SAMUEL

SAMUEL
BAB 117



Belum selesai Sadam berbicara seketika pipi nya di gengam paksa, dan sebuah bibir mungil mendarat di bibir nya. Gisel dengan nekat mencium bibir pria itu, membuat Sadam spontan hanya diam karena kaget.


'Kenapa suami hanya diam? Dia menolak ku,' batin Gisel membuka mata nya yang tadi tertutup akibat mencium Sadam mendadak.


Gadis itu hanya diam, begitu pun Sadam yang merasakan kecupan itu sangat sederhana, Gisel sangat tidak bisa melakukan nya. Gadis itu akhirnya melepaskan tangan nya yang memegang pipi Sadam, cium mereka terlepas.


Sadam memang wajah datar, sedangkan Gisel menduduk memainkan jari nya harus menjelaskan apa kepada Sadam gadis itu sangat malu, tapi bukan nya Sadam marah pria itu malah mengejek Gisel.


Tangan Sadam menarik dagu istri nya itu sehingga memaksa nya menatap ke arah diri nya, Sadam menyeringai mengejek. Sedangkan Gisel tidak memahami nya sama sekali.


"Berani sekali kau memulai terlebih dahulu? Dan kau hanya menempelkan bibir mu saja?"


"Apakah kau tidak pernah berciuman sebelum nya, sayang,"bisik Sadam mendekati bibir nya di telinga Gisel.


Helain rambut gadis itu dia salip kan di sebalik daun telinga nya, suara bariton dan hembusan nafas Sadam membuat Gisel menjadi sangat gugup.


"Haruskah aku mengajari mu?"balas Sadam sekali lagi.


Belum ada jawaban sama sekali dari Gisel, suami nya itu sudah mulai beraksi terlebih dahulu dengan menarik Gisel dan mendudukan di pangkuan nya.


Pria itu menahan pinggang kecil Gisel, sebelun menciun istri nya itu Sadam menyeringai kecil melihat Gisel yang seperti kucing ketakutan hingga akhirnya sebuah ciuman mendarat di bibir nya.


Sadam memperdalam ciuman itu, dia mengiigit biibir Gisel sehingga membuat gadis itu terpaksa membuka mulut nya. Sadam yang mendapat akses memberikan luumaatan dan mengabsen setiap isi mulut mereka dengan penuh nikmat membara.


Suara decaapan terdengar jelas karena hasil ciuman mereka yang lumayan terburu-buru, Gisel hanya terus memejamkan mata nya.


'Siaal kenapa istri ku sangat manis,' batin Sadam.


Sadam menikmati ciuman itu tapi beberapa detik setelah memikirkan itu, Sadam yang tadi nya mulai terlena dan menutup mata seketika melepaskan ciuman mereka paksa, kenapa tidak?


Sebuah air membasahi tangan nya yang memegang pipi Gisel yang tadi nya berciuman, pria itu kaget melihat sang istri yang menangis itu entah dia yang menciium terlalu kasar atau apa entahlah.


"Hei kau kenapa?"tanya Sadam dengan heran.


Hiks... hiks..


Gisel terus menangis di atas pangkuan sang suami, Sadam merasa sangat heran kepada situasi itu.


"Apakah aku terlalu mengigit bibir mu kuat?"tanya Sadam dengan heran.


Gadis itu mengeleng kuat, Sadam tentu semakin bingung. Gisel melepaskan lengang nya yang mengalung di leher Sadam lalu berpindah duduk di samping pria itu.


Dengan suara sesegukan Gisel megutarakan apa yang dia rasakan selama ini, dia tidak peduli jika Sadam harus memarahi nya.


"Bisa kah aku bertanya? Bukan kah jika menyukai seseorang itu suatu hal yang menyenang kan dan membahagia kan? Hiks hiks tapi kenapa seperti nya semakin aku menyukai suami, aku semakin sakit,"


"Bukan kah menyukai itu seperti Lenka dan Kak Sam, mereka terlihat sangat mesra dan bahagia kan,"


"Hari ini aku melihat mereka berdua dengan segala kebahagian nya, seperti nya semakin aku melihat rumah tangga mereka yang bahagia, aku semakin yakin seperti nya dari kecil hingga sekarang,"


"Tuhan tidak mengizinkan aku untuk menerima cinta yang tulus, apa suami tidak bisa mencintai ku?"tanya Gisel dengan suara tercekat dan menangis tersedu-sedu.


Jika bersama ku hanya menimbulkan luka, bukan kah pergi adalah alasan yang membuat bahagia. Aku lebih baik menanggung sakit dari pada melihat mu menangis karena diri ku.


Belum sempat Sadam menjawab, Gisel menghampus air mata nya dengan cepat karena mereka sudah sampai di posisi bawah kembali.


"Suami ayo, sudah turun,"senyum gadis itu dengan manis.


Lihat lah di mana raut sedih tadi? Gadis itu sangat pintar dalam memasang topeng untuk diri nya sendiri, Sadam merasa tambah kacau dan gundah akan perasaan nya sendiri.


'Tapi untuk apa Gisel harus menangis? Bukan mah aku mengatakan tidak akan menikah dua kali, jadi dia harus nya tetap senang bukan,' batin Sadam heran.


Ayolah Sadam kau sangat berpikir lambat seperti yang lain jika masalah cinta, siapa gadis yang mau di pertahan kan di sebuah pernikahan jika di dalam pernikahan itu sama sekali tidak ada cinta.


"Wah seru sekali bukan,"ucap Lenka tersenyum senang menunggu giliran Gisel dan Sadam yang keluar setelah mereka.


"Benar Lenka, aku senang,"tawa Gisel dengan gembira.


"Kami pamit dulu, karena sudah gelap, ayo sayang,"ucap Samuel menarik tangan sang istri.


Gisel melambaikan tangan nya kepada Lenka yang tersenyum di tarik Samuel menjauh, gadis itu tertawa melihat Lenka yang malah seperti adik Samuel. Padahal diri nya juga sama tanpa di sadari gadis itu.


"Suami ayo pulang,"ucap Gisel menarik tangan Sadam yang berdiri di belakang.


Tatapan Gisel teralihkan oleh sebuah stan makanan, gadis itu berlari dan membeli makanan itu terlebih dahul. Sadam sangat bingung, perubahan mood Gisel sangat susah dia tebak hingga akhirnya seorang pria menghampiri datang menghampiri Gisel yang memakan cemilan itu sendiri.


Sadam tadi terus menatap dari jauh menunggu sang istri yang makan sambil berjalan.


"Gisel kau mengenal ku?"tanya pria tampan yang baru datang.


"Siapa yah?"tanya Gisel dengan heran tidak mengenal sama sekali pria yang ada di depan nya.


Kedua orang itu terlihat saling mengobrol, Sadam yang memantau dari tadi mulai merasa heran terlebih pria itu tertawa dan mengusap bibir Gisel yang makan tidak bersih dan berantakan.


"Ah jadi kau pernah sekolah di sma itu juga, maaf seperti nya aku lupa hehe,"jawab Gisel mengangguk.


"Tidak apa-apa Gisel, kau semakin cantik saja. Apa kau pergi berkencan hari ini, dengan siapa?"tanya pria itu.


"Aku pergi dengan suami ku, kalau kau dengan siapa?"tanya Gisel basa basi.


Pria itu terlihat kaget mendengar kata suami, Gisel tertawa semua orang pasti menunjukan ekspresi seperti itu.


"Aku kira kau masih single, padahal kau sangat cantik,"ucap pria itu bersiap memegang pinggang ramping Gisel.


Tapi sebelum itu terjadi Sadam sudah datang dan memukul wajah pria itu dengan kuat nya, membuat Gisel kaget.


Bugh...


"Jaga tangan mu siaalan!"