SAMUEL

SAMUEL
BAB 109



"Kenapa Gio?"tanya Gisel dengan wajah heran nya kepada pria yang menatap diri nya bingung.


"Gisel aku kurang tahu, tapi aku dengar tato di leher suami mu ini lambang anggota aeros, dan hanya ketua dari beberapa tim yang memiliki tato seperti ini,"jawab Gio yang juga mendengar rumor seperti itu.


Rumor itu sudah banyak tersebar di ibu kota, aeros memang menyembunyikan identitas mereka. Semenjak aeros di jatuhkan oleh tim javier di kota Roma dahulu.


"Kata ini sangat keramat, kata orang kita tidak bisa menyebut aeros dengan keras atau semua orang akan menatap kita dengan tatapan merinding,"bisik Gio kepada Gisel mendekat.


"Apa itu aeros?"tanya Gisel dengan lugu nya.


Gio seketika menutup mulut gadis itu dengan telapak tangan nya, membuat Gisel kaget terlebih beberapa orang yang lewat seketika berbisik mendengar Gisel menyebut sebuah organisasi mafia itu.


Aeros memang sebuah organisasi mafia, tapi mereka selalu bermain aman tanpa melibatkan warga sipil, mereka juga membuat lawan mereka tidak mau menyentuh warga kota, maka dari itu mereka juga di sebut pelindung.


"Gisel!"teriak Gio kaget celingak celinguk menatap teman yang lama dia jumpai ini.


"Aku juga pernah mendengar nya, aku kira mereka cuman rumor, apa suami mu salah satu ketua divisi di aeros?"bisik Dinda yang juga penasaran.


Gadis itu melepaskan tangan Gio dan menghirup udara dengan sekuat tenaga membuat nya ngos ngosan, lalu Gisel berpikir atas pertanyaan Dinda.


"Aku tidak tahu pekerjaan suami ku, tapi dia bekerja untuk suami sahabat ku, dan suami sahabat ku itu pernah menembak nembak orang, tapi suami ku waktu itu tidak ada di lokasi, mungkin dia bekerja sebagai asisten nya,"jawab Gisel polos.


Plak..


Gio menepuk kening nya pelan, asisten di aeros dan bos aeros tidak memiliki lambang atau tato di bagian mana pun, karena mereka berdua adalah akar aeros dan tidak bisa di ketahui orang identitas nya dengan gamblang. Yang di maksud asisten adalah Kevin.


"Gisel dia bukan asisten, ah sudahlah aku lama-lama merinding membicarakan mereka,"jawab Gio mengusap tangan nya.


"Iya mungkin tato suami mu hanya kebetulan, kita lupakan,"jawab Dinda dengan setuju.


Gadis itu hanya menaikan bahu nya mencuekan perkataan itu, kedua orang itu pamit, Gisel memeluk kedua teman nya itu bergantian tetapi ketika dia ingin memeluk Gio.


Bugh...


Sadam terus memantau interaksi ketiga orang itu peralatan yang terbatas membuat nya tidak bisa mendengar suara dari kamera yang dia retas.


"Harus nya aku berikan kalung itu,"gumam Sadam mengingat kalung yang di bagikan Samuel kepada petinggi aeros.


Sebuah kalung yang sama dengan milik Lenka, kalung itu bisa melacak keberadaan dan meretas suara yang ada di sekitar nya, Samuel berkata kalau suata saat mereka sudah saling memiliki keluarga, mereka harus saling melindungi contoh nya dengan kalung itu untuk istri mereka nanti.


Lama-lama Sadam mulai jengah ketika melihat Gio mendekat kepada Gisel dan berbisik sesekali Gisel terlihat tertawa dan bingung atas obrolan itu, Sadam yang kesal menutup laptop nya kasar dan keluar dari mobil menuju tempat Gisel berada.


Pria itu yang berjalan santai sambil di lihat beberapa mahasiswi hanya mencuekan nya, hingga akhirnya dia yang santai mulai tidak santai karena sang istri akan berpelukan dengan seorang pria.


Bugh..


Sadam menghantam pipi pria itu, pukulan nya memang terasa tapi Sadam tidak memakai seluruh tenaga karena pria itu bisa terpental dan membuat keramaian.


"Argh.."Gisel dan Dinda berteriak karena kaget.


Gyut...


Sebuah cubitan di pipi melayang ke wajah Gisel, gadis itu melihat siapa pria yang baru datang dan malah membuat onar itu.


Gadis itu kaget melihat suami nya yang ada di kampus, Gisel berusaha melepaskan tarikan itu dengan wajah memelas membuat Sadam tidak tega.


"Suami sakit,"rengek Gisel mengengam tangan Sadam agar melepaskan nya.


Sadam melepaskan tarikan itu lalu pandangan nya mengarah kepada pria yang dia pukul, pria itu mengusap ujung bibir nya yang pecah sedangkan Dinda hanya bisa kaget melihat pria yang ada di foto tadi sekarang ada di sini datang tiba-tiba seperti hantu.


"Kau baru datang kenapa memukul ku hah!"teriak Gio tidak terima tapi dengan wajah takut.


"Siapa suruh kau sangat dekat dengan istri ku,"jawab Sadam santai tanpa rasa bersalah.


"Suami! Aku yang memeluk nya, kita kan teman. Jangan marah-marah, minta maaf!"kesal Gisel kepada Sadam meletakan kedua tangan nta di pinggang seperti anak kecil.


Sadam melirik istri nya yang marah, dia mengeleng tidak mau dan bersiap menarik tangan Gisel menjauh dari sana, tapi Gisel malah tidak mau menurut memasang wajah tidak suka.


"Minta maaf atau aku tidak memasak lagi,"kesal Gisel mengancam suami nya itu.


"Aku tidak peduli,"jawab Sadam.


"Suami!!"teriak Gisel dengan wajah kesal memukul dada pria itu.


Pria itu menghela nafas nya jika dia tidak menuruti keinginan Gisel mungkin saja tempat itu akan lebih ramai dari pada sekarang karena mereka fokus dengan Sadam.


"Iya iya,"


"Maafkan aku, lain kali jika kau masih berani memeluk istri ku, aku akan menguluti mu,"ujar Sadam.


Bukan nya minta maaf dengan benar pria itu juga mengancam teman Gisel itu, membuat Gisel merasa malu dan menarik Sadam keluar dari kampus.


"Aku memaaf kan mu, dasar tidak iklas,"gumam Gio.


"Lain kali aku akan memeluk istri mu dan membawa nya pergi!"teriak Gio yang merasa kesal.


Sadam dan Gisel yang sudah berjalan beberapa langkah ketika berhenti, karena Sadam emosi mendengar penuturan pria itu, Sadam bersiap berbalik dan menghajar pria itu.


"Si@lan, sini kau!"teriak Sadam ingin memukul pria itu.


Gio dan Dinda kaget dan memilih mundur karena takut, untung saja Gisel menahan cepat tangan suami nya itu agar tidak lepas kendali.


"Suami sudahlah!"teriak Gisel menahan pria itu.


"B@ngsat itu, dia menantang ku tapi juga ketakutan,"kesal Sadam.


"Biarkan saja dia bercanda, kau tidak ada humor sama sekali, ayo,"kesal Gisel menarik tangan suami nya dengan kuat seperti anak kecil yang menarik tangan kakak nya untuk pergi ke toko ingin membeli permen.


"Jika tidak ada kau, pria itu sudah ku beri ukiran,"kesal Sadam mengikuti langkah kaki kecil Gisel yang menarik nya keluar kampus.


Gisel hanya mengeleng melihat pria yang emosian itu.


"Kau tidak mencintai ku, tapi juga tidak suka aku dekat pria lain,"ucap Gisel kesal.


"Tidak ada definisi nya jika aku tidak mencintai mu, jadi aku bebas membiarkan istri ku dekat dengan pria lain, aku tidak suka milik ku di sentuh!"