
Samuel yang mendengar teriakan sang kekasih seketika kaget dan melirik nya dengan kening berkerut, gadis itu tampak berbicara di telpon dengan seseorang.
"Gisel jangan menangis, nanti Aku akan membantu mencarikan mobil mu, tunggu lah di sana, Aku akan menjemputmu ok,"ucap Lenka menenangkan gadis itu.
Daddy Gisel adalah tipe pria keras kepada anak nya, jika Gisel melakukan kesalahan tidak dapat di bayangkan lagi sahabat nya itu keesokan hari nya pasti akan mendapatkan luka lebam di sekujur tubuh manis nya.
"Iya Lenka,"ujar gadis itu lirih melirik kanan dan kiri mana tahu mobil nya masih ada di sana.
Tut..
Lenka memutuskan panggilan telepon, dan orang yang dia tuju terlebih dahulu adalah Samuel yang sedang memeluk nya, gadis itu mencubit pinggang six pack Samuel dengan kuat.
Gyut..
"Sayang apa yang kau lakukan,"tanya Samuel menghentikan cubitan Lenka.
"Itu hukuman mu, cepat suruh bawahan mu mencari mobil Gisel,"
"Dia semalam tidak pulang, dan katanya malah tidur di rumah orang, apa kau menyuruh bawahan mu dengan benar, sahabat ku sampai menangis gara-gara kehilangan mobil nya,"ujar Lenka menatap Samuel kesal.
Pria itu memutar otak mencerna siapa Gisel yang Lenka maksud, karena Samuel tipe pria yang tidak mengingat orang sekitar nya, dia hanya mengingat orang terpenting bagi nya.
"Gisel?"
"Maksudmu gadis semalam yang sering bersama mu,"tanya Samuel dengan wajah polos nya tidak memikirkan kekesalan Lenka yang sudah memuncak.
Gyut..
Lenka menarik pipi pria itu gemas saking kesal nya, dia tidak terlalu tega mencubit Samuel lebih dari itu.
"Iya sayang ku! Aku akan menjemput nya, pekerjaan mu tidak becus, untung saja teman ku tidak menelpon ku menangis sambil mengatakan ada yang membawa nya ke hotel, kalau tidak Aku sudah memotong milik mu tuan Morgan,"ancam Lenka melirik bawahan Samuel dengan mata tajam nya.
Glek..
Pria itu seketika menelan ludah nya kasar, dan menutupi bagian bawah nya itu cepat karena tatapan Lenka yang sangat serius membuat nya ngeri kehilangan keperkasaan nya itu.
"Sayang ayolah Aku jadi ngilu mendengar nya,"rengek Samuel dengan manja.
"Aku pergi,"ucap Lenka bersiap mengambil tas nya menjemput Gisel.
Grep..
Samuel menahan tangan gadis nya, Lenka masih sakit, mana mau dia melepaskan kekasih nya itu untuk pergi demi kepentingan orang lain, apa guna nya diri nya memiliki kekuasaan jika tidak di gunakan.
"Jangan, kau masih sakit, duduk cantik di sini, Aku akan mengurus nya,"jelas Samuel menahan tangan Lenka.
"Aku percaya, jika kau masih salah, lihat saja,"ancam Lenka tajam menatap Samuel.
"Sayang jangan menatap junior ku seperti itu, dia malah takut,"ujar Samuel mengeluarkan ponsel nya.
Pria itu terlihat menghubungi seseorang, sedangkan yang di hubungi itu sedang menjalankan mobil nya, Sadam yang melihat ponsel nya berdering langsung memasang earphone nya.
Drt.. drt..
"Halo big bos, apa ada perintah?"jawab Sadam menyapa pria itu dengan profesional nya.
"Sadam apa yang kau lakukan hah?!"
"Kau tahu gara-gara ulah mu, Lenka jadi memarahi ku,"
"Kau tahu kesalahan mu!"
Ucap Samuel dengan suara meninggi, beruntung saja Sadam sekarang terhubung lewat telepon, pria itu tidak dapat membayangkan melihat wajah Samuel yang seram itu pasti sedang marah.
Glek..
"Saya akan menjemput teman nona Lenka sekarang bos,"ucap Sadam yang mengerti langsung di mana letak kesalahan nya.
Lenka yang mendengar itu langsung mengambil ponsel Samuel, membiarkan kekasih nya itu yang memberikan tatapan bingung.
"Sadam, bawa Gisel ke apartemen ku sekarang, dalam 10 menit kau tidak sampai, kau tahu konsenkuensi nya ada pada Samuel, dasar tidak becus,"ketus Lenka langsung mematikan panggilan itu.
"Nih,"ucap Lenka memberikan ponsel Samuel kembali ke tangan nya.
Samuel tampak mengedipkan mata nya, melihat kekasih nya yang baru membentak tajam ke informan nya itu, ingin sekali Samuel tertawa.
"Haha sayang, kau sangat pintar membuat bawahan ku takut, hebat, kau memang calon nyonya Morgan yang tepat,"ucap Samuel mengusap kepala sang kekasih layak nya anak kecil.
Plak..
Lenka menepis tangan Samuel kesal, sambil melipat kedua tangan nya di dada dan bersandar di sofa.
"Kau juga sama, sama-sama tidak becus, jangan senang seperti itu,"kesal Lenka ketus kepada Samuel.
"Sayang, kenapa kau malah ikut marah kepada ku,"rengek Samuel memeluk gadis itu manja merasa sedih.
Sedangkan Kevin dan Agalista yang sudah lelah berlari kesana kesini duduk di sofa depan kedua pasangan kekasih itu hanya menatap interaksi mereka, hembusan nafas di rasakan Kevin di tengkuk nya.
"Seperti nya Lenka memang cocok jadi nyonya Morgan kan Kev, lihat saja dia sangat pintar mengintimidasi Samuel sampai seperti itu,"bisik Agalista ke telinga Kevin pelan agar tidak di dengarkan kedua orang itu.
Leher Kevin terasa panas, dan bulu kuduk nya berdiri, merasakan hembusan nafas Agalista yang sangat dekat, membuat pria itu menegang dan kaget atas ulah Agalista.
Brak..
"Menjauh dari ku gadis b0doh, kau bau,"kesal Kevin mendorong Agalista ke ujung sofa.
"Akh Kevin gozila, kau sangat kasar, awas akan Aku bilang kepada Daddy,"ancam Agalista mengusap tangan nya yang terasa sakit.
"Apa salah ku sih, Aku hanya berbisik,"cicit gadis itu cemberut menatap Kevin yang malah membuang muka tanpa mau menatap diri nya sama sekali.
Sadam yang sudah mengetahui posisi Gisel langsung menuju restoran semalam, terlihat seorang gadis memakai dress hitam, rambut di kepang dan kaca bulat nya yang terlihat sangat culun itu, pria itu menghela nafas nya.
"Sudah di marahi Mama pagi-pagi, juga di marahi tuan Sam, dan juga di marahi nona Lenka,"
"Hanya karena gadis culun itu, ayolah pekerjaan ku itu seorang informan Aeros yang di takuti, bukan kuli antar angkut barang,"
Ketus Sadam yang merasa kesal itu, dia turun dari mobil menghampiri gadis yang berjongkok, tanpa menyapa atau apa pun itu, dia langsung menarik tangan si gadis.
Grep..
"Siapa kau, maling hah!"teriak Gisel kesal berusaha melepaskan cengkraman nya.
Sadam memutar wajah nya, menatap Gisel dengan tatapan tajam dan datar nya, membuat gadis itu ketakutan dan mundur beberapa langkah tapi Sadam menahan pinggang gadis itu mendekat.
Grep..
"Setelah kau menumpang di rumah ku, tanpa berterima kasih yang benar, dan sekarang Aku membantu karena utusan nona Lenka, kau malah mengatakan ku maling, di mana sopan santun, ikut Aku atau tidak,"kesal Sadam.
"I i iya,"gugup Gisel berlari menuju mobil Sadam merasa takut.
Sedangkan pria itu mengusap wajah nya kasar merasa telah menakuti seorang gadis kecil.
'Maafkan Aku tuhan, tapi Aku hanya ingin hidup tentram,'