
"Apa kau masih marah, maafkan aku Aga,"ujar Kevin kembali mengatakan itu.
"Apa peduli mu, biasanya kau tidak tertarik dengan hal yang menyangkut ku,"ketus Agalista melangkahkan kaki nya menjauh dari sana.
Wanita itu menghentakan kaki nya layak nya anak kecil yang sedang ngambek, sedangkan Kevin terus mengikuti nya dengan mobil pria itu, Kevin tersenyum melihat Agalista yang berbalik dan menatap ke arah mobil nya pelan.
Lagi-lagi dia itu menatap tidak suka ke arah mobil Kevin yang terus membuntuti kemana pun dia pergi, hingga akhirnga Agalista yang tidak tahan dan berteriak lalu memberikan jari tengah nya.
"Fu©k it! Get out of here d@mn it, (Pe®set@nan! Pergi dari sini si@lan)" umpat Agalista.
Setelah mengatakan itu Agalista kembali menyusuri trotoar yang masih ramai di malam hari itu, bukan nya kesal. Kevin malah tersenyum kecil melihat tunangan nya itu marah-marah, padahal biasanya diri nya lah yang sering marah-marah karena perbuatan Agalista.
"Kenapa dia terus mengikuti ku, apa dia tidak marah, biasanya juga emosian,"gumam Agalista melirik sedikit dengan ekor mata nya melihat mobil Kevin yang masih mengikuti nya pelan.
Kevin yang sudah tidak tahan dan tidak sabaran karena dia juga ada urusan memilih turun dari mobil dan menahan Agalista, memaksa gadis itu naik ke atas mobil dengan cara mengendong nya.
Bruk..
"Hei Kev, kyaa Aku tidak mau!"teriak Agalista memberontak di gendongan pria itu, yang mengendong nya dalam posisi karung beras, semua orang di trotoar dan jalanan sontak merasa heran.
Mereka mulai beramsumsi jika itu adalah penculikan karena di lihat juga dari raut wajah Kevin seperti seorang pria seram dan datar, lalu ada satu bapak-bapak menyuruh berhenti.
"Anak muda! Apa yang kau lakukan, apa kau menculik gadis ini,"bela bapak-bapak itu.
Sontak semua orang berdatangan dan ikut membela mengatakan iya, mereka menyuruh Kevin untuk menurunkan gadis berambut merah itu yang ada di dalam pangkuan nya.
"Benar Pak, dia penculik tolong saya,"ucap Agalista seolah memohon.
Haduh sepertinya Agalista memang benar suka mencari masalah, Kevin dengan santai mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.
Drt.. drt...
"Kevin nak, apa itu kau? Apa Aga sudah sampai di tempat mu, dia ada pemotretan di sana,"ujar pria baya yang tersenyum kepada Kevin.
"Iyah Dad dan ini putri mu, aku mengajak nya pulang karena dia sedang ngambek kepada ku, dan dia mengatakan kepada orang-orang aku ini penculik,"ucap Kevin dengan memelas di dalam vidio call itu.
Duar...
Bagaikan suara gemuruh di otak Agalista gadis itu langsung menatap tidak percaya kepada Kevin, bisa-bisa nya dia memasang tampang seperti itu agar mendapat perhatian sang daddy.
"Aga jangan seperti itu, jangan menyusahkan Kevin,"ucap pria paruh baya itu menatap anak nya yang sudah berdiri normal itu.
"Ma ma maaf Dad,"gumam Agalista.
Seketika semua orang bersorak menjauh, untuk apa membuat keributan dan menyusahkan umum kalau itu bukan tindakan kriminal sebaiknya selesaikan di rumah saja karena, bagi warga sini simpati satu sama lain sangat lah tinggi.
"Yaelah pacar nya toh,"
"Haduh neng lain kali berantem jangan di jalan yah,"
"Udah bubar,"
Satu persatu orang pun bubar, begitu pun Agalista yang sudah menyelasaikan panggilan nya tanpa melawan wanita itu masuk ke dalam mobil Kevin memasang raut wajah cemberut.
Mobil milik Kevin membelah jalanan ibu kota di malam hari itu, tanpa di sadari Agalista bukan nya mengantar wanita itu ke hotel william tapi malah membawa nya ke apartemen.
"Tidak, tinggal di sini itu perintah tidak ada penolakan, jika kau menolak aku akan memberitahu daddy mu selama ini jika kau memanfaatkan ku,"ancam Kevin dengan santai melangkah kan kaki nya.
Agalista berdiri tidak percaya, seperti nya Kevin hari ini sangat salah meminum obat lihat lah pria itu sedikit aneh bukan hari ini, dia dulu sering mengatakan Agalista menyusah kan saat tinggal di apartemen, tapi apa sekarang dia malah mengancam nya agar tinggal satu rumah.
Drap.. drap..
Aga berlari memasuki apartemen milik Kevin, sebenarnya dia juga rindu dengan suasana apartemen itu, Kevin tampak duduk di sofa meneguk minuman nya pelan, terdapat banyak botol alkohol yang berantakan.
'Ternyata yang di katakan Sam benar, kenapa dia? Apa sedang putus cinta, dengan siapa, jangan bilang dia memiliki kekasih, wah wah parah,' batin Agalista yang kaget melihat ruangan apartemen itu yang berantakan.
Wanita itu melepas high heals nya dan menganti nya dengan sandal bulu-bulu milik nya yang memang masih ada di apartemen Kevin, wanita itu duduk di samping Kevin yang terdiam menatap datar jendela.
"Bagaimana kita batalkan pertunangan ini?"tanya Aga.
Krik.. krik..
Tidak ada jawaban sama sekali dari Kevin, Agalista hanya diam menduduk, wanita itu kembali membuka suara.
"Kau tahu kan Kev, aku dulu sepakat bertunangan dengan mu karena aku mencintai Sam,"
"Tapi sekarang seperti nya aku tidak bisa mengambil Sam dari Lenka, mereka saling mencintai,"
"Jadi lebih baik kita akhiri saja semua ini, jika kau mau aku akan berusaha membujuk daddy ku,"
"Jika kita terus terikat janji seperti ini, kau akan susah menemukan cinta mu sendiri,"
Kata demi kata lolos dari bibir merah milik Aga yang di poles lipstick itu, wanita itu yang sudah menyelesaikan ucapan nya kembali tidak mendapat jawaban dan hanya suara diam yang sunyi.
"Kev?"panggil Aga.
"Bagaimana jika aku sudah menemukan cinta ku, jadi kau memilih pergi,"gumam Kevin dengan raut wajah datar nya.
"Maksudmu?"tanya Agalista yang tidak mengerti dengan ucapan Kevin.
Pria itu berdiri dari sofa dan menyelipkan anak rambut bewarna merah milik Agalista lalu berbisik dengan senyum kecil nya.
"Benar-benar gadis b0doh,"bisik Kevin dengan suara bariton nya.
Pria itu melangkahkan kaki nya pergi masuk ke pintu kamar nya, tapi sebelum menutup pintu itu, Kevin kembali mengatakan sesuatu kepada Agalista.
"Jangan harap kau bisa melepaskan ikatan ini semudah yang kau pikirkan, karena aku akan menjebak mu bersama ku, seumur hidup ku,"datar Kevin dan menutup pintu itu.
Brak..
Kevin menutup pintu kamar nya pelan, pria itu bersendar di pintu mengusap wajah nya, apakah dia sedih? Bukan tapi wajah pria itu saat ini sedang memerah karena malu.
"Si@l apa yang aku katakan, untung dia b0doh,"gumam Kevin yang malu sendiri atas perkataan yang membuat hati nya dag dig dug itu, belum pernah sama sekali Kevin merasakan itu.
Sedangkan Agalista yang tidak mengerti mengaruk pipi nya, seketika entah dia paham atau tidak dia menyimpulkan sendiri.
"Oh aku tau kau mau balas dendam kan menjadikan ku istri mu dan mempermainkan ku, hei jangan harap!"