SAMUEL

SAMUEL
BAB 168



Siang ini Lenka yang mendapat Gisel sudah keluar dari RS sangat membuat nya ikut senang karena Sadam sudah memberitahu nya kepada Sam saat itu, hari ini Samuel sudah mulai kembali masuk kerja.


Dan Lenka hanya seorang diri menonton drama china kesukaan nya, tapi ya begitu lah Lenka dia memang memaksa Sam agar tidak selalu menemani nya karena itu terlalu berlebihan.


Drap... drap...


Saat Lenka tengah asik nonton sebuah langkah kaki melewati ruangan itu, seorang pria mengecup kening putri nya lalu kembali mengandeng tangan sang istri.


"Enka serius mom gapapa pergi sama daddy, kamu sendiri loh,"ucap Rere mengkhawatirkan sang putri yang tengah hamil muda.


"Sendiri? Mommy yakin. Itu siapa, nah itu lagi siapa, nah yang di luar juga ngumpet itu siapa."ucap Lenka mengunyah makanan nya sambil menunjuk para bodyguard utusan sang suami yang mengintip dan mengawasi nya.


"Benar sih,"gumam Rere yang merasa kasihan kepada putri nya.


Mungkin Lenka beda dengan diri nya yang dari orang biasa menikahi pria sekelas varo william, pengawasan seperti ini kala itu bagi nya sangat membuat mood nya rusak. Tapi setelah tahu bahwa keluarga william bukan orang sembarangan seiring berjalan nya waktu Rere mulai menerima itu semua.


Apalagi Lenka yang dari kecil sudah di awasi bodyguard nya, hal itu mungkin tidak membuat nya terganggu.


"Ayolah mommy ku yang paling cantik sedunia, Enka mu ini bukan bayi lagi. Lagi pula mommy merindukan nenek bukan? Dan ingin ke rumah lama juga, aku tidak apa-apa, mommy bisa menjenguk dan mengunjungi makam mereka,"ucap Lenka dengan tersenyum manis.


Ah senyuman itu sama persis dengan mendiang ibu nya, Rere mengangguk dan tersenyum mengusap rambut sang putri yang masih dia anggap anak kecil itu.


"Baiklah terimakasih kami pergi dulu,"ucap Rere.


"Dad jaga mommy ku ya,"ancam Lenka dengan tajam.


"Sayang, sebelum kau suruh daddy sudah menjaga mommy mu dengan nyawa daddy sendiri sebagai taruhan nya,"ucap Varo mencium sekilas bibir Rere.


"Iuh, jangan romantis di depan ku sana pergi dad, kalian ini!"kesal Lenka memasang wajah cemberut.


Varo tertawa melihat ekspresi sang putri yang lucu di mata nya, ekspresi itu tidak kian berubah semenjak dia kecil. Akhirnya mereka berdua pamit, dan Lenka yang awal nya kalem tadi akhirnya senyum lebar mengembang di wajah nya.


"Wah asik sendiri,"teriak gadis itu heboh melempar cemilan nya sembarang arah.


Bruk...


Tapi sebelum cemilan itu jatuh, seorang bodyguard sudah menyelamatkan makanan Lenka tersebut. Pria itu lalu berdiri dan memberikan nya lagi.


"Ini nona,"ucap pria itu sopan.


"Wah hampir saja, terimaksih. Kalau tidak selamat cemilan ku, hidup mu juga tidak hehe,"tawa Lenka dengan puas nya.


Glek...


Bodyguard itu menelan saliva nya dengan kasar mendengar perkataan Lenka, dia mengaruk belakang kepala nya yang tidak gatal merasa panik.


"Jangan cemas aku hanya bercanda, satu cemilan ini tidak berharga,"ucap Lenka menarik kembali kata kata nya.


'Bercanda sih bercanda non, tapi kok bikin saya jantungan,' batin pria yang megawasi Lenka dari dekat itu.


Pria itu adalah bawahan dari Arbian di tim pengejar. Pria pendek yang ahli menembak itu di utus menjaga Lenka secara dekat, dia memang sering muncul and nama nya jika kalian penasaran adalah Jastin.


"Hmm sebaiknya apa yang kita lakukan sayang,"ucap Lenka mengusap perut nya yang sudah mulai membuncit.


"Oke sudah di putuskan, Jastin ambil tas ku dan bawa boneka yang ada di kamar aku mau menemui Lukas, ayo!"ucap Lenka melangkah kan kaki nya keluar mansion.


"Nona nona, tunggu. Tapi kita harus meminta izin big bos dulu, atau saya akan di beri lukisan dengan belati kesayangan nya,"ucap Jastin berusaha membujuk Lenka.


Gadis itu tidak menghiraukan sama sekali, perkataan Jastin. Dan terlihat bodo amad dengan masalah yang ada, entah kenapa dia saat ini hanya ingin menemui Lukas.


"Lukas, ponakan mu merindukan mu,"ucap Lenka bergumam masuk ke dalam mobil.


Mobil itu melaju di bawa supir, lalu di samping nya ada Jastin. Dan beberapa mobil yang mendekati mereka di belakang, ya mereka juga para penjaga Lenka.


"Aduh buk bos, yang benar saja."panik Jastin menelpon Samuel.


Drt... drt...


Samuel yang sedang fokus melihat hasil informasi yang di sampaikan bawahan Sadam bersama Arbian itu seketika melirik ponsel nya yang berdering.


"Jastin ada apa?"ucap Samuel langsung mengangkat ponsel itu tanpa salam atau apapun.


"Bos kami ingin ke markas black devil, nona ingin kesana menemui Lukas,"ucap Jastin.


"Kenapa kau mengizinkan nya! Aku sudah bilang jaga dia Jastin,"teriak Samuel kesal.


"Ta--"


Belum sempat Jastin memberi alasan yang benar dan nyata, Lenka seenaknya mengambil ponsel pria itu. Lenka yakin Jastin mengadukan kelakuan nya kepada Samuel.


"Demi anak kita, dia merindukan Lukad. Dadah sayang,"ucap Lenka langsung mematikan ponsel nya.


Tut.. tut...


Ponsel pun mati tanpa salam, Samuel melongo melihat itu. Kata kunci yang selalu di gunakan oleh Lenka yaitu demi anak kita yang membuat Sam sangat susah menolak, tapi kali ini berbeda alasan nya bukan karena Sam tidak mengizinkan Lenka menemui Lukas karena suatu hal.


"Astaga, padahal Luis sudah memberitahu ku. Kenapa Lukas sangat ketagihan melakukan perbuatan jorok itu, maaf Lukas tapi kakak ipar mu tidak bisa menyelamtkan mu, karena singa betina sudah otw kesana,"batin Sam mengeleng.


Ya, Lukas tidak pulang semalam memang benar karena ada urusan di markad aeros, dia juga memberitahu hal itu kepada Lenka. Tapi urusan itu bukan karena hal penting, tapi karena pria itu mengajak wanita ja la ng nya untuk tinggal dan bermain di markas aeros yang memang memiliki ruangan khusus tempat istirahat di sana.


"Sayang kenapa?"tanya seorang wanita yang memeluk pria yang sedang merokok itu.


"Entahlah aku sedikit merasa merinding,"ucap Lukas mengusap tengkuk nya.


Lukas ayolah kau sudah berjanji kepada Lenka agar tidak melakukan perbuatan menjijikan itu, tapi seperti nya Lenka akan sangat marah besar.


Mobil Lenka sampai di markas black devil, dia turun dengan senyum mengembang.


"Jastin stay di sini, aku ingin mencari Lukas sendiri. Lagi pula bawahan Lukas di sini juga mengenal ku jadi jangan mengikuti ku, atau aku jambak rambut mu,"kesal Lenka.


Langkah kaki Lenka terdengar, semua pria berbadan besar seperti seorang kriminal menduduk menyapa Lenka. Langkah itu menuju ruang peristirahatan bos mereka.


"Lukas di dalam bukan?"