
Setelah perkara kecil di mansion William tadi terlewatkan suasana yang tadi nya ramai mulai sepi mansion William yang besar itu mulai sepi oleh aktivitas nya terlihat beberapa penjaga dan bodyguard di sana.
Semua keluarga sudah melaksanakan makan malam begitu pun Samuel dan Lenka, detikan jarum jam terdengar jelas di telinga Lenka. Mata seorang gadis itu berkedip beberapa kali karena merasakan silau lampu ponsel nya yang tadi berdering.
“Hmm jam beberapa,”gumam Lenka dengan pelan mengambil ponsel nya.
Gadis itu terlihat menggeliat kan badan nya dan mengambil ponsel nya menatap jam yang ternyata baru menunjukkan pukul 1 dini hari, ayolah seseorang seperti Lenka pasti pernah terbangun.
Gadis itu terlihat terduduk lalu memutar wajah nya menatap sang suami yang terlihat terlelap sambil masih memeluk pinggang nya dalam posisi duduk itu.
“Main game ah ga bisa Bobo,”bisik Lenka terkekeh.
Terlihat gadis itu membuka ponsel nya dan memainkan sebuah game yang menurut nya memang sangat dia gemari game buah buahan yang memakai koin itu membuat nya kesal karena lebih banyak kalah dari pada menang.
“Ih kalah mulu beli lagi koin nya,”kesal Lenka membeli koin itu dengan banyak.
Ayolah top up di game bagi seorang Lenka adalah hal kecil mungkin saja dia bisa mereqeuest untuk membuat kan game versi diri nya jika Lenka mau, suara game itu terdengar di suasana malam yang sepi itu.
Sst sst sst
Begitu lah kira kira suara fruit game itu, Lenka terus menikmati game nya itu hingga akhirnya dia meletak ponsel nya kembali karena sudah bosan.
“Ih game nya banyak buah buahan pengen makan buah jadi nya,”gumam Lenka.
Gadis itu terlihat terdiam beberapa saat hingga perut nya terus memberontak ingin makan buah detik ini juga, yang mana mau tidak mau lenk membangun kan sang suami.
“Sayang sayang,”
“Bangun sayang,”
“Sayangggg,”
Ucap Lenka setengah merengek Samuel yang sedang menikmati tidur nya itu seketika langsung terbangun, dengan berat mata nya Samuel langsung duduk menatap Lenka yang sudah duduk.
“Hmm ada apa sayang?”tanya Samuel dengan pelan.
Ayolah suara serak itu pasti siapa pun tahu suara bariton khas orang bangun tidur itu terdengar sangat sexy di telinga Lenka tapi ayolah dia tidak bisa kagum sekarang karena dia ingin makan buah detik ini juga!
“Mau buah mangga,”bisik Lenka pelan.
“Hmm baiklah aku akan membeli kan nya kau mau aku yang belikan sendiri bukan?”tanya Samuel bersiap turun dari kasur.
Belum sempat sang suami turun dari kasur lenka terlihat sudah terlebih dahulu menahan tangan kekar sang suami, gadis itu terlihat memberhentikan langkah Samuel yang ingin bersiap pergi.
“Ada apa sayang? Kau ingin cepat kan? Jadi tunggu ya aku beli kan,”jawab Samuel mengatakan itu.
“Tidak,”jawab lenka mengeleng kuat dan mengeleng.
Samuel terlihat menaikan alis nya merasa heran, pria itu yang tadi nya berdiri kembali duduk di atas kasur merasa heran dengan pertanyaan sang istri yang berubah rubah itu.
“Lah terus apa dong?”tanya Samuel mengatakan itu.
Pria itu sangat sabar dalam menghadapi mood lenk yang cepat berubah itu, lenka terlihat melepaskan gengaman nya lalu terlihat memainkan jari nya seolah berpikir jika dia ingin mengatakan sesuatu.
“Ummm aku mau mangga di taman mansion, di taman bunga mommy,”bisik lenka dengan pelan.
Lenka yang merasa kesal memanyunkan bibir nya padahal dia sudah sangat jelas mengatakan keinginan nya saat ini, gadis itu turun dari kasur.
“Aku mau mangga yang ada di pohon di dekat taman bunga mommy di samping mansion sayang!”jawab lenka dengan kesal.
Pria itu seketika melongo, tidak ada jawaban sama sekali dari seorang Samuel. Ayolah istri makin ke sini semakin sangat bertingkah ini jam satu loh kok bisa bisa nya menyuruh Samuel memetikan mangga di malam hari.
“Sayang yang benar saja ini sudah tengah malam,”jawab Samuel mengatakan itu dengan wajah panik.
Gadis itu seketika terdiam tidak ada jawaban dia hanya menduduk hingga suara isakan tangis terdengar di telinga Samuel ayolah Samuel paham ini lenka kembali dengan mode manja nya dan mengeluarkan jurus air mata.
Hiks hiks..
“Padahal si twins yang minta bukan aku,”jawab lenka dengan sedih.
Samuel terlihat menghela nafas nya dengan dalam, pria itu melirik jam dinding yang ada di kamar mereka ayolah dia dapat melihat itu dengan jelas jika itu pukul jam 1 malam bukan 1 siang hari.
“Baiklah aku akan ambilkan tunggu di sini,”jawab Samuel mengatakan itu.
“Tidak mau lihat kamu manjat pokok nya,”jawab lenka dengan antusias.
Suara tangisan tadi berubah dengan suara kekehan dan kekuasaan atas sang suami yang sangat menurut dengan diri nya itu. Lenka dengan lucu mengikuti Samuel yang turun ke bawah.
“Kalian ke sini”,jawab Samuel memanggil bodyguard nya.
“Ya bos,”ucap mereka dengan serentak.
“Ambilkan tangga dan bawa ke taman tempat mangga yang ada di samping mansion aku akan manjat kesana,”jawab Samuel merintah kan itu kepada bawahan nya itu.
“Hah bos kau serius mengambil mangga jam segini?”jawab mereka serempak dengan heran.
“Ambil saja jangan banyak bertanya,”kesal Samuel mengatakan itu.
Ayolah jika dulu sebelum mengenal atau menjadi suami lenka seorang Samuel bangun di tengah malam seperti ini jika tikus nya yang bergerak secara tiba tiba atau target nya yang sudah termakan untuk membuat nya mulai beraksi.
Ya seperti keaktifan nya dia aeros mungkin jika sebelum nya malam nya dia lewatkan untuk membunuh seseorang dan berangkat tengah malam untuk mencari markas musuh sekarang berganti menjadi mencari misi mangga untuk sang istri.
“Ba baik bos,”ucap mereka dengan gugup mendengar Samuel yang marah.
“Sayang ini sudah malam banyak nyamuk kau tunggu saja ya. Di dalam,”jawab Samuel mengatakan itu.
“Tidak mau. Mau nya lihat kamu sambil manjat aku yang nemenin,”jawab lenka.
“Baiklah ayo,”jawab Samuel mengatak itu.
“Kau ambil selimut untuk nyonya,”jawab Samuel merintah kan.
Setelah beberapa persiapan mereka sudah di taman ya taman jam segini tidak sangat gelap seperti di hutan ayolah ini taman mansion William setiap Sudut nya memiliki lampu taman yang menerangi jalan.
“Aku ambil dulu, kalian berdiri di samping nyonya jangan sampai istri ku lecet sedikit pun atau kalian yang akan menjadi lebih parah,”ucap Samuel.
Bawahan Samuel tampak mengangguk pria itu menatap pohon manga yang di atas nya gelap itu.
‘Huft demi anak,’