
Aiden yang sedang berdiri di balkon dan izin kepada pacar nya untuk merokok mendengar suara seorang gadis yang dia kenal, Aiden tersenyum kecil dan berjalan perlahan mendekati sang adik tanpa di sadari Gisel.
Pria itu berjongkok di depan Gisel yang sedang duduk di kursi itu sendirian, Gisel seketika kaget melihat Aiden yang mendengar itu.
"Kakak sudah bilang jika kau memakai sepatu seperti ini jangan lupa menempelkan ini agar kaki mu tidak terluka,"ucap Aiden melepaskan sepatu Gisel pelan.
Dan benar saja kaki gadis itu terluka karena kebiasaan nya yang sudah di pahami Aiden, Gisel tertawa kecil ketika kakak nya itu selalu menasehati nya.
"Maafkan aku kak, kadang Gisel suka lupa hehe,"ucap gadis itu mengaruk belakang kepala nya.
Pria itu yang selesai memasang nya segera mendongkak wajah nya menatap Gisel yang tersenyum seperti anak kecil, Aiden duduk di samping Gisel dan mengusap kepala sang adik.
"Dengan siapa kau kesini?"tanya Aiden celingak celinguk.
"Dengan suami ku kak, apa kakak tidak menemani kak Athi?"tanya Gisel kepada pria itu.
"Aku sedang merokok tadi nya dan mendengar suara adik ku yang menghela nafas panjang,"ucap Aiden memperlihatkan batang rokok yang sudah mati.
Gisel terlihat mengangguk memahami kalimat sang kakak, mereka sama-sama terdiam tidak ada pembicaraan, Gisel melirik kakak nya yang memang juga jarang bicara.
"Kau tahu? Kenapa keluarga membenci mu?"gumam Aiden mengatakan itu lirih.
Gadis itu diam sementara mendongkak mata nya menatap langit malam yang di hiasi bintang-bintang di balkon sana, gadis itu mengangguk pelan.
"Nostalgia luka lama? Kenapa kakak menanyakan nya,"gumam Gisel meneteskan air mata nya.
"Tapi tanpa luka itu aku tidak akan bertemu dengan mu,"gumam Aiden kepada sang adik.
Gadis itu mengingat semua kejadian masa lalu nya seperti sebuah rekamana vidio yang rusak satu persatu masa lalu nya kembali berputar, hidup di lingkungan yang kotor dan ibu nya yang wanita malam.
Mendapat perlakuan keras dari ibu nya sendiri, dan mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari ayah tiri nya yang selalu bermain tangan. Hingga akhirnya keluarga Kristine membawa nya ke rumah yang juga sama nya seperti neraka tapi jauh lebib baik karena keberadaan Aiden kala itu.
Hiks.. hiks..
"Andai saja aku bukan hasil sebuah kesalahan mungkin saja mama sangat menyanyangi ku saat ini,"gumam Gisel sesegukan mengingat itu.
Aiden memeluk adik nya itu pelan, dari dulu untuk pertama kali bertemu dengan gadis kumuh dan kotor itu entah kenapa membuat nya tertatik.
"Aku tidak pantas memasang nama keluarga kristine kak, maafkan aku,"gumam Gisel dengan suara bergetar nya.
Sadam yang sedang mondar mandir mencari sang istri di ruang utama itu merasa heran dan kesal sendiri, pria itu berjalan menyusuri seluruh ruangan hingga akhirnya dia mendengar sebuah percakapan Gisel dan Aiden.
'Aku yakin Aiden memiliki perasaan khusus, jika dia bukan kakak Gisel sudah aku robek tubuh nya,' batin Sadam mengepal tangan nya.
Pria itu berjalan santai menarik tangan istri mendadak agar pelukan itu terlepas, Gisel seketika meringis kesakitan bukan karena tarikan Sadam yang mendadak tapi karena kaki nya yang sakit karena luka lecet sepatu yang dia pakai.
"Hei kaki istri mu sakit pelan lah sedikit!"ketus Aiden kepada Sadam.
Sadam yang baru menyadari nya seketika melirik kaki Gisel, pria itu dengan kesal berjongkok di depan kaki sang istri dan membuka high heals tidak berguna itu.
"Jika ini hanya menyakiti mu, lebih baik pakai apa yang membuat mu nyaman,"kesal Sadam melempar kedua sepatu itu ke lantai bawah dengan kasar.
"Suami ku, tapi itu kau yang menbelikan nya harga nya sangat mahal, itu bisa di jual orang!"teriak Gisel kaget berlari menatap sepatu itu yang tergelatak di lantai bawah.
"Jangan melihat nya, kau jauh lebih berharga dari sepatu yang menyakitkan itu,"kesal Sadam.
Gadis itu memasang wajah cemberut nya menatap Sadam dengan jalan tertatih tatih karena kaki nya yang sakit, membuat Sadam langsung mengendong nya ala bridle style.
"Kakak ipar kami seperti nya pulang dulu, sampaikan salam untuk pacar mu,"jawab Sadam kepada Aiden yang menatap dia dalam diam.
Kyaaa...
"Suami ku jika kau ingin mengendong beri kode dulu aku kaget,"ucap Gisel mengalungkan lengan nya di leher Sadam.
"Oh ya dan satu lagi, apa tadi? Kau memang tidak pantas menyandang nama kristine itu, karena sekarang aku Sadam indris dan kau nyonya Gisel Indris,"
"Nama mu belakang mu sudah jadi milik keluarga ku, dan tidak akan pernah berganti lagi, ingat urus saja pasangan mu tuan Aiden Kristine,"tajam Sadam berlalu pergi dari sana.
"Kakak kami pamit dulu, maafkan sikap suami ku,"ujar Gisel yang berteriak sambil menjauh karena Sadam tidak memberi nya waktu untuk berbicara dengan Aiden.
Aiden hanya diam mematung dan berdiri di sana menatap adik nya yang kian menjauh, Aiden menghembus nafas nya kasar berusaha tenang.
"Sayang, aku tadi menerima kado dari Gisel,"ucap seorang wanita yang datang.
"Hmm benarkah,"ucap Aiden tersenyum.
Mobil milik Sadam membelah jalanan ibu kota yang sepi tidak ada percakapan kecuali Gisel yang sekali meringis merasa perih, Sadam yang melihat itu seketika mendengus kesal.
"Lain kali jangan memakai sepatu itu lagi, aku tidak akan membeli kan nya lagi,"kesal Sadam.
"Tapi sepatu itu cantik suami ku, kenapa kau tidak suka, aku kan juga jadi cantik memakai nya,"cemberut Gisel yang tidak mau kalah berdebat.
"Jangan melawan! Kalau cantik ya cantik saja, kau pakai apapun tetap jelek,"kesal Sadam mengatakan itu.
'Keras kepala kau jadi terluka kan,' batin Sadam kesal.
Akhirnya mereka hanya diam setelah perdebatan kecil itu mobil Sadam sampai di rumah mereka tepat jam 10 malam lewat, pria itu membuka kan pintu mobil dan mengendong Gisel.
Adelia yang sedang menonton TV dengan Rara seketika kaget melihat itu, apalagi wajah Gisel yang seperti menahan kesakitan.
"Sadam ada apa dengan istri mu,"ucap Adelia.
"Mama tanyakan saja sendiri, menantu mu ini keras kepala, di mana kotak obat nya?"tanya Sadam kepada sang mama.
Wanita itu menujuk kotak P3K lalu menatap sang anak yang memakai obat kepada kaki Gisel yang lecet gadis itu sesekali meringis.
"Sakit suami,"gumam Gisel menyingkirkan tangan Sadam yang mengoleskan betadin.
"Jangan manja, ini ulah mu,"ucap Sadam mencubit pipi gadis itu gemas.
"Mama,"rengek Gisel mengadu.
"Sadam lebih lembut,"kesal Adelia.
"Anak mama aku apa dia sih,"kesal Sadam yang kembali mencubit pipi Gisel melampiaskan kekesalan dan kegemasan nya itu, alhasil Gisel merengek dan Sadam mendapat amukan dari mama nya.