SAMUEL

SAMUEL
BAB 64



Seorang gadis cantik yang tinggi semampai itu menarik koper bewarna merah nya itu pelan, koper itu sudah menyamai warna rambut nya saat ini, dengan kacamata hitam yang bertenger di hidung, gadis itu membuka nya pelan lalu menatap bandara yang padat.


"Kenapa takdir ku harus di negara ini, setidaknya susun jadwal pemotretan ku di italia saja,"ketus Agalista.


Bagaimana wanita itu tidak mendengus kesal masalah ini, negara yang menjadi tempat pemotretan nya kali ini adalah negara tempat pria yang dia cintai berada dan pria yang dia benci karena kelakuan nya.


Grep..


Seorang wanita yang seperti nya lebih tua dari pada Agalista menepuk bahu gadis itu di belakang, sontak wanita itu melirik nya malas menatap sang wanita yang tersenyum mengancam.


"Jangan mengeluh, apa kau tahu ini proyek besar untuk dunia model mu Aga,"


"William mengontrak mu untuk jadi brand ambasador produk baru mereka,"


"Jangan pura-pura tidak tahu kalau william adalah perusahaan nomor satu yang menjalankan usaha dalam berbagai bidang,"jelas wanita itu.


Agalista yang merubah wajah kesal dan malas nya seketika menghentakan kaki nya dan memeluk lengan gadis itu manja.


"Ya tapi setidaknya kakak manajer memberitahu ku kan, jangan mendadak dan mengambil keputusan sendiri seperti ini, kau selalu memutuskan nya,"rengek Agalista.


Duk..


Wanita yang dapat diketahui adalah manajer Agalista itu mengetuk kepala wanita itu pelan, dia memasang raut wajah risih kepada Agalista yang berbanding terbalik dengan penampilan nya sering bermanja-manja dan kekanakan.


"Kak sakit,"cemberut Agalista memegang kepala nya.


"Jangan mengeluh model itu harus profesional kau tahu, ini bisa menaikan nama mu lebih tinggi lagi, buat apa aku menjadi manajer mu kalau bukan aku yang menentukan apa yang terbaik untuk mu,"jelas wanita itu berjalan terlebih dahulu memasuki mobil jemputan dari perusahaan.


"Kau tahu! Yang kau pikir terbaik untuk ku, belum tentu itu benar!"teriak Agalista.


"Seperti dia, aku mengira pria itu yang terbaik untuk ku, sampai dia menemukan cinta nya sendiri,"gumam Agalista yang pasrah dan ikut naik mobil ke perusahaan.


Langkah kaki seorang gadis cantik muda memakai jas dokter memasuki ruangan nya, terdapat pasien anak kecil yang sedang berada di ruangan nya tampak tersenyum dan bersemangat.


"Halo Akira, kau seperti nya hari ini sangat gembira?"jelas Lenka duduk dan mengajak anak itu bicara santai dan rileks sambil melihat laporan tentang pasien kecil nya.


"Dokter cantik, akira sudah tidak takut lagi sama Papa dokter, dia baik sama akira, kemarin akira di kasih ini loh,"ucap gadis kecil itu menunjukan boneka unicorn nya.


"Wah benarkan, dokter juga punya loh boneka ini, Akira tahu tidak? Kalau unicorn itu melambangkan kekuatan loh, sama kayak boneka ini, Papa Akira pengen Akira tetap kuat dan semangat,"jelas Lenka menyemangati anak kecil itu.


Cklek..


Pintu ruangan Lenka terbuka menampilkan mama dari sang anak, wanita yang mungkin berkisaran 27 tahunan itu tersenyum ramah.


"Dokter Lenka apa benar Akira sudah baik-baik saja, dia sekarang tidak takut jika melihat sosok pria lagi,"jelas mama Akira mengusap rambut nya pelan.


"Konsultasi terakhir selamat yah Akira, sekarang Akira ga usah kesini lagi,"senyum Lenka mengusap rambut sang gadis kecil.


Lama mereka melakukan konsultasi hingga akhirnya selesai, Lenka memilih keluar ruangan karena diri nya sudah selesai dengan pasien nya hari ini, dengan masih memakai jas dokter nya gadis itu membalas sapaan setiap pasien dokter atau pun perawat yang lewat.


Lenka memesan minuman nya dan duduk di sana menikmati kehidupan kota siang hari yang sedikit bising, tapi suasana kafe yang dapat membangunkan itu, nyaman dan halaman yang tidak gersang membuat para pengunjung betah.


Drt.. drt..


Telpon Lenka berdering menampilkan nama penelpon yang membuat satu alis nya naik, gadis itu langsung mengankat nya.


"Luis ada apa, tumben siang nelpon, lagi tidak sibuk di kantor emang?"tanya gadis itu beruntun menyeruput americano nya.


"Agalista sedang meeting di sini, setelah dia bekerja kau bisa mengajak nya bertemu kan,"jawab Luis dengan mendadak.


Brak..


Lenka yang kaget mengebrak meja sehingga membuat barista atau pun para pengunjung lain menatap nya heran, Lenka langsung meminta maaf dengan senyum canggung.


"Benarkah? Kok bisa, aku akan kesana nanti kak,"balas Lenka dengan semangat.


"Aku sudah bilang, aku ini juga seorang william,"ujar Luis langsung mematikan panggilan itu.


Jika ada yang bertanya kenapa Lenka sangat senang seperti dia sudah mendapat kabar pacar nya jawaban nya hanya satu rasa bersalah, walaupun bukan Lenka yang menuduh Agalista, tapi Samuel menuduh nya membuat gadis itu sedih.


Sedangkan yang di bicarakan saat ini sedang duduk di ruang meeting nya bersama dengan presdir william, manajer serta sekretaris Luis itu.


"Aku heran kenapa william mau mengontrak ku yang bukan model di kenal pasaran luas, apa kau ingin menjatuhkan william sendiri tuan Luis,"ujar Agalista memainkan kursi putar nya tiada henti membuat sang manajer mengeleng kepala.


"Karena Lenka ingin menemui mu,"jawab singkat Luis melihat proposal nya.


"Ck jika masalah bertemu Lenka kau bisa mengantar nya ke sana, tapi kenapa harus mengontrak ku, kaumempermainkan pekerjaan seseorang hah!"teriak Agalista tidak terima.


"Seperti nya Varo william terlalu cepat memutuskan jabatan presdir untuk mu, sehingga kau menyangkut pautkan hal pribadi dengan pekerjaan, apa kau tidak takut dengan keputusan mu yang teledor ini, apalagi ini produk baru kalian,"ketus Agalista.


Wanita itu bukan nya tidak mau bertemu Lenka, tapi presdir william memanggil nya hanya untuk menjadi model adalah alasan kedua, membuat diri nya seperti tidak ada harga diri.


"Kau salah nona, aku bukan teledor, aku memang bisa mengantar Lenka kesana, alasan menemui Lenka adalah yang kedua untuk ku di sini,"


"Apa kau kira presdir sebelumnya memberikan jabatan karena aku belum siap, kau salah aku sangat sempurna dalam hal ini,"


Bruk..


Luis mendorong pelan proposal tentang kontrak serta apa saja yang harus di lakukan Agalista sebagai model perusahaan nya.


"Kau memang tidak terkenal tapi kau beberapa kali pernah mendapatkan penghargaan di acara asing karena bakat mu, kau memang tidak seterkenal itu, tapi tema pemotretan ini sangat cocok untuk mu, dengan sekali pikir, produk ku akan mendapat hasil foto yang layak untuk di tampilkan,"


"Jadi jangan remehkan bakat mu sendiri, baiklah rapat selesai,"ujar Luis meninggalkan ruang meeting itu.


"Wah dia sangat tampan dan pintar bicara, apa Lenka tidak pernah menyukai kakak nya sendiri,"gumam Agalista takjub.