
Hoek.. hoek..
Samuel memuntahkan segala isi perut nya yang bergejolak akibat permainan yang menurut nya mengantar kematian, Lenka tersenyum kecil mengusap punggung kekar pria itu di sebalik kaus nya.
"Astaga suami ku sampai tersiksa,"ucap Lenka memeluk sang suami dengan manja.
"Huhu sayang,"rengek Samuel membalas pelukan itu.
Sadam hanya terus bisa menahan tawa nya melihat Samuel yang seperti anak kecil, bos nya itu sangat berubah tegas di depan anak buah nya. Tapi jika di depan istri kecil nya dia langsung berubah seperti kucing kecil.
"Lain kali jika tidak kuat jangan paksa kan yah, semua orang punya hal yang tidak bisa dia lakukan kok jangan malu ok,"ucap Lenka mengusap rambut Samuel yang memeluk nya manja.
"Iya, aku tidak ingin naik itu lagi,"gumam Samuel dengan wajah tersiksa membuat Lenka sangat tidak tega.
Lain Sadam yang menatap mereka dengan penuh tawa, Gisel menatap Lenka dan Samuel dengan perasaan yang campur aduk, sedih dan juga senang.
'*Apa aku dan suami bisa seperti Lenka dan Kak Sam?'
'Hubungan pernikahan itu apa benar seperti mereka? Lalu kenapa aku dan suami tidak seperti itu?'
'Apa benar suami hanya merasa bersalah dan bertanggung jawab saja kepada ku*?' batin Gisel mengengam ujung baju nya dengan raut wajah tidak dapat di baca.
Pikiran gadis itu sangat kalut, entah kenapa dia juga mendambakan rumah tangga yang seperti Samuel dan Lenka tapi di sisi lain dia juga sadar posisi, Sadam sudah beberapa kali menjelaskan jika dia hanya menjaga Gisel saja sebagai istri nya.
Apa dia terlalu egois? Mengharap kan cinta di pernikahan mereka karena sebuah kesalahan ini, Gisel adalah gadis yang selalu berpikir positif tapi kali ini dia tidak bisa melakukan nya sama sekali.
"Wahana yang wajib di naiki ketika malam hari adalah bianglala, kalau yang itu tidak seram kok by, mau yah?"tanya Lenka membujuk Samuel.
Pria itu mengeleng tidak mau melihat lingkaran besar yang seperti roda dan beberapa gubuk kecil yang mnegantung, di sana mereka akan duduk, walaupun itu berputar lambat entah kenapa Sam tetap takut.
"Ga mau, takut,"bisik Sam.
"Kata nya kalau kita berciuman di sana, mungkin kita akan menjadi pasangan sampai maut memisahkan,"bisik Lenka membujuk.
"Tanpa menaiki itu aku akan tetap mencintai mu, walaupun raga ku sudah tidak ada di dunia, cinta ku tidak akan padam. Karena cinta pertama dan gadis yang pertama dalam hidup ku hanya diri mu,"ucap Samuel dengan tegas mengengam tangan Lenka.
"Bisa banget kak Sam yah,"bisik Gisel kepada suami nya yang sudah bisa diam dan hanya fokus kepada ponsel nya.
"Kau suka?"tanya Sadam menaikan alis nya.
"Entahlah,"gumam Gisel tersenyum kecil.
Lenka menghela nafas lalu mnegusap pipi suami nya gadis itu berbisik suatu hal yang membuat Sam mungkin langsung menyetujui nya.
"Haruskah aku memakai baju baru yang kau belikan itu? Aku akan mencoba nya,"bisik Lenka.
Bruk...
Seketika itu Samuel langsung berdiri dengan semangat mendengar perkataan Lenka, wajah pucat pria itu berubah menjadi sumringah menarik tangan istri nya.
"Ayo, mau naik berapa kali sayang?"tanya Samuel kepada Lenka.
"Dasar otak mesum,"kesal Lenka menghela nafas.
Memang jika di bujuk seperti itu Samuel baru mau mengikuti nya, mereka berempat akhirnya naik biang lala dengan tempat yang berbeda dan saling berpasangan.
"Sayang kenapa kau berdiri? Tetap duduk di sana! Jika kau berdiri kabin ini tidak akan seimbang,"tegas Samuel dengan kaget nya.
"Kenapa kau takut? Ini seimbang sayang, aku ingin duduk di samping mu, jangan takut lihatlah,"ucap Lenka berjalan santai duduk di samping Samuel.
Pria itu menghembus nafas nya dengan kasar, benar kata Lenka tempat ini memang sangat seimbang, gadis itu dengan iseng mencium bibir Samuel membuat pria itu yang ketakutan jadi pikiran nya teralihkan.
"Ada apa?"tanya Samuel dengan heran.
"Tidak, aku menyayangi mu,"senyum Lenka memperlihatkan gigi nya.
"Hmm, aku juga,"bisik Samuel merengkuh pinggang Lenka dan mencium bibir sang istri.
Ayolah pasangan ini sangat romantis di segala tempat, tapi tidak dengan pasangan yang lain, Gisel tersenyum melihat pemandang ke bawah dengan senang, sedangkan Sadam lebih memilih menikmati pemandangan yang ada di depan nya.
"Suami ini sangat indah bukan?"tanya Gisel melirik Sadam.
"Hmm memang indah,"gumam Sadam mengangguk.
Gisel yang ingin melihat posisi di mana kabin mereka pun mengintip ke jendela, dia penasaran apakah mereka sudah sampai di puncak tapi pijakan gadis itu oleng membuat Gisel malah terjatuh.
Bruk...
"Aduh sakit, apa ini sangat besar?"tanya Gisel dengan heran merasakan sesuatu itu.
Hening, tidak ada jawaban sama sekali hingga akhirnya Sadam yang juga kaget mengehempas kan tangan gadis itu, Gisel yang menatap tangan nya mendarat kemana malah malu sendiri.
"Astaga suami maafkan aku, tadi aku memegang anu mu sangat besar, maksud ku bukan, astaga itu kenapa bisa maaf!"teriak Gisel malu menutup wajah nya.
Sadam yang juga malu berusaha menormalkan wajah nya agar tidak terlalu di sadari Gisel.
'Siaalan di pegang saja sudah langsung berdiri,' umpat Sadam.
"Suami maafkan aku, tadi aku tidak sengaja,"ucap Gisel mengintip Sadam yang berpindah duduk di samping nya.
"Lupakan saja, kau pernah melihat nya juga,"ucap Sadam santai padahal dia sudah panas dingin sendiri.
'Apa milik pria memang segitu? Ahaha Gisel kau mesum!' batin gadis itu yang malu karena otak kotor nya.
Tidak ada pembicaraan sama sekali setelah kejadian itu, Gisel melirik Sadam yang hanya fokus pada ponsel nya tanpa menikmati pemandangan itu, sedikit lagi mereka akan sampai di atas tepat biang lala mengarahkan di jam 12.
'Kata orang jika kita berciuman di sini, cinta yang mulai tumbuh akan bermekaran, dan cinta yang sudah bermekaran akan menjadi pasangan setia, harus kah aku mencoba nya?' batin Gisel kepada diri nya.
Gadis itu memainkan jari nya gelisah, Sadam yang merasa heran mengarah kan pandangan nya ke jari Gisel.
"Kau kenapa?"tanya Sadam heran mematikan ponsel nya.
Bukan Sadam tidak peduli dengan Gisel tapi dia juga membuka ponsel karena kerjaan yang dia handle mendadak membuat anak buah nya bertanya.
"Suami jangan marah, aku akan melakukan nya oke?"tanya Gisel dengan tajam.
"Apa mak--"
Cup...