SAMUEL

SAMUEL
BAB 115



"Aku punya dua tiket bagaimana?"tanya Lenka memegang sebuah tiket dengan tatapan tajam nya kepada Gisel.


Glek...


Gadis itu meneguk saliva nya dengan kasar, suasana tegang dan menakutkan itu membuat nya ragu-ragu mengambil tiket. Bagaimana tidak jika ada dua orang pria yang nenyeramkan duduk di samping mereka.


"By ayolah jangan memasang wajah seram Gisel jadi takut!"kesal Lenka kepada suami nya yang tengah duduk di samping nya itu.


"Aku biasa saja sayang, dia saja yang ketakutan,"jawab Samuel dengan datar.


"Big bos jangan seperti itu istriku jadi takut,"ujar Sadam merangkul Gisel yang duduk di samping nya.


"Hoh Sadam aku baru melihat mu merangkul seorang gadis, aku mengira kau selama ini gay dengan Arbian,"ucap Samuel menyeringai mengejek bawahan nya itu.


"Malah aku selama ini mengira anda gay bersama wakil,"balas Sadam.


"Apa kau berani? Mau aku congkel bola mata mu itu,"kesal Samuel.


Mereka saling adu pandang sedangkan kedua istri hanya bisa saling menghela nafas, mereka berempat saat ini sedang berada di sebuah kafe. Lenka hari ini yang libur ingin mengajak Gisel untuk pergi ke taman bermain, tapi apalah daya sebelum memberikan tiket suami mereka malah mengekor.


"Kenapa aku harus dapat suami yang menyebalkan,"gumam Lenka.


"Aku jg, kenapa mereka sangat aneh,"bisik Gisel kepada sahabat nya itu.


Kedua orang itu saling menatap satu sama lain, sedangkan pengunjung kafe lain sudah ketar ketir takut jika di sana akan ada perkelahian terlebih penampilan mereka yang seperti berandalan menambah orang yakin.


"Mari kita berangkat,"ucap Lenka menarik tangan Gisel.


"Ayo!"teriak Gisel dengan senang.


"Ikut!"teriak kedua pria itu serempak dan menatap istri mereka.


"Suami bukan kah kata nya hari ini kau ingin menemui Arbian karena ada urusan?"tanya Gisel lembut.


"Aku batalkan, otak ku ini pintar jadi aku bisa menghandle nya benar kan bos,"ucap Sadam menyengol lengan Samuel.


Pria itu memberi kode kepada Samuel agar Lenka juga bisa mengizinkan Samuel pergi, tapi Sam yang tidak mengerti malah mengerutu.


"Kau memerintah ku?"bisik Sam yang menerima senggolan lengan Sadam.


"Bos bekerja sama lah, istri kita jika tidak seperti ini, mereka tidak akan mengizinkan, apa bos mau nona Lenka di goda pria muda?"bisik Sadam.


Kedua orang itu saling berbisik satu sama lain membuat kedua gadis itu yang ingin berdiri seketika hanya memasang raut wajah bingung.


"Benar, kamu juga mengatakan akan mengurus suatu hal by!"ucap Lenka tajam.


"Tidak, Sadam benar kami bisa menghandle dengan otak pintar kami hehe,"senyum Sam merangkul bahu Sadam seolah sangat bersahabat.


Glek...


Sadam menelan saliva nya dengan kasar melihat Samuel yang tersenyum, kenapa tidak? Bos nya itu hanya tersenyum setelah membunub atau menyiksa orang, tapi semenjak dengan Lenka pria itu banyak tersenyum untuk istri nya.


'Apa nona Lenka tidak merasa seram dengan senyuman itu?' batin Sadam merinding.


"Benar kan Sadam, jadi kita ikut,"jawab Sam kembali.


"Eh eh iya benar,"gugup Sadam tersenyum kaku.


Kedua gadis itu saling menatap satu sama lain dan menghela nafas padahal mereka ingin quality time berdua saja tapi apalah daya jika sudah memiliki suami, pasti harus ada izin. Dari pada tidak di izinkan lebih baik pergi bersama.


"Yasudah ayo, jadi kita double date kan Gisel?"ucap Lenka senang.


"Suami apa itu date? Mati?"gumam Gisel bingung.


Sadam berjalan mendekati istri nya lalu, mengengam tangan gadis itu menjauh dari kedua orang itu, mereka memilih pergi dengan mobil masing-masing.


"Sadam jangan mengatai Gisel bod0h! Dia hanya tidak pintar berbahasa inggris benarkah by,"ujar Lenka meminta persetujuan sang suami.


"Hmm, dengarkan istri ku Sadam!"tegas Sam.


Gisel hanya memasang wajah cemberut akhirnya mereka memutuskan pergi ke taman bermain bersama, hanya butuh waktu setengah jam untuk pergi ke taman bermain terbesar di ibu kota itu.


"Wah keren!!!"teriak kedua gadis itu serentak.


Tapi seperti anak kecil mereka di gandeng oleh suami mereka masing-masing agar tidak lari kesana kesini takut nya ke sasar mungkin.


"Bukan kah saat pacaran kita juga kesini?"tanya Sam kepada sang istri.


"Tapi kita hanya makan bukah haha,"ingat Lenka waktu itu.


"Benar karena kamu hanya ingin makan,"gumam Sam mengingat itu.


Samuel melihat Lenka dan Gisel sedang mengobrol sambil menunjuk permainan apa yang akan mereka coba terlebih dahulu, pria itu meneguk saliva nya melihat Lenka ingin menaiki roaller coster itu.


Glek..


'Si@l itu tinggi sekali apa kita tidak akan mati jika menaiki itu, dan jatuh ke tanah menjadi sebuah sobekan kecil,' batin Samuel dengan wajah pucat nya.


Bruk...


Sadam merangkul bahu Samuel, pria itu menyeringai menatap Sam yang seperti nya ketar ketir, Samuel sama sekali tidak takut jika harus turun dari helikopter untuk menembak puluhan orang, tapi jika dia melakukan hal seperti ini entah kenapa dia agak takut.


"Bos kau tidak takut kan? Bukan kah dulu saat di Roma kita membasmi geng besar di eropa untuk membasmi wilayah mereka dan mengambil alih, waktu itu kau menembak dari heli dengan sempurna,"


"Itu lebih tingi loh dari pada seperti ini,"bisik Sadam mengoda sang bos mafia itu.


Brak..


Samuel mendorong tangan Sadam kasar dia memasang wajah tajam menatap bawahan nya yang menyeringai mengejek ke arah nya itu.


"Siapa bilang aku tidak berani hah!"kesal Sam dengan keras sehingga semua orang menatao ke arah mereka.


"Baiklah, saya hanya bertanya bos jangan tegang,"jawab Sadam.


"By jika kau tidak bisa katakan saja jangan malu ok,"ucap Lenka mengengam tangan suami.


"Aku bisa ayo!"kesal Sam menarik tangan istri nya.


Akhirnya mereka memilih nengantri untuk mencoba permainan pertama yaitu roaller coster yang sangat tinggi dan berlika liku seperti jalan menuju akhirat itu. Sam mendongkak kepala nya menatap orang yang di atas itu berteriak keras.


'Bisa bisa nya mereka menikmati permainan menuju alam baka itu,' batin Samuel.


Sampai akhirnya giliran dan urutan mereka, Samuel dan Lenka duduk di baris yang sama begitu pun pasangan Sadam dan Gisel yang duduk di belakang mereka dalam barisan yang sama.


Lenka dan Gisel terlihat antusias saat permainan itu mulai meluncur secepat kilat 1, 2, 3.


Syut...


Argh.....


Lenka, Gisel dan para pengunjung lain nya berteriak senang dan heboh, sedangkan Sam pria itu hanya diam dengan wajah pucat dan mata membelalak kaget, akhirnya mereka turun dengan di iringi tawa Sadam yang keras menatap Sam yang muntah muntah.


Hahaha


"Astaga apakah ini bos aeros, wah aku harus mengabadikan nya,"tawa Sadam kencang.


"Diam kau sebelum aku lempar ke segita bermuda!"