mengeleng kepala nya membatin.


'Ayolah Lenka itu Agalista, dia tidak mungkin kesini menemui Samuel, pasti dia menemani Kevin bekerja,' batin Lenka mempertahan kan insting nya.


Samuel menatap raut wajah pacar nya yang mengeleng itu, alis pria itu seketika terangkat.


"Aga kau juga di sini?"tanya Lenka menyapa tunangan Kevin itu yang seperti nya yang sudah duduk di meja makan.


"Iya Lenka, aku menemani Kevin,"balas Agalista tersenyum sumringah sambil melepaskan pandangan nya dari ponsel nya itu.


"Kau bukan menemani tapi lebih menganggu,"jelas Kevin yang berjalan mendekat ke meja makan itu.


Lenka tersenyum lebar menatap kedua orang itu yang selalu seperti tom dan jerry saja, berbeda dengan Agalista yang mengerucutkan bibirnya. Agalista kemudian memiliki ide untuk membuat Kevin kesal.


"Kau tahu? Kemarin aku menemui seseorang yang sering mengeluh seperti mu, besok nya dia mati," ujar Agalista dengan nada enteng nya.


"Kau menyumpahi ku hah?!"jawab Kevin yang mulai memperlihatkan kekesalan nya.


"Ihh bukan tahu, aku akan mengatakan orang yang menemui ku kemarin, aneh banget sih marah-marah mulu, keriput mu nanti nambah," ujar Agalista mengerucutkan bibirnya.


Lagi dan lagi pasangan Kevin dan Agalista seperti nya memang sangat suka membuat kehebohan di suasana yang harus nya tentram itu.


"Dasar mulut bebek,"ujar Kevin duduk di samping Agalista.


"Pfftt..." Lenka berusaha menahan tawanya yang hampir pecah.


'Tertawalah selagi kau bisa,'