
Tok... tok..
Arbian terus saja mengetuk pintu kamar di samping nya yang sangat berisik, pria itu dapat mendengar suara musik yang keras menembus dinding kamar nya membuat Arbian merasa sangat tertekan.
Cklek..
Pintu terbuka perlahan menampilkan Alisa yang memakai baju tidur yang seperti dress itu, rambut pirang nya menongol mata biru nya bergerak kanan kiri mengintip siapa pengetuk pintu.
"Loh kak Arbian?"tanya Alisa heran membuka pintu lebar.
"Lah jadi yang di samping kamar ku kamu Alisa?"tanya Arbian yang baru menyadari nya.
Gadis itu mengangguk dengan cepat membenarkan perkataan itu, Arbian hanya mengaruk belakang kepala nya malas, kalau Alisa yang menghuni nya, jika dia memarahi gadis itu dia juga yang kena imbas nya.
'Haduh kalau aku marah dia minta bayar baju tadi lagi,' batin Arbian mengingat uang nya yang akan hilang oleh kelakuan nya sendiri.
"Alisa kau sedikit berisik, aku susah tertidur. Tapi sekarang tidak apa-apa aku akan pergi saja nikmati musik mu,"jawab Arbian berlalu masuk ke kamar nya.
"Mau kemana kak? Aku ikut, gabut soal nya,"teriak Alisa keras.
Pria itu hanya mengeleng menolak permintaan Alisa membuat sang gadis hanya mendengus kesal karena di tolak, Arbian masuk ke kamar hotel nya dan memilih setelan ala pria yang modelan stylean kekinian, memakai celana jeans di padukan dengan atasan kemeja hitam dan dua kancing yang di buka.
Satu hal yang paling penting bagi pria adalah tetap wangi dalam kondisi apa pun, Arbian menyemprotkan parfum nya. Lalu tidak lupa kemeja nya di berikan outer luar menggunakan mantel hitam panjang berbahan kain itu panjang hingga ke bagian paha.
Ya style ala korea gitu deh, Arbian menghela nafas seperti nya malam ini dia harus menghabis kan kembali uang nya untuk bersenang-senang.
Drap.. drap..
"Padahal rencana nya mau balik besok, males nungguin pria pria beristri,"gumam Arbian mendengus kesal melewati lorong hotel yang sepi.
Tanpa dia sadari seorang gadis tengah mengendap dan mengikuti langkah nya, Arbian menuju parkiran hotel mengambil mobil, dengan gerakan cepat Alisa masuk ke kursi penumpang.
Brak...
"Suara apa?"tanya Arbian heran kembali membuka pintu dan mencek suasana parkiran hotel yang sepi.
Pria itu hanya menaikan bahu nya malas lalu melangkah kan kaki nya kembali masuk ke dalam mobil, lama perjalanan saat di tengah perjalanan menuju club malam seketika suara gadis mengkageti Arbian.
"Dor! Kak Arbian!"teriak Alisa tersenyum pindah ke kursi depan.
"Alisa kau diam diam masuk ke mobil ku?"tanya Arbian kaget.
"Hehe iya habis nya kakak ga izinin sih, Alisa kan juga mau ikut healing bareng kakak,"cemberut gadis itu.
Arbian yang mendengar alasan recehan Alisa seketika mengusap wajah nya kasar, mau putar balik tapi tempat nya jauh dan mereka akan sampai, lalu tidak mungkin dia meningalkan anak tuan Arnolda di jalan.
"Aku ke club malam! Kau seharus nya tidak ikut, hah,"dengus Arbian kesal melirik Alisa.
"Apa? Club malam? Alisa juga mau kesana, kan belum pernah kesana, cuman lihat di status teman-teman Alisa mereka clubbing an,"jawab gadis itu lucu memainkan jari nya sambil tersenyum.
'Apa? Tampang saja bule hati kek anak anak +62 yang di kekang emak nya,' batin Arbian heran.
Ayolah Arbian apa kau lupa jika Alisa asli orang indonesia, dia hanya memiliki darah campuran maka nya dia seperti itu, Arbian sama sekali tidak mengerti dasar.
Gadis itu hanya cemberut mendengar penjelasan Arbian kepada nya, dan Arbian juga seperti nya malam ini tidak bisa bermain dengan para jaalang nya itu karena dia tidak bisa berlama-lama.
Dan untuk menyapa teman-teman nya? Itu harus dia lakukan karena Arbian sudah memberitahu kepada semua orang jika dia akan datang mentraktir minuman, dia juga pasti tidak enak malah mengundur acara.
'Hah seperti nya aku tidak akan dapat asupan malam ini,' batin Arbian mendengus.
"Kenapa sih ga boleh? Cuman lihat doang kak, pelit ih,"ucap Alisa yang malah ngotot dengan tingkah nya.
"Jika kau menolak aku akan menurun kan mu di sini,"ancam Arbian kepada gadis itu.
Gadis itu hanya membuang wajah nya dan melipat kedua tangan nya di dada menatap jalanan kota Roma di malam hari, padahal dia berharap agar mencobakan healing ala Arbian, tapi dia malah di kurung di dalam mobil.
"Nanti aku bosan bagaimana?"tanya Alisa kesal.
"Pakai ponsel ku main game,"jawab Arbian memberikan ponsel nya.
"Ck, yasudah,"kesal Alisa yang sudah mulai pasrah.
Tidak lama dari itu akhirnya mobil Arbian sampai di sebuah club malam, pria itu turun dari mobil sebelum turun Arbian terus memperingati Alisa tentang kelakuan nya.
"Ingat! Jangan keluar sampai aku kembali, nanti kau ilang, aku mendengar nya dari Aska, dia bilang kau buta arah!"tegas Arbian.
"Iya iya sana, bawel banget sih, sendiri nya udah kayak daddy aja deh,"ketus Alisa menutup pintu tempat Arbian keluar dan berdiri dengan kasar nya.
Arbian hanya mengeleng dan melangkah kan kaki nya masuk ke dalam club malam itu, Arbian mendengar suara musik yang keras dan berisik sudah menjadi makanan sehari hari nya.
Lampu yang berkelap kelip membuat kepala siapa pun merasa sakit ketika melihat nya, tapi lagi-lagi Arbian itu adalah hal biasa.
Drap.. drap...
Belum sampai Arbian melangkah kan kaki nya dia sudah di sapa para wanita pekerja club malam itu dengan antusias.
"Arbian!! Kemana saja kamu, aku kangen ih,"goda salah satu perempuan itu.
Plak...
Arbian menepis tangan wanita itu yang mengusap dada bidang di sebalik kemeja hitam nya.
"Jangan menyentuh ku, aku hanya mmeyentuh bukan di sentuh, kau lupa?"kesal Arbian kepada wanita itu.
"Ah iya, jangan marah-marah dong Bian. Mau main ga malam ini, gratis kok soal nya aku yang kangen,"
......................
Arbian Manuel
Atau yang di sapa akrab Bian ini adalah seoramg pria berdarah indonesia amerika, sehingga wajah nya yang dominan asli orang amerika karena sang ayah. Bian berumur 30 tahun, seorang ketua tim divisi pengejar di salah satu jabatan aeros. Walaupun sifat nya yang konyol pria ini paling hebat dalam menyusun rencana perlawanan.
Sifat nya konyol, ceria, humoris tapi tergantung situasi yang dia hadapi. Seorang anak sulung, saat ini Bian hidup sebatang kara dengan kelakuan nya yang bermajalela karena ulah nya sendiri.