
Lenka yang berusaha meredamkan tangisan nya dengan cara memejamkan mata nya seketika terdiam, mata nya yang berusaha terpejam sekarang terbuka lebar.
Bruk...
Saking kaget nya dia langsung terduduk di atas kasur itu, lengan besar yang mengusap pipi nya pelan tampak bergerak. Pria itu seperti biasa memasang wajah datar nya tapi tetap memberi tatapan cinta kepada sang gadis.
"SAMUEL!!"teriak Lenka histeris.
Gadis itu tanpa peduli memeluk kekasih nya dengan kuat membiarkan pria itu meringis karena ulah nya, tangisan gadis itu tampak terlihat bahagia.
"Sayang kau berat, jangan menghimpit ku,"gumam Samuel mengusap surai hitam Lenka yang terus menangis di atas dada bidang nya tanpa henti.
Bugh...
"Bod0h kau terlalu lama tidur, aku lelah menunggu mu, aku lelah. Saking lelah nya aku ingin menyusul mu,"gumam gadis itu di sebalik isakan nya sambil memukul pelan dada Samuel.
"Maafkan aku, apa selama itu?"tanya Samuel mengecup kening Lenka.
Gadis itu mendudukan diri nya dia mengangguk dengan lucu nya membuat Samuel gemas sendiri oleh tingkah sang kekasih, pria itu berusaha mengangkat tangkat nya yang terasa kaku untuk mengusap air mata Lenka.
"Jangan menangis, aku tidak rela juga meninggalkan satu-satu nya orang yang aku cintai ini,"gumam Samuel tersenyum.
Lenka tersenyum bahagia, dia kembali memeluk Samuel dengan erat entah kenapa dia tidak rela melepaskan pelukan itu karena merasa akan di tinggalkan pria itu kembali.
"Sayang apa kau segitu bahagia nya, sampai terus membiarkan aku di peluk seperti ini,"tanya Samuel merasa tengorokan nya tercekat akibat rangkulan lengan Lenka yang terlalu kuat.
"Iya aku sangat merindukan mu, aku hampir gil@ karena tidak mendengar suara mu kau tahu,"ucap gadis itu dengan nada lemah nya.
Samuel tersenyum kecil, dia mengecup pipi Lenka yang terbaring di samping nya. Seperti nya terakhir kali sebelum dia di tembak dia sangat ceroboh dan sombong atas Javier, balas dendam ternyata bukan solusi yang bagus, tapi Sam tidak dapat menyangkal itu semua dia juga harus bertekat untuk menjadi lebih baik.
"Sam berjanjilah,"ucap Lenka.
"Apa?"tanya pria itu dengan lemah.
"Berjanjilah untuk tidak sakit lagi seperti ini, atau jika kau seperti ini aku akan melakukan hal yang sama pada diri ku sendiri,"ujar Lenka dengan lantang.
"Hei jangan mengatakan hal b0doh, cinta tidak serendah itu sayang. Kau hanya perlu menjaga ku, jika kita sama-sama sakit, semua nya akan berakhir buruk bukan, berpikirlah logis Nona,"ucap pria itu mengoda sang kekasih.
Gadis itu hanya memasang wajah nya yang cemberut karena malu atas perkataan nya sendiri, Lenka yang saking senang nya atas kondisi Samuel lupa mengecek keadaan pria itu.
"Aku akan memanggil dokter pribadi mu, aku harus memeriksa mu di dampingi uncle Michele,"ucap Lenka turun dari ranjang dan memencet tombol yang ada di sisi ranjang itu.
Hampir setengah jam berlalu Michele masuk dengan di dampingi keluarga Alferoz lain nya, kabar itu di dapat oleh Lenka yang mengabarkan Lenka. Pria itu seolah tuli dengan suara pintu di buka dia hanya terus berbaring dengan mengengam tangan Lenka yang duduk di kursi samping ranjang.
"Uncle, aunty,"ucap Lenka dengan senyum bahagia nya.
Michele tampak mengangguk kala Lenka berdiri menyapa mereka, sedangkan Samuel hanya terus fokus kepada gadis nya yang berdiri menyapa orang, tanpa mau melepaskan nya.
"Bocah si@lan kau membuat kami semua khawatir, kenapa tidak mati sekalian,"ketus Alice yang baru datang bersama Michele menepuk bahu pria.
Akhh..
"Al kau menyakiti ku,"ketus Samuel memasang wajah tidak terima.
"Sayang,"ucap Samuel mengadu dengan wajah memelas nya menatap Lenka.
Semua orang seketika memutar bola mata mereka malas, lihat lah interaksi kedua orang itu sungguh dunia terasa milik mereka berdua saja. Padahal dulu saat Lenka masih kecil dan sering meminta Samuel menjadi suami nya pria itu malah mengejek habis-habisan bocah itu.
"Sayang-sayang, giliran sama pawang langsung nurut,"ketus Alice menghela nafas nya.
Lenka hanya tertawa kecil tidak bisa menjawab apa pun di sana, dia masih malu-malu soal hubungan nya dengan Samuel, apalagi kepada keluarga Alferoz, alasan nya karena Lenka jadian saat mereka masih di indonesia jadi tidak terlalu biasa.
"Sam lepaskan tangan mu, bagaimana aku memeriksa mu dengan benar,"ucap Michele kepada sepupu Reno itu.
"Itu urusan mu bukan urusan ku, bekerja yang benar."ketus Samuel kepada Michele.
Lenka yang mendengar itu melepaskan tangan nya paksa kepada Samuel, gadis itu meletakan kedua tangan nya ke pinggang seolah menasehati pria itu.
"Sam jaga sopan santun mu, uncle Michele itu kakak ipar mu juga dan terlebih dia guru ku kau tahu,"ucap Lenka memperingati kekasih nya.
"Ck, maaf,"ketus Samuel kepada Michele dengan tidak ikhlas nya.
Setelah pemeriksaan sederhana mereka tampak mengobrol layak nya keluarga biasa, begitu pun dengan Reno yang menanyakan keadaan sang sepupu.
"Lain kali jangan buat masalah lagi, kurangi kegilam@an mu itu,"jelas Reno duduk di sofa samping istri nya.
"Aku masih gil@,"ucap Samuel.
"Gila?"tanya semua oranf dengan kaget.
"Gil@ karena kekasih tambah cantik saat aku tidak ada, sayang apa kau perawatan. Kau mengoda pri lain?"tanya Samuel memasang wajah kesal.
Doeng...
Seolah zonk semua orang tampak memberikan cibiran, sungguh pria tua yang sangat bucin.
"Haha Sam, kau sama seperti Reno ketika saat dia cemburu, lucu sekali benar kan Lenka,"tanya Anggun kepada Lenka yang tampak malu-malu karena perkataan Samuel.
"Ah iyah aunty,"jawab Lenka seadanya.
Hari semakin larut, karena Samuel memang harus menjaga kesehatan semua orang memutuskan pulang dan membiarkan waktu luang Samuel untuk beristirahat.
"Kami pamit dulu, Sam jangan memakan putri william itu, atau kau akan di habisi tuan mu,"ucap Reno memperingati.
"Kalian jangan berpikiran aneh, bergerak saja badan ku kaku,"kesal Samuel tidak terima.
Setelah kembali dari keadaan koma seperti nya Samuel kembali kepribadian nya yang ketus, sombong dan tidak suka di nasehati itu kecuali oleh Lenka yah.
"Itu karena kau koma dalam waktu yang lama, mulai besok kau akan melakukan terapi di damping dokter Lenka. Mohon kerjasama nya dok,"ucap Michele tersenyum.
"Baik dokter Michele serahkan kepada saya,"senyum Lenka menunduk.
Semua orang akhirnya pamit pergi, Lenka tengah duduk di samping Samuel meminta pria itu tidur terlebih dahulu karena dia sangat susah tidur.
"Sayang jangan menatap ku terus, aku tidak bisa tidur, wajah mu terlalu mengemaskan,"