
Cklek..
Samuel membuka pintu kamar Lenka perlahan, dia berusaha menarik nafas nya dalam-dalam, menenangkan pikiran nya agar tidak memikirkan h aneh-aneh, jika ada yang bertanya kenapa Samuel tidak gemetaran melihat darah musuh nya ketika Dia di ekseskusi?
Jawaban nya cuman satu, balas dendam. Perasaan itu amat sangat kuat di hati nya, siapa pun yang dia anggap musuh, sekali orang itu Samu buat tidak berbentuk dengan tangan nya sendiri, dia tidak akan gentar.
Tapi satu hal yang tidak bisa Samuel ulangi lagi, melihat orang yang dia sayangi terskiti, setelah di dunia ini Samuel hanya memiliki Daddy nya, dan kejadian malam itu sangat amat membekas di benak nya.
Dan sekarang Lenka, sungguh Dia sangat takut mendengar apapun hal buruk jika berkaitan dengan kekasih nya itu, entah kenapa bayangan saat Samuel berumur tujuh tahun seolah-olah terjadi pada Lenka, orang yang diia sayangi akan pergi.
Srek..
Samuel duduk di tepi kasur Lenka mengusap helain kening rambut gadis itu dengan tatapan datar dan sendu secara bersamaan, helain rambut yang menutupi kening bekas luka itu Samuel kecup pelan.
"Maaf,"
"Maafkan Aku tidak bisa menjaga mu Lenka,"
Gumam Samuel mengengam tangan mungil sang kekasih dengan lembut, tatapan nya amat sendu, entah kenapa jika dia yang bertanya, apa dia benar-benar mencintai Lenka, pria itu mungkin akan menjawab maybe Samuel sangat mencintai Lenka tanpa dia sadari cinta nya kian semakin dalam.
Cklek...
Pintu terbuka pelan menampilkan Rere dan Varo yang masuk berdua, mereka melihat Samuel yang tampak sangat perhatian kepada anak mereka.
"Bagaimana Sam, apa Enka sudah bangun,"tanya Rere ikut duduk di sisi ranjang yang lain nya bersama Samuel.
"Belum kak, apa Dia akan baik-baik saja?"gumam Samuel dengan lirih.
"Tenang lah Sam, Dia baik-baik saja, Dokter sudah memberitahu tadi,"balas Rere kepada pria itu.
Badan saja besar dan berotot serta wajah garang dan tampilan yang jutek, jika sudah menghadapi situasi saat kekasih nya dalam keadaan seperti itu, hati nya sangat melunak dan ikut khawatir.
'Aku jadi mengingat diriku ketika Rere pernah dalam posisi seperti ini,' batin Varo mengingat kisah mereka dahulu.
Meski pun Varo di kenal dingin dan berwajah datar, jika sudah menyangkut Rere Dia juga sangat khawatir seperti yang di alami Samuel.
S****...
Lenka samar-samar mendengar suara obrolan seseorang, kepala nya terasa sakit walaupun itu tidak terlalu, Dia membuka pelan mata nya melihat diri nya di apit oleh Rere di sisi kiri dan Samuel di sisi kanan saling berbincang, sedangkan Daddy nya fokus kepada Mommy nya.
"Mom, Dad,"gumam Lenka yang terbangun itu terlebih dulu mencari keberadaan orang tua nya.
"Lenka kau sudah sadar nak,"ucap Rere dengan senang.
Samuel membantu Lenka untuk bersandar di sisi tempat tidur, gadis itu tersenyum membalas wajah kekhwatiran sang kekasih.
"Aku baik-baik saja, jangan memasang wajah kasihan, ini hanya luka kecil,"balas Lenka agar Samuel juga mengerti.
Gadis itu celingak celinguk menatap kanan dan kiri mencari abang kembar nya yang tidak terlihat, lalu dia melirik orang tua nya yang menatap diri nya.
"Mom, Dad sebenarnya Lenka dan Sam,"
"Sudah Mommy dan Daddy tahu sayang, sangat tahu dari pada dirimu sendiri,"
"Kami tidak pernah melarang hubungan kalian sama sekali, selagi kau melakukan hubungan asmara yang normal, masalah umur kalian, kami tidak mempermasalah kan nya juga,"
"Anak Daddy jangan memasang raut wajah seperti itu, Daddy lebih kenal siapa Samuel dari pada diri mu,"
"Walaupun Dia kadang iseng atau melakukan hal buruk, Dia punya alasan sendiri, tapi untuk seorang wanita Daddy tahu kalau Dia tidak akan menyakiti mu,"
'Karena Aku pernah melihat nya dahulu, saat Dia mencari tahu siapa Mommy nya Dia tidak marah sama sekali dan hanya menerima keputusan wanita tua itu,' batin Varo melanjutkan omongan nya.
Gadis itu memeluk orang tua nya merasa lega, tapi satu yang terus membuat hati nya tidak karuan perhatian nya terus melirik kanan dan kiri mencari sosok yang dia cari.
"Luis di mana?"
"Mom apa Luis akan memafaakan ku,"
"Selama ini Dia tidak pernah membentak Lenka seperti itu, Lenka takut Luis sangat tidak suka,"
"Lenka baik-baik saja jika tidak berhubungan dengan Samuel, asal Luis memaafkan Lenka,"
Deg..
Pernyataan itu seketika menohok hati Samuel yang terdiam tadi, seperti nya Dia sudah salah selama ini menanggapi perasaan Lenka, pria itu terlalu melambung tinggi, lalu di jatuhkan seperti ini membuat perasaan nya hancur.
"Jadi maksud mu, kau memilih menyelesaikan nya dengan ku?"gumam Samuel menatap tajam Lenka tanda tidak percaya.
"Bukan seperti itu, kau marah?"tanya Lenka tampak panik karena Samuel sudah salah tanggap atas perkataan nya.
Tidak ada jawaban sama sekali, pria itu hanya terdiam dan memilih berdiri menuju keluar dari kamar Lenka, Mommy Lenka tampak menghela nafas.
"Kau tahu seorang pria itu mudah tersingung atas perkataan gadis yang dia cintai, istilah nya ngambek mode on, kayak Daddy mu dulu,"balas Rere mengeleng mengingat kisah nya.
"Sebaiknya temui Samuel di luar, Luis dan yang lain sudah pulang karena sangat merasa bersalah padamu, Daddy akan menyuruh mereka untuk menemui mu besok di sini,"
"Jangan lupa bujuk Samuel, kami pamit,"
"Kami tahu kalian butuh waktu,"balas Rere dan Varo pergi keluar kamar Lenka dan mengecup kening gadis itu bergantian.
"Ngambek sih gapapa, tapi kalau marah nya bisa-bisa Dia mengigit ku,"gumam Lenka, kirain Samuel anj*ng apa pake gigit.
Di sisi lain seorang gadis cantik memakai kaus dan celana pendek dan rambut yang masih di kepang seperti semalam terbaring nyenyak di kasur king size itu.
"Tante, Gisel belum mau kuliah,"ringis gadis itu merasakan suara alarm ponsel nya yang keras.
Karena Dia yakin yang meyetel alarm di ponsel nya adalah Tante nya, gadis itu yang merasa kesal membuka mata nya dan langsung terduduk.
Brak..
"Tante!"rengek Gisel keras sambil melihat sekeliling nya dengan heran.
"Lah ini di mana? Apartemen Lenka perasaan bukan begini, Lenka!"teriak Gisel keluar kamar itu dengan keadaan masih berantak berjalan menyusuri rumah mewah itu.
Deg..
Jantung Gisel berhenti berdetak melihat tiga orang manusia sedang sarapan di meja makan, satu pria, satu wanita paruh baya dan gadis muda seukuran anak SMP seperti nya, membuat Gisel mengucek mata nya beberapa kali.
"Jangan bilang Aku jadi maling, dan bisa masuk ke kamar orang?"