SAMUEL

SAMUEL
BAB 172



Suasana di mansion terlihat sangat kalut, tampak Lukas yang sudah pasrah dengan keputusan kedua orang tua nya sedangkan Lenka yang terus merengek meminta mommy dan daddy nya untuk tidak memisahkan Lukas dari nya.


“Mom Lenka mohon jangan yah, kasihan Lukas,”ucap Lenka merengek menangis sesenggukan layak nya anak kecil.


Sebenarnya rere sangat tidak tega melihat sang putri yang menangis seperti itu tapi apalah daya nya keputusan nya dan varo sudah bulat bagaimana pun Lukas harus menerima pembelajaran yang layak dengan cara bersosialisasi dengan kalangan bawah, tidak ada yang tidak mungkin untuk merubah sikap seorang selagi ada niat dan kemarin.


Lukas yang tidak tega kepada adik nya itu seketika mengehela nafas kasar dan mengusap wajah nya, pria itu seketika berdiri dan mendekati Lenka.


“Sudah enka jangan menangis, aku tidak suka. Kau tahu air mata adalah suatu hal yang aku benci termasuk air mata mommy dan diri mu,”ucap Lukas mengatakan itu.


Lenka mendongkak kan wajah nya menatap sang kakak bibibir nya di manyunkan ke depan layak nya anak kecil, gadis itu berdiri di depan Lukas yang lebih tinggi dari nya. Lukas mengusap air mata sang adik dan mencubit pipi nya layak nya seperti mereka kecil dahulu.


Grup…


“Sudah jangan merengek ya walaupun ini berat tidak masalah, jangan menangis lagi atau luis dan Leon akan ikut menghukum ku melihat adik kecil yang cantik nya menangis seperti ini,”ucap Lukas memeluk Lenka.


Varo dan rere saling menatap satu sama lain ayolah ini terasa sangat seperti deja vu, mereka yang dulu nya masih kecil dari belajar merangkak hingga berjalan dari tubuh mungil mereka yang kecil dan sekarang sudah tinggi.


Rere yang membayangkan itu tidak menyangka sama sekali jika dia juga hidup sudah sangat lama di dunia ini, membangun kebahagiaan nya sendiri dengan sang suami. Rere tanpa sadar meneteskan air mata nya.


“Sayang kenapa?”tanya varo khawatir kepada rere.


Suara bariton pria itu tidak pernah berubah di makan usia dan waktu, suara varo selalu menjadi irama penenang bagi rere, lantunan suara berat itu membuat rere yang bukan apa apa menjadi tenang mendengar nya, wanita paruh baya itu menatap varo dan tersenyum manis.


“Tidak apa apa mas, kau tahu aku yang gadis biasa dahulu, bisa menjadi seorang istri kontrak varo William adalah kebahagiaan yang di mulai, aku kira itu adalah malapetaka tapi takdir berkata lain satu persatu pernikahan yang seolah kita buat dalam perjanjian berubah menjadi seperti puzzle yang menyatu membangun kebahagiaan kita sampai sekarang,”


“Cinta ku tidak akan pernah luput di makan usia dan zaman, tidak akan pernah usai kisah kita hingga akhir hayat, aku sungguh mencintai mu setelah ketiadaan keluarga ku kau bagai tiang dalam kehidupan ku, terimakasih tetap mencintai ku sampai sekarang,”ucap rere menangis memeluk varo mengingat masa lalu nya yang kelam.


Varo ikut hanyut dalam perkataan sang istri bagaimana pun perkataan rere bukan lah seolah mengatakan bahwa di satu sisi hanya rere yang beruntung karena dia gadis biasa tapi varo William yang hebat yang tanpa merasakan cinta membutuhkan gadis seperti seorang Regita ananda ini.


“Aku lebih beruntung mendapatkan kau sayang, lebih dari siapa pun,”bisik varo dengan hangat nya memeluk sang istri.


Air mata memang tidak menentramkan tapi gumaman dan percakapan mereka serta emosi dan tatapan mereka menjadi saksi bisu jika perasaan itu benar adanya, Lenka dan Lukas yang mendengar suara tangisan sang mommy seketika melirik ke belakang.


“Ih kenapa kalian pelukan kami juga ikut,”ucap Lenka kepada kedua orang tua nya.


Rere seketika terkekeh dan merentangkan tangan nya kepada Lukas, wanita itu memeluk Lukas begitu pun varo yang memeluk Lenka begitu lah mereka yang saling memeluk sambil terkekeh.


Saat mereka tengah terkekeh sambil berpelukan dan menceritakan hal lucu ketika kecil kedua pria yang tampak baru masuk ke mansion itu seketika berdehem melihat adegan dramatis itu.


Ekhem..


“Apa kalian tidak mengajak kami?”tanya Leon kepada keluarga nya itu.


“Luis Leon! Kalian sudah pulang kerja? Sini sini berpelukan sama sama,”ucap Lenka merentangkan tangan nya.


“Tidak aku sudah berumur 20 an bukan bocah lagi,”ucap luis mengatakan itu dengan tatapan datar nya.


“Ck sini!”tarik Lenka.


Istri Samuel Morgan itu tampak menarik tangan sang kakak dengan paksa agar pria itu ikut berpelukan ayolah sebenarnya luis juga ingin berpelukan tapi ya nama nya gengsi yah jadi tidak mau, luis seketika ikut tersenyum wajah datar yang susu tersenyum itu hanya akan tampak ramah kepada keluarga nya saja.


“Aku merindukan momen ini, begitu pun dengan uncle axel dan yang lain nya, benarkan Lenka?”ucap luis kepada sang adik.


“Hmm kau benar kita memang sering bertemu tapi itu tetap merindukan, masa masa sekolah dan kejadian yang membuat ku bisa menikahi daddy mu adalah skenario yang terbaik di tulis Tuhan untuk ku,”ucap rere terkekeh mengatakan itu.


Mereka tampak bahagia satu sama lain, ayolah untuk kalian yang tidak menyukai kebahagiaan keluarga William untuk sementara menjauh lah dari sini karena keluarga ini sedang tentram tentram.


Setelah adegan drama itu sedikit, mereka tampak berkumpul karena hari masih sore. Lenka yang tadi nya menatap luis dan Leon serta Lukas and daddy yang sedang bermain basket di lapangan samping mansion ketika berpikir aneh menginginkan sesuatu.


“Mom ternyata daddy sangat tampan pantas saja mommy menyukai daddy,”ucap Lenka menatap sang daddy yang sudah tua tapi masih sangat fresh itu.


“Sayang ayolah mommy tidak berpikir tentang ketampanan daddy mu dahulu ketika kita menikah ini sungguh, malah mommy sering kesal dengan daddy mu dan kita sering bertengkar. Tapi kau tahu kan kata orang cinta dan benci hanya beda tipis,”kekeh rere mengingat semua itu.


Lenka tersenyum mengangguk mendengar perkataan sang mommy itu.


“Mom kita sering sering yah seperti ini, aku sangat bahagia melakukan ini begitu pun dengan mereka,”ucap Lenka mengusap perut nya yang terlihat membuncit sedikit.


“Mmmm mom,”lirih Lenka.


“Ya sayang ada apa?”tanya rere memutar wajah nya yang tadi melihat ke lapangan seketika menatap Lenka yang seperti nya menginginkan sesuatu.


“Ingin lihat topeng monyet,”