SAMUEL

SAMUEL
BAB 181



Tik.. tik…


Suara ketikan komputer di ruang kerja milik Samuel yang terdengar jelas saling bersahutan satu sama lain, tampak semua orang tengah fokus di sana mengerja kan apa yang seharus nya mereka kerja kan.


“Ayolah semu orang sangat sibuk dengan hal membosan kan seperti melihat komputer itu berjam jam lama nya aku butuh healing,”keluh Arbian dengan kesal.


“Kau butuh healing? Mau hah?”tanya sadam menawar kan hal itu kepada sahabat nya.


Arbian yang tengah mengacak rambut nya itu memutar wajah nya menatap sadam dengan wajah yang berseri tentu hal itu membuat nya senang. Terlebih saran sadam bisa saja membuat Samuel menyetujui nya.


“Coba kau tanya kan langsung kepada big bos.”ucap sadam mengatakan itu.


“Ck sial aku bisa di kulitin jika menganggu ketenangan singa itu,”jawab Arbian dengan ketus.


Derap…


Langkah kaki terdengar jelas di telinga Arbian seseorang seketika memegang bahu nya kala itu, arbian yang tengah kesal di tambah di buat kesal dengan seseorang yang baru datang itu.


Plak…


“Apaan sih jangan pegang tangan mu haram,”kesal arbian mengatakan itu dengan ketus tanpa mau melihat siapa yang memegang nya dari belakang tersebut.


Tampak sadam yang melihat itu seketika memukul jidat nya ayolah arbian selalu saja seperti ini selalu menerima masalah yang tidak masuk akal, sadam seolah mengkode dengan cara jempol nya menunjuk ke belakang.


“Apa sih kenapa kau seperti orang panik santai di tim pengejar aku lah bos nya,”ucap arbian berbangga diri menepuk dada nya dengan kuat.


“Kau bilang apa tadi? Tangan ku haram? Silahkan kau potong tangan ku ini agar tidak mengotori mu,”jawab suara bariton itu dengan lantang.


Glek…


Arbian yang mendengar itu seketika menelan saliva nya dengan kasar ayolah dia mengenal suara khas menyeramkan dan nada dingin serta ketus dan mencengkam itu siapa lagi kalau bukan big bos mereka Samuel Morgan.


Pria itu tampak memutar wajah nya dengan pelan sambil menahan siluet wajah Sam yang menyeramkan, arbian menatap wajah Sam yang menatap nya datar sedangkan arbian memberikan tatapan cengengesan kepada pria di depan nya itu.


“Big bos ku yang paling tampan ada apa?”tanya arbian dengan wajah panik.


“Wah kau masih bisa memanggil suami ku big bos setelah mengatakan tangan nya haram, benarkan sayang?”tanya Lenka kepada Samuel.


Ayolah di sini Lenka tampak sangat iseng sehingga memprovokasi Samuel. Ayolah nona Lenka ananda Morgan Samuel tentu sangat menurut kepada anda bisa bisa arbian hari ini hilang di telan bumi dan mayat nya tidak akan di temukan lagi.


“Nyonya jangan begitu, saya bercanda saya tidak tahu jika itu anda big bos,”ucap arbian mengatakan itu sambil cengegesan.


“Habis nya anda datang seperti hantu saja,”


Jawab arbian sekali lagi, sadam yang mendengar jawaban sahabat nya yang gamblang itu kembali menepuk jidat nya arbian selalu saja berkata terlebih dahulu baru berpikir dia tidak tahu jika Sam akan marah mendengar jawaban nya yang seperti itu.


“Hantu? Kau mengatai ku hantu?”tanya Sam dingin.


‘Nah loh kan bikin marah si big bos aja ini biji *****,’ batin Sadam dengan kesal kepada sahabat nya itu.


“Tidak mungkin apa anda merasa?”tanya arbian sekali lagi.


Ayolah arbian jangan membanting emosi Sam, pria itu yang memang sudah lelah dengan arbian yang banyak cakap itu melempar sebuah dokumen berisi sebuah biodata seseorang di sana.


Lemparan dokumen yang tebal nya beberapa halaman itu terdengar nyaring di telinga arbian, pria itu tampak melihat kertas yang ada di meja nya itu.


“Apa ini big bos?”tanya arbian.


“Apa kau tidak liat itu kertas bos arbian,”jawab Jastin yang selalu berada di dekat Lenka itu.


Arbian tampak berdecak mendengar penuturan bawahan nya itu dia menatap Jastin dengan tajam seolah ingin menghantam pria itu dan mengajak nya bergulat sekarang juga.


“Aku tahu ini kertas siaalan maksud ku isi nya apa,”tanya arbian dengan kesal.


“Ya isi nya tulisan lah masih saja nanya,”ucap Jastin kembali.


“Sial bocil sini kau aku bikin kau jadi ayam geprek,”ucap arbian dengan kesal mengatakan itu kepada Jastin.


Tampak Jastin yang merasa ketakutan itu bagaimana pun walaupun dia ahli menembak tetap dia tidak bisa melawan arbian sebagaimana dia menghormati senior nya walaupun itu bercanda. Jastin tampak berlari mendekati Lenka.


“Nyonya bantu saya,”jawab Jastin mengatakan itu.


“Eits arbian jangan mendekat dia babu ku jangan melukai nya,”jawab Lenka mengatakan itu.


Jastin berbangga diri karena lenka membela nya tapi dia bingung harus senang atau kesal karena Lenka mengatakan jika dia babu nya Jastin tampak memberikan senyum mengembang nya.


“Wleee,”


Ejek Jastin di belakang Lenka sedangkan arbian hanya mengepalkan tangan nya seolah ingin mengajak pria itu by one dan duet untuk menembak bersama nya di lapangan.


“Bisa ya kau bocil, tapi kau babu haha,”ejek arbian mengatakan itu.


“Biarin babu babu gini kesayangan majikan bos uang nya banyak,”ucap Jastin mengatakan itu.


Perempat sikut muncul di atas kepala arbian ayolah bocil satu ini bisa saja membuat nya selalu kesal saat arbian kembali ingin mendekati Jastin seketika suara sam memecah kan keributan itu.


“Shut up!”


Ucap Samuel dengan lantang seketika semua orang terdiam Jastin tampak berdiri tegak sedang kan arbian kembali ke tempat meja kerja nya dengan tatapan kesal menyayat leher nya dengan tangan seolah mengancam Jastin.


“Bian itu tugas baru untuk mu, lihat itu biodata untuk misi tim pengejar yang baru,”


“Tugas ini go internasional kalian akan melakukan penyeledikan di paris pecah kan tim inti menjadi dua bagian untuk sebagian pergi ke texas,”ucap Samuel mengatakan itu.


Arbian yang tadi nya tidak serius seketika mendengar penjelasan big bos nya dengan jelas dan telaten pria itu tampak membuka dokumen itu dan melihat sebuah foto dua para petinggi dengan pakaian hitam dan sebuah tata di jidat serta di pelipis mata nya.


“Itu tanda di mata mereka adalah tanda dari geng mereka.”


“Kau ingat jika misi berhasil jangan tinggalkan nama aeros sedikit pun di sana. Dan jika salah satu dari kalian mati aku harap buang informasi pribadi kalian dan lenyap dari bumi itu tanpa meninggalkan jejak,”ucap Samuel dengan lantang.


Arbian tampak terdiam dia mengangguk tanda mengerti begitu pun dengan anggota arbian sebagai anggota itu bagaimana pun risiko tim pengejar di aeros lebih tinggi dari pada posisi sadam sebagai informan di aeros.


“Di mengerti,”