SAMUEL

SAMUEL
BAB 105



"Apa saja,"jelas Sadam berjalan ke kamar mandi dan menyimpan ponsel sang istri.


Gadis itu mendengus kesal menatap Sadam yang memperlakukan nya seperti itu, Gisel yang memang juga sudah lelah memilih langsung menganti baju tanpa mau membersihkan diri nya sama sekali. Gadis itu melihat ke arah kamar mandi yang seperti nya Sadam memang sedang mandi.


Langkah kecil nya melihat beberapa pakaian baru yang di beli Sadam untuk nya, Gisel menatap baju itu. Bisa-bisa nya pria itu penuh mengisi lemari baju baru untuk nya, dan ukuran itu sangat pas.


"Astaga baju ini kan mahal,"gumam Gisel melihat baju yang pernah dia rasa Lenka memiliki nya.


Tanpa pikir panjang gadis itu mengambil baju piyama yang paling nyaman untuk tidur, dia mengambil bantalan kepala dan berjalan menuju sofa di ruangan itu dan memilih memejamkan mata nya.


Beberapa puluh menit berlalu Sadam keluar kamar mandi menyeka rambut nya yang basah, pandangan nya jatuh kepada Gisel yang tetidur lelap di atas sofa. Perlahan pria itu berjalan dan menjongkok kan tubuh nya menatap Gisel yang tertidur pulas, Sadam menatap lentik mata Gadis itu.


"Jadi kalau tidur rambut nya tidak di kepang,"gumam Sadam mengusap helain rambut gadis itu.


Gisel yang merasakan itu seketika membuka mata nya, Sadam menaikan satu alis nya. Kenapa gadis itu gampang terbangun, biasanya Gisel sangat susah terbangun bukan, apakah tempat tidur nya kurang nyaman?


Mata kecil gadis itu berkedip-kedip terbuka perlahan, membuat Sadam hampir memperlihatkan senyum nya kepada gadis itu, seperti bocah yang baru bangun Gisel mengusap mata nya dan membenarkan penglihatan siapa di depan mata nya.


"Suami?"gumam Gisel mendorong wajah Sadam dan memutar badan nya menghadap sofa dan kembali tertidur.


Deg..


Panggilan itu seketika membuat Sadam terdiam, entah kenapa pria itu suka dengan panggilan Gisel. Tapi apakah pendengaran nya salah? Sadam yang bingung memaksa tubuh Gisel berbalik lagi ke arah nya.


"Kau memanggil ku apa?"tanya Sadam dengan suara pelan nya agar tidak menganggu tidur Gisel.


"Suami, tadi kata nya aku tidak boleh memanggil kak?"tanya Gisel mendengus kesal membuang tangan Sadam yang membalikan posisi tidur nya.


Pria itu menunduk entah apa ekspresi yang dia keluarkan, Sadam berbisik pelan di telinga Gisel.


"Pindah ke kasur atau aku gendong?"tanya Sadam memberi pilihan.


"Tidak mau, nanti suami mengigit ku seperti malam itu lagi,"ketus Gisel merasa takut dan memilih tidur di sofa.


"Kau mengingat nya?"tanya Sadam kepada Gisel dengan heran.


"Iya,"jawab gadis itu polos.


Ayolah seperti nya Sadam malu akan hal yang juga dia ingat malam itu walaupun hanya setengah yang dapat dia mengingat, jika di katakan dia memang sedikit terburu-buru kepada gadis itu.


"Terserah, aku tidak melakukan nya, pindah atau aku akan melepaskan baju mu dan melakukan nya di sini,"ujar Sadam tajam.


Mata gadis itu yang mengantuk seketika terbelalak, dia langsung duduk dan mendengus kesal dan berjalan sambil menghentakan kaki nya menuju kasur Sadam yang sekarang sudah menjadi milik nya.


"Selalu memaksa,"ketus Gisel mengambil guling dan membatasi tempat tidur.


Pria itu hanya mengeleng melihat tingkah Gisel dan memilih memakai pakaian nya, dia melirik jam yang masih sore. Entah kenapa Sadam saat ini juga ingin berbaring, pria itu melihat Gisel yang sudah tertidur.


Aroma gadis itu entah kenapa membuat nyaman, membuat Sadam sangat ingin memeluk Gisel dan tertidur nyenyak seperti kemarin. Gisel berusaha melepaskan pelukan Sadam yang memeluk pinggang nya.


"Lepaskan aku suami,"kesal Gisel mencubit tangan Sadam.


Tidak ada jawaban Sadam, membiarkan gadis itu sibuk melepaskan diri dan tidak mempedulikan kesenangan nya, Sadam malah menambah erat pelukan itu saat Gisel malah meronta untuk di lepaskan, tapi Gisel yang menyerah akhirnya ikut tertidur nyenyak.


Di sisi lain kedua pasangan suami istri yang masih baru juga saat ini tengah menuju rumah sakit, karena tiba-tiba Lenka di minta tolong mengurusi satu pasien anak kecil yang memang hanya ingin bertemu Lenka.


"Sayang harusnya kita pulang, kan ini masih hari libur,"rengek Samuel kepada sang istri yang sibuk membalas chat dokter yang menghubungi nya.


"Ini hanya konseling sayang, jangan merengek seperti itu, aku hanya butuh waktu sedikit. Dan kau bisa pulang terlebih dahulu,"jawab Lenka yang melihat mobil suami nya sudah berhenti di depan RS.


Pria itu yang melihat Lenka turun memasang wajah memelas nya, membuat Lenka menghembuskan nafas nya. Lenka melangkah kan kaki nya tapi Sam terlebih dahulu memanggil sang istri.


"Cium dulu,"teriak Sam tanpa malu walaupun sang istri sudah turun dari mobil beberapa langkah.


Gadis itu menepuk jidat nya yang lupa kebiasaan Sam, Lenka berjalan dan mendekat mencium pipi sang suami begitu pun Sam yang mencium kening Lenka. Ciuman terakhir mendarat di bibir sang istri.


Yang hanya di katakan sebuah kecupan berubah jadi lum@tan karena pria itu malah menahan pinggang sang istri dan menahan dagu nya, seseorang yang berlalu lalang dan pintu mobil itu terbuka.


"Dokter Lenka panas banget yah yang baru nikah,"teriak seorang pria.


Gadis itu kaget dan mendorong langsung tubuh suami nya menjauh, bisa-bisa nya dia juga malah terhanyut dalam ciuman maut Samuel, Lenka menatap tajam Sam yang memperlihatkan jejeran gigi nya seperti anak kecil yang meminta maaf.


"Dasar,"kesal Lenka menepuk dada sang suami pelan.


Wanita itu mulai turun, dia berjalan beriringan dengan dokter pria junior yang sering dia ajak mengobrol itu, tanpa Lenka sadari sang suami tidak pulang dan hanya memarkirkan mobil nya lalu mengikuti langkah Lenka dari belakang seperti anak ayam.


"Kerja bawa suami boleh yah?"tanya seorang perawat yang juga baru menikah.


"Boleh kok asal kan tidak menganggu,"ucap Lenka menjawab perawat wanita itu.


Lenka tidak paham sama sekali perkataan perawat itu yang sebenarnya sedang menyindir diri nya, semua orang berbisik melihat Sam yang tidak melepas pandangan nya kepada Lenka, gadis itu yang mulai heran membalikan badan nya.


"Sayang kok ga pulang?"tanya Lenka.


"Jangan pedulikan aku,"


"Aku akan menunggu di sini yah? Bolehkan, aku tidak tahu di rumah harus melakukan apa pun,"ucap Samuel mengengam tangan Lenka.


Gadis itu yang tidak tahan melihat tingkah suami nya, ada perasaan kesal dan lucu. Lenka mengatup pipi Sam lalu mengecup bibir pria itu pelan.


"Tunggu di sini oke,"