
"Apa anda kehabisan akal untuk mencari uang sehingga mempedulikan kami?"tanya Lenka melipat kedua tangan nya di dada menatap sombong kepada wanita di depan nya.
"Berani sekali kau bicara seperti itu,"geram wanita itu.
"Berani? Tentu aku berani, aku bukan wanita lemah yang bisa kau tindas,"remeh Lenka menatap wanita itu.
Sedangkan Samuel hanya diam menatap istri nya tidak mau ikut campur masalah kedua orang itu, Sam seperti nya menikmati peranan Lenka yang dominan dan mampu membuat ibu nya yang selalu menjilat itu kesal.
"Kau mau uang? Bekerja,"
"Atau mau cara instan, hari ini aku sangat baik padamu,"
"Bersujudlah,"jawab Lenka dengan tatapan datar nya.
Wanita itu yang mendengar kalimat terakhir Lenka seketika merasa kesal, wajah nya menahan malu atas penghinaan gadis yang lebih muda itu. Dengan langkah kesal nya wanita itu melayangkan tangan nya siap menampar Lenka.
Bruk..
Samuel menahan tangan wanita itu dan menghempas kan nya dengan kasar, sedangkan Lenka hanya diam, gadis itu tahu jika Sam akan menghentikan tindakan ibu nya itu.
"Jaga tangan mu atau aku potong, jaga buat kesabaran ku habis, pergi,"tajam Samuel.
Tidak dapat di bantah lagi bukan nya dapat uang tapi malah penghinaan wanita itu pergi dari parkiran rumah sakit itu dengan langkah cepat nya, suara high heals nya mengema menjauh dari sana.
"Kau hebat sayang,"puji Samuel kepada istri nya.
"Apakah kau yakin kita tidak apa apa memperlakukan hal buruk seperti itu By?" tanya Lenka kepada suami nya.
"Jangan mempedulikan hal itu karena aku tidak peduli sama sekali akan masalah hidup nya,"jawab Sam.
Lenka mengerti dia mengangguk dan masuk ke dalam mobil mengikuti langkah sang suami, hari yang sudah menunjukan pukul sembilan malam tidak membuat Sadam terganggu dari tidur nya, pria itu sangat nyenyak hingga akhirnya suara berisik dari dapur menganggu tidur nya.
"Ck deja vu," ketus Sadam mengusap wajah nya kasar.
Pria itu menepuk kasur di samping nya, tidak ada siapa pun di sana. Sadam seketika membuka mata nya cepat mencari sosok sang istri yang tidak ada di seluruh penjuru kamar, Sadam melirik jam dinding yang menunjukan pukul 9 malam.
"Sudah malam ternyata, kebiasaan tidur seperti ini,"gumam Sadam turun dari ranjang.
Langkah nya menuju ke dapur yang terdapat suara berisik, pria itu melihat seorang gadis yang memakai piyama tidur dan memakai apron tengah sibuk mengerakan tangan nya menata makanan yang sudah masak ke piring.
"Aku melihat dia berdiri di sana beberapa hari lalu sebagai orang lain, sekarang dia istri ku,"gumam Sadam yang masih tidak percaya mengusap rambut nya.
Sedangkan Gisel yang sudah dari tadi asik memasak karena dia lapar, terlebih mama dan Rara sedang keluar pamit keluar sebentar. Sebuah tangan kekar terasa jelas melingkar di perut Gisel, gadis itu memutar badan nya sehingga dia berhadapan langsung dengan Sadam yang memeluk nya dari belakang.
"Suami kau sudah bangun? Apa kau lapar? Sudah mandi? Ayo kita makan dulu,"jawab Gisel mengatakan itu kepada Sadam.
Pria itu hanya mengangguk, pria itu mengusap kening Gisel yang meneteskan keringat membuat Gisel hanya heran kenapa akhir akhir ini Sadam sangat jarang mengajak nya bertengkar, pria itu membenarkan ikatan rambut Gisel agar tidak mengenai makanan.
"Sudah?"tanya Gisel melihat Sadam yang mengikat rambut nya.
"Hmm,"jawab Sadam berjalan meninggalkan Gisel dan duduk di meja makan.
Gadis itu mulai menata meja makan, dia mengambil piring untuk Sadam dan mengambilkan nya nasi serta lauk. Jika Gisel tahu ini pernikahan terpaksa, tapi dia tidak mau melakukan hal seperti memasak dengan terpaksa karena sekarang Sadam juga suami nya.
"Sejak kapan bangun?"tanya Sadam di sela-sela makanan nya.
"Setengah jam yang lalu, aku lapar dan memasak untuk yang lain, tapi mama dan Rara belum kembali,"jawab Gisel memperlihat kan pesan sms yang di kirim mama Adelia di ponsel nya.
"Kenapa kau terus menatap ku? Aku jadi kenyang,"kesal Sadam kepada Gisel.
"Setidaknya katakan apa masakan ku enak, apa suami suka? Atau tidak, yang mana suami lebih suka,"jawab gadis itu tidak berhenti bertanya.
Hah seperti nya tinggal dengan Gisel akan memenuhi hari hari nya dengan segala pertanyaan Gisel yang bertumpuk Sadam menghela nafas nya.
"Jika kau terus bertanya aku tidak akan makan lagi,"jawab Sadam.
"Jangan mubazir, makan ayo, aku diam,"jawab Gisel langsung menurut dan memakan makanan nya dengan lahap.
Sesekali tanpa Gisel sadari Sadam terus melirik istri kecil nya itu, pria itu makan dengan perlahan dan menyelesaikan makanan nya. Sadam yang sudah selesai hanya fokus kepada Gisel yang makan dengan lahap.
"Kau makan banyak apa tidak takut gendut?"tanya Sadam pelan.
Gisel yang mendengar suami nya membuka pembicaraan mengunyah terlebih dahulu makanan nya dan menjawab pertanyaan pria itu.
"Benarkah? Aku selalu makan porsi ini, karena di rumah kakak dan mama kadang hanya makan sedikit, jadi aku makan sisa nya agar tidak mubazir,"jawab gadis itu polos.
"Seperti nya kau tidak mempedulikan tentang hal itu,"jawab Sadam datar.
Gisel hanya diam tidak mengerti, pria itu mengulurkan tangan nya mengusap tepian bibir merah merekah yang meninggalkan bekas remahan makanan yang tertinggal karena Gisel makan dengan berantakan.
Sadam mengusap bibir itu pelan diam menatap bibir yang menghipnotis nya itu, Gisel yang heran dan bingung mulai berpikir jahil dia menjil@t jari pria itu membuat Sadam kaget.
"Apa yang kau lakukan!"teriak Sadam kaget merasa kesal.
"Ahaha habis nya suami diam, aku takut kau kemasukan. Jadi aku hanya mengetes,"ucap Gisel tertawa mengatakan itu.
Gisel mengatakan hal itu tanpa mengetahui otak kotor suami nya yang berputar memikirkan segala kemungkinan, lidah panas itu bagaimana jika mereka membelit satu sama lain, atau jika dia menjil@ti milik nya.
Bruk...
Sadam mengebrak meja dengan kasar sehingga membuat Gisel seketika kaget.
"Si@l apa yang aku pikirkan,"umpat Sadam mengeram frustasi.
"Suami kau baik-baik saja?"tanya Gisel melihat Sadam yang tiba-tiba emosi itu.
"Lain kali jangan lakukan seperti itu, lidah mu bau!"kesal Sadam kepada Gisel.
Saat Sadam tengah mengatakan itu mama dan Rara datang menuju makan dan menyapa kedua orang itu.
"Wah ada kerang,"teriak Rara senang.
"Aku pergi,"jawab Sadam berjalan menuju kamar nya.
Sedangkan Adelia yang melihat putra nya dengan memasang wajah frustasi itu merasa heran, dia menatap Gisel yang menghembuskan nafas nya terus menerus.
"Ada apa dengan suami mu sayang?"tanya Adelia.
"Mama, seperti nya suami ku marah. Aku tidak sengaja menjil@t jari nya, mungkin air ludah ku bau jadi dia marah mengatakan itu,"jawab Gisel dengan wajah polos nya.
"Ahaha benarkah? Biarkan saja sayang, lanjutkan makanan mu ayo,"jawab Adelia mengeleng mendengar jawaban Gisel.